Pasca Gempa Kumamoto, Kuil Ini Ubah Halaman Jadi Kolam Renang untuk Anak-Anak
Baca dalam 60 detik
- Sebuah kuil di Hikawa, Kumamoto, membuka kolam renang plastik setiap hari bagi anak-anak yang terdampak gempa 28 Juli.
- Inisiatif ini muncul karena liburan musim panas anak-anak berubah menjadi masa pembersihan rumah dan ketakutan akan gempa susulan.
- Kuil juga menyediakan bantuan logistik dan kamar mandi, serta mengajak relawan untuk menjaga keselamatan anak-anak.

Gempa berkekuatan 7 pada skala intensitas Jepang yang mengguncang Kumamoto pada 28 Juli lalu tidak hanya merobohkan bangunan, tetapi juga merampas keceriaan liburan musim panas anak-anak. Di tengah puing-puing dan retakan tanah, sebuah kuil di Kota Hikawa memilih berbuat berbeda: membuka kolam renang plastik di halamannya setiap hari, mengundang tawa dan pekikan gembira yang sempat hilang.
Gonenji, kuil yang terletak di daerah terdampak parah, menjadi oase bagi puluhan anak yang biasanya menghabiskan liburan dengan berwisata atau mengikuti festival musim panas. Kini, aktivitas mereka berubah total menjadi membantu membersihkan rumah yang berantakan atau sekadar menonton televisi di dalam rumah karena khawatir akan gempa susulan. Kepala kuil, Hoshin Nishi, 79 tahun, mengambil keputusan cepat dengan mengeluarkan kolam renang yang semula disiapkan untuk perkemahan anak-anak tahunan dan cucunya sendiri.
"Banyak kuil dan rumah mengalami situasi serupa, bahkan ada yang lebih parah," ujar Nishi, menggambarkan kondisi darurat yang melanda wilayahnya. Padahal, kuil itu sendiri masih berantakan—perabotan berserakan di aula utama dan tempat tinggalnya—dan pembersihan besar-besaran belum dimulai. Namun, Nishi menilai kebahagiaan anak-anak lebih mendesak untuk dipulihkan.
Bagi orang tua seperti Megumi Tosaka, 47 tahun, inisiatif ini adalah penyelamat. Ia harus bekerja pada hari kerja dan biasanya menitipkan anaknya yang berusia 8 tahun kepada kakek-neneknya, tetapi rumah mereka juga rusak. "Tidak ada pilihan selain menguatkan hati, meninggalkan anak, dan pergi bekerja. Di sisi lain, kami para ibu saling bekerja sama menjaga anak-anak. Saya terselamatkan oleh kehangatan orang-orang di pedesaan," tuturnya.
Seorang anak, Yuka Nishi, 10 tahun, mengaku tadinya berencana menonton film bersama teman-teman, tetapi batal akibat gempa. "Kami hanya berpikir, 'tidak apa-apa.' Tapi ini menyenangkan karena bisa berenang setiap hari," katanya sambil tersenyum. Tosaka, yang melihat anak-anak kembali ceria setelah bermain air, merasa lega. "Mereka bisa menyegarkan diri, meski hanya sesaat," ujarnya.
Fenomena ini mengingatkan pada kondisi Indonesia pasca-bencana, seperti gempa Palu atau tsunami Aceh, di mana anak-anak sering menjadi kelompok yang paling rentan mengalami stres pascatrauma. Psikolog anak menekankan pentingnya ruang bermain aman untuk memulihkan kondisi mental mereka. Inisiatif berbasis komunitas seperti yang dilakukan Gonenji bisa menjadi model adaptif yang relevan untuk daerah bencana di Indonesia, yang kerap kekurangan layanan psikososial darurat.
Kuil ini kini membuka diri bagi relawan yang ingin membantu menjaga dan membersihkan kolam. Kepala kuil Nishi mengawasi anak-anak yang bermain dengan penuh perhatian. "Anak-anak suka bermain air. Saya harap mereka bisa menikmatinya, meski sedikit," katanya. Pertanyaannya, akankah inisiatif serupa menyebar ke tempat lain di Kumamoto, atau bahkan menjadi standar tanggap bencana yang memperhatikan kebutuhan psikologis anak?



