Pasar Asia Bangkit: Saham Teknologi Menguat, Harga Minyak Anjlok Imbas Isyarat Damai AS-Iran
Baca dalam 60 detik
- Indeks saham Asia, terutama Seoul, Tokyo, dan Taipei, mencatat kenaikan signifikan seiring kembalinya minat investor ke sektor teknologi setelah aksi jual besar-besaran sebulan terakhir.
- Harga minyak mentah dunia merosot lebih dari 5 persen setelah pemerintah AS mengisyaratkan kesepakatan segera dengan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz, meredakan kekhawatiran inflasi global.
- Pelonggaran ketegangan geopolitik dan ekspektasi suku bunga AS yang lebih rendah menjadi pendorong utama pemulihan pasar, meski investor masih menanti data ketenagakerjaan AS pekan ini.

Pasar saham Asia kembali bergairah pada Rabu (5/8), mengikuti rekor baru di Wall Street, didorong oleh kebangkitan saham teknologi setelah sebulan terpuruk serta optimisme meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Indeks di Seoul melonjak 3,8 persen, Tokyo menguat lebih dari tiga persen, dan Taipei naik 2,9 persen, sementara bursa Hong Kong, Shanghai, Sydney, Wellington, Mumbai, dan Jakarta turut menghijau.
Kenaikan ini menjadi angin segar setelah aksi jual besar-besaran yang melanda sektor teknologi selama empat pekan, dipicu kekhawatiran bahwa reli berbasis kecerdasan buatan (AI) akan berakhir. Kekhawatiran itu pula yang sempat menyeret indeks KOSPI jatuh lebih dari 40 persen dari rekor tertingginya pada Juni, dengan saham raksasa chip seperti SK Hynix dan Samsung ambles hingga 50 persen dari puncaknya.
Kembalinya minat investor tidak lepas dari laporan keuangan yang solid dan proyeksi positif dari raksasa teknologi seperti Amazon, Microsoft, dan Palantir. Sentimen ini berhasil mengalahkan kekhawatiran atas belanja besar-besaran di bidang AI yang belum jelas kapan akan menghasilkan keuntungan. Pada Selasa, ketiga indeks utama Wall Street ditutup menguat, dengan S&P 500 dan Dow mencatat rekor baru, diikuti bursa Paris, Milan, Frankfurt, dan Madrid.
Faktor lain yang menopang reli adalah harapan gencatan senjata antara AS dan Iran setelah berminggu-minggu saling serang. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan kepada CNBC bahwa kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz bisa tercapai "hari ini atau besok". Pernyataan itu langsung memukul harga minyak mentah, yang anjlok lebih dari 5 persen pada Selasa dan terakumulasi turun lebih dari 10 persen pekan ini. Brent dan West Texas Intermediate kembali melemah pada Rabu, dengan WTI sempat menembus ke bawah level US$80 per barel.
Penurunan harga minyak ini meredakan kekhawatiran inflasi dan menekan ekspektasi kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve. Menurut analis City Index, Julian Pineda, komentar para pejabat soal progres negosiasi "berdampak langsung pada kepercayaan pasar". Dengan meredanya ketidakpastian geopolitik, risiko inflasi global menurun, sehingga membuka ruang bagi bank sentral untuk tidak terlalu agresif menaikkan suku bunga. Hal ini pada gilirannya mendorong kembalinya selera risiko investor.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memberikan sinyal positif bagi pasar keuangan domestik. IHSG yang ikut menguat mencerminkan sentimen risk-on di kawasan. Namun, investor perlu mencermati dampak lanjutan dari penurunan harga minyak terhadap anggaran pendapatan negara, mengingat Indonesia masih bergantung pada impor minyak. Di sisi lain, meredanya tekanan inflasi global dapat memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah tanpa harus menaikkan suku bunga secara agresif.
Meski optimisme tengah membuncah, para pelaku pasar tetap waspada. Mereka menantikan rilis data ketenagakerjaan AS pekan ini yang akan menjadi petunjuk arah kebijakan The Fed. Data yang lebih kuat dari perkiraan dapat memicu kembali kekhawatiran inflasi dan mengubah arah pasar. IG Markets menilai "keseimbangan risiko mulai condong ke sisi positif", tetapi pertanyaannya, akankah reli ini bertahan atau hanya sekadar dead cat bounce? Jawabannya akan sangat ditentukan oleh data ekonomi dan perkembangan negosiasi Selat Hormuz dalam beberapa hari ke depan.



