Thailand Gencar Jaring Wisatawan Indonesia: Dua Penerbangan Baru dan Kolaborasi Digital Diteken
Baca dalam 60 detik
- Thailand menargetkan 890.000 kunjungan wisatawan Indonesia pada 2026, dengan tambahan frekuensi penerbangan dan kerja sama platform digital.
- Kesepakatan dengan TransNusa dan Traveloka diharapkan mendongkrak jumlah wisatawan, yang baru mencapai 376.337 orang hingga Juli 2025.
- Fokus pada wisatawan Muslim dan kelas menengah atas menjadi strategi baru Thailand untuk meningkatkan belanja dan lama tinggal.

Pemerintah Thailand menggenjot sektor pariwisata dengan menargetkan hampir satu juta wisatawan asal Indonesia pada tahun depan. Untuk mewujudkan ambisi itu, Otoritas Pariwisata Thailand (TAT) menandatangani nota kesepahaman dengan maskapai TransNusa dan platform perjalanan Traveloka di Jakarta, Selasa (4/8). Langkah ini diambil di tengah kunjungan resmi Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, ke Indonesia.
Kerja sama ini bukan sekadar seremoni. TransNusa dijadwalkan mengoperasikan dua penerbangan harian dari Jakarta ke Bandara Suvarnabhumi, Bangkok, mulai Kamis (6/8). Selain itu, rute langsung yang menghubungkan Bali dan Phuket akan dibuka pada 9 September mendatang. Penambahan rute ini diharapkan mempermudah akses wisatawan Indonesia ke berbagai destinasi Thailand, tidak hanya Bangkok dan Pattaya yang selama ini populer.
Bagi Indonesia, kabar ini menjadi angin segar di tengah persaingan ketat pariwisata regional. Thailand selama ini menjadi salah satu destinasi favorit, dan dengan tambahan konektivitas, arus wisatawan diprediksi meningkat signifikan. Namun, di sisi lain, ini juga menjadi tantangan bagi industri pariwisata domestik untuk bersaing menawarkan daya tarik yang setara.
Kemitraan dengan Traveloka, yang merupakan platform asal Indonesia, menjadi strategi jitu untuk menjangkau wisatawan milenial dan keluarga. Melalui data dan jangkauan digital Traveloka, TAT dapat menyasar segmen wisatawan mandiri (independent traveller) serta wisatawan Muslim. Thailand memang tengah gencar mempromosikan diri sebagai destinasi ramah Muslim, dengan menonjolkan kuliner halal, tempat ibadah, dan fasilitas ramah keluarga.
Selain mengejar kuantitas, Thailand juga menyasar wisatawan dengan pengeluaran tinggi. Layanan jet pribadi TransNusa dinilai dapat menarik segmen premium yang berdampak pada peningkatan pendapatan pariwisata. Ini sejalan dengan tren pariwisata pasca-pandemi yang lebih mengutamakan kualitas daripada kuantitas.
Menurut catatan TAT, hingga akhir Juli tahun ini, sudah ada 376.337 wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Thailand. Angka ini menjadi modal berharga untuk mencapai target akhir tahun. Dengan tambahan konektivitas dan promosi yang lebih terarah, optimisme untuk menembus angka 890.000 kunjungan pada 2026 tampaknya bukan tanpa dasar.
Pertanyaannya, apakah Indonesia akan tinggal diam? Dengan potensi pasar yang besar, sudah saatnya pelaku industri pariwisata Tanah Air berbenah, tidak hanya mengandalkan keindahan alam, tetapi juga infrastruktur dan layanan yang mampu bersaing di kancah regional.



