Kisah Sadako Sasaki Menggerakkan Anak-Anak Filipina Melipat Burung Origami untuk Perdamaian
Baca dalam 60 detik
- Lebih dari seribu burung origami dibuat oleh anak-anak di Quezon City, Filipina, terinspirasi kisah Sadako Sasaki, korban bom atom Hiroshima.
- Inisiatif ini digagas pastor Robert Reyes sebagai respons atas konflik global, termasuk serangan AS-Israel ke Iran, dan mendapat dukungan utusan Vatikan.
- Gerakan ini diharapkan menjadi suara anak-anak yang mampu memengaruhi kebijakan perdamaian dunia, dengan rencana perluasan ke berbagai paroki di Filipina.

Kisah Sadako Sasaki, gadis Jepang yang meninggal akibat leukemia sepuluh tahun setelah terpapar radiasi bom atom Hiroshima 1945, kini menggerakkan anak-anak di Filipina untuk melipat ribuan burung origami sebagai simbol perdamaian. Lebih dari seribu burung kertas warna-warni telah dibuat dalam dua pertemuan yang digelar di sebuah gereja di Quezon City, utara Manila, pada akhir April dan pertengahan Mei lalu. Kegiatan ini digagas oleh pastor Katolik Robert Reyes, yang meyakini bahwa aksi sederhana ini dapat menyuarakan harapan di tengah dunia yang masih dilanda konflik.
Reyes, yang berusia 71 tahun, pertama kali mengenal kisah Sadako saat mengunjungi Taman Peringatan Perdamaian Hiroshima dan Museum Peringatan Perdamaian Hiroshima pada 2024. Ia begitu terkesan sehingga mengangkat kisah tersebut dalam khotbahnya di Filipina. Seorang anak yang mendengarkan khotbah itu kemudian terinspirasi membuat burung origami dan menghadiahkannya kepada Reyes pada Maret lalu. Dari situlah muncul gagasan untuk mengajak anak-anak di parokinya melipat origami sebagai gerakan perdamaian.
Gerakan ini terasa makin relevan setelah serangan AS dan Israel ke Iran dimulai pada Februari lalu. Reyes menilai perang di Iran menimbulkan dampak yang terasa hingga ke Filipina. "Perang di Iran menciptakan guncangan di seluruh dunia. Dan kami merasakannya kuat di sini, di Filipina," ujarnya. Baginya, burung origami adalah cara kreatif untuk menyampaikan pesan perdamaian, dan ia percaya jika semakin banyak anak terlibat, suara mereka bisa menjadi kekuatan yang memengaruhi para pemimpin dunia.
Pada 21 April, sekitar 50 anak berkumpul di gereja untuk memulai kegiatan ini dengan doa bersama. Mereka juga menonton video tentang kehidupan Sadako. Salah satu peserta, Leah Dacume (16), mengaku kisah Sadako sangat menginspirasi. Sementara Anica dela Torre (10) merasa kegiatannya seperti "membantu menghentikan perang". Pada sesi 16 Mei, jumlah peserta membengkak hingga 200 anak, dan mereka kedatangan Uskup Agung Charles Brown, perwakilan Vatikan untuk Manila. Brown berjanji akan mengirimkan sebagian karya mereka kepada Paus Leo XIV di Roma.
Brown, yang baru pertama kali mendengar kisah Sadako dari Reyes, menyebutnya "indah". Dalam sambutannya kepada anak-anak, ia menegaskan, "Ketika perang terjadi, banyak hal buruk menimpa manusia, terutama anak-anak. Kami ingin perang berhenti dan perdamaian terus menyebar ke seluruh dunia." Pernyataan ini menegaskan dukungan Vatikan terhadap upaya perdamaian yang digagas oleh komunitas akar rumput.
Bagi Indonesia, kisah ini menjadi pengingat akan pentingnya pendidikan perdamaian sejak dini. Di tengah berbagai konflik regional dan global, inisiatif seperti ini bisa menjadi model bagi komunitas agama dan sekolah di Indonesia untuk menanamkan nilai-nilai toleransi dan anti-kekerasan. Selain itu, simbol burung origami yang lahir dari tragedi Hiroshima juga relevan dengan semangat Indonesia yang pernah mengalami dampak konflik dan kini berperan aktif dalam misi perdamaian dunia.
Reyes, yang sejak awal karier imamatnya dikenal gemar berlari maraton untuk menyuarakan isu lingkungan dan keadilan, berharap kampanye ini bisa meluas ke paroki dan organisasi anak lainnya di Filipina. "Hiroshima dan Nagasaki harus diingat, terutama sekarang," katanya. Pertanyaannya, mampukah gerakan sederhana ini menembus batas negara dan menginspirasi aksi serupa di Indonesia? Jika anak-anak Filipina bisa melipat harapan dari kertas, mengapa anak-anak Indonesia tidak?



