Desakan Bessent Kunci Kenaikan Suku Bunga BOJ September: Intervensi Yen dan Tekanan Politik
Baca dalam 60 detik
- Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, secara terbuka mendorong BOJ menaikkan suku bunga, memperkuat ekspektasi pasar akan aksi September.
- Intervensi bersama Jepang-AS di pasar valas memberi ruang bagi BOJ, namun memicu kekhawatiran tentang independensi kebijakan moneter Jepang.
- Pertemuan Bessent-Ueda di G20 akhir Agustus menjadi sinyal kuat yang dapat memaksa BOJ bertindak lebih cepat dari perkiraan analis.

Tekanan dari Washington terhadap kebijakan moneter Jepang semakin nyata. Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, secara gamblang mendesak Bank of Japan (BOJ) untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan September mendatang. Sikap ini tidak hanya mengunci ekspektasi pasar, tetapi juga memicu pertanyaan tentang sejauh mana pengaruh asing dalam keputusan domestik Jepang.
Sejak intervensi bersama di pasar valuta asing pekan lalu untuk menyokong yen yang terpuruk, Bessent gencar memanfaatkan panggung media. Ia mempromosikan kerja sama langka ini sebagai kemenangan bagi ekonomi Jepang. Namun, di balik itu, Bessent menegaskan bahwa intervensi tanpa diikuti kenaikan suku bunga hanya akan sia-sia. Ia khawatir pasar menilai BOJ tertinggal dalam memerangi inflasi, yang berisiko mendorong imbal hasil obligasi pemerintah Jepang (JGB) naik dan berdampak pada imbal hasil Treasury AS yang juga sedang meningkat.
Dorongan ini sejalan dengan pandangan internal BOJ yang memang melihat perlunya pengetatan moneter lebih lanjut. Namun, ada kekhawatiran mengenai preseden yang ditetapkan oleh tekanan AS. Kazuo Momma, mantan eksekutif BOJ yang kini menjadi ekonom eksekutif di Mizuho Research Institute, menilai intervensi bersama memberikan keleluasaan bagi BOJ untuk menaikkan suku bunga, tetapi ada konsekuensinya. "Intervensi adalah strategi yang mengulur waktu dan bisa menjadi sia-sia jika tidak diikuti dengan kenaikan suku bunga BOJ," ujarnya. "Fakta bahwa AS ikut dalam intervensi sangat serius. Jika pemerintah Jepang menghalangi BOJ menaikkan suku bunga, itu akan menjadi pengkhianatan terhadap AS."
Undang-undang Jepang memang menjamin independensi bank sentral dari campur tangan politik, namun tetap mengharuskan koordinasi erat dengan kebijakan ekonomi pemerintah. Secara historis, BOJ kerap berada di bawah tekanan politik untuk merespons guncangan eksternal, seperti gejolak nilai tukar yen. Intervensi bersama kali ini tampaknya berhasil memberikan dukungan yang lebih kuat bagi yen dibandingkan aksi unilateral Jepang sebelumnya.
Dalam wawancara dengan NHK, Bessent menyatakan keyakinannya bahwa Gubernur BOJ Kazuo Ueda akan "melakukan yang terbaik" untuk ekonomi Jepang yang sedang dirundung pelemahan yen. Sementara itu, dalam wawancara terpisah dengan CNBC, ia mendesak Jepang untuk melanjutkan intervensi dengan "kebijakan dan fundamental" guna mengatasi undervaluasi yen yang signifikan. "Melalui percakapan kami dengan mereka, kami yakin mereka akan terus menerapkan kebijakan yang tepat yang akan membawa yen kembali ke harga keseimbangan yang lebih normal," kata Bessent.
Pekan lalu, BOJ memang mempertahankan suku bunga, tetapi memberi sinyal kuat akan kenaikan pada September dengan peringatan paling tegas tentang risiko inflasi yang berlebihan. Semua mata kini tertuju pada pertemuan Bessent dengan Ueda di sela-sela pertemuan para menteri keuangan G20 yang digagas AS pada akhir Agustus, yang berlangsung sebelum pertemuan kebijakan BOJ pada 17-18 September. "Mengingat sinyal hawkishnya, jelas BOJ akan menaikkan suku bunga pada September atau Oktober," kata seorang sumber yang mengetahui masalah ini, dan pandangan serupa juga diungkapkan sumber lain. "Jika pertemuan Bessent-Ueda terjadi, akan sangat sulit bagi BOJ untuk menghindari kenaikan suku bunga pada September," tambah sumber ketiga.
Wakil Gubernur BOJ Ryozo Himino dijadwalkan berpidato di Jepang pada 27 Agustus, yang bisa memberikan petunjuk tentang kemungkinan kenaikan suku bunga September. "Mungkin belum ada pandangan kuat di dalam BOJ mengenai waktu kenaikan berikutnya. Tetapi jika ingin menaikkan pada September, mereka perlu memberikan sinyal terlebih dahulu," kata sumber keempat. Sementara itu, Kepala Sekretaris Kabinet Minoru Kihara menolak berkomentar tentang pernyataan Bessent dan menegaskan bahwa instrumen kebijakan moneter diserahkan sepenuhnya kepada BOJ.
Pelemahan yen telah menjadi momok bagi para pembuat kebijakan karena mendorong kenaikan harga impor dan, ditambah dengan kenaikan biaya bahan bakar akibat konflik Timur Tengah, meningkatkan biaya hidup rumah tangga. Waktu kenaikan suku bunga BOJ berikutnya akan memengaruhi persepsi pasar tentang seberapa cepat dan seberapa besar bank sentral akan menaikkan biaya pinjaman di masa depan. Kenaikan pada September, bukan Oktober, dapat memicu spekulasi pasar bahwa BOJ akan menaikkan suku bunga setiap kuartal, bukan sekitar dua kali setahun seperti saat ini.
Ayako Fujita, ekonom kepala Jepang di JPMorgan Securities, menilai BOJ mungkin lebih memilih menunggu hingga Oktober untuk mengkaji lebih dalam dampak ekonomi dari kenaikan suku bunga sebelumnya. "Meskipun BOJ membuka pintu untuk kenaikan September, kemungkinan besar mereka ingin menunggu hingga Oktober untuk meluangkan lebih banyak waktu meneliti dampak ekonomi dari kenaikan suku bunga sebelumnya," katanya. "Kenaikan pada September juga akan menjadikan pertemuan Desember sebagai pertemuan yang hidup, sesuatu yang mungkin tidak disukai pemerintahan Takaichi. Waktu yang tepat akan sangat bergantung pada pergerakan yen."
Bagi Indonesia, dinamika kebijakan moneter Jepang ini patut dicermati. Sebagai salah satu mitra dagang utama dan investor di Asia, perubahan suku bunga BOJ dapat memengaruhi arus modal asing ke pasar keuangan Indonesia. Kenaikan suku bunga yang lebih cepat dari perkiraan dapat memperkuat yen dan berpotensi mengurangi tekanan depresiasi terhadap rupiah, namun juga dapat memicu keluarnya dana dari pasar obligasi negara berkembang. Bank Indonesia perlu mewaspadai dampak rambatan ini dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi.
Ke depan, pertanyaan yang menggantung adalah apakah BOJ akan tunduk pada tekanan eksternal atau tetap berpegang pada kalender kebijakannya sendiri. Jika kenaikan September terjadi, pasar akan melihatnya sebagai bukti bahwa intervensi politik AS berhasil memengaruhi kebijakan moneter Jepang, sebuah preseden yang dapat mengubah lanskap kebijakan di kawasan. Akankah BOJ mampu mempertahankan independensinya di tengah desakan yang semakin kuat?



