Ge Lan, Bintang Legendaris Hong Kong di Balik 'Mambo Girl', Tutup Usia di 93
Baca dalam 60 detik
- Aktris dan penyanyi era keemasan Hong Kong, Grace Chang atau Ge Lan, meninggal dunia pada usia 93 tahun.
- Kariernya yang singkat namun gemilang melahirkan puluhan film ikonik, dan lagu-lagunya tetap hidup hingga kini.
- Warisan Ge Lan melintasi generasi, dari layar perak klasik hingga soundtrack film modern seperti 'Crazy Rich Asians'.

Dunia perfilman Asia berduka. Grace Chang, aktris dan penyanyi legendaris Hong Kong yang dikenal dengan nama panggung Ge Lan, meninggal dunia pada usia 93 tahun. Kabar duka ini pertama kali disampaikan oleh komentator budaya Hong Kong, Tang Siu Yu, melalui media sosial, dan dengan cepat memicu gelombang belasungkawa dari para penggemar film serta komunitas seni di Hong Kong.
Lahir di Shanghai pada 1933, Chang pindah ke Hong Kong bersama ayahnya pada dekade 1940-an. Mengawali karier di Taishan Pictures, ia memulai debutnya dalam film 'Seven Sisters' pada 1952. Namanya melejit setelah bergabung dengan Cathay Organisation, menjadi salah satu aktris utama yang paling dikenal. Selama lebih dari satu dekade berkarier, ia membintangi lebih dari 30 film, termasuk karya-karya klasik seperti 'It Blossoms Again', 'Mambo Girl', dan 'The Wild, Wild Rose'.
Meski pensiun dari dunia hiburan pada 1964 setelah film terakhirnya, 'The Story Of Three Loves', pengaruh Ge Lan tidak pernah pudar. Lagu-lagunya terus bergema, terutama di kalangan diaspora Tionghoa. Karyanya bahkan diabadikan dalam film-film modern seperti 'The Hole' (1998) dan 'The Wayward Cloud' (2005) dari Taiwan, 'Kala Malam Bulan Mengambang' (2008) dari Malaysia, serta film Hollywood 'Crazy Rich Asians' (2018). Ini membuktikan bahwa sentuhan artistiknya melampaui batas waktu dan geografis.
Di Indonesia, nama Ge Lan mungkin tidak setenar aktris Hong Kong lainnya, tetapi pengaruh musik dan filmnya turut mewarnai industri hiburan Asia Tenggara. Era keemasan sinema Hong Kong pada 1950-1960an memiliki penggemar setia di Indonesia, dan lagu-lagu Mandarin yang dibawakannya sering diputar di radio-radio lokal. Warisannya menjadi pengingat akan kuatnya ikatan budaya antara Indonesia dan diaspora Tionghoa, serta bagaimana seni mampu menjembatani generasi.
Kehidupan pribadinya juga menarik perhatian. Pada 1961, ia menikah dengan pengusaha Gao Fuquan. Setelah pensiun, ia jarang tampil di publik, namun pada 2021, saat mendekati ulang tahunnya yang ke-88, ia muncul dalam foto yang diunggah jurnalis senior Hong Kong, Wong Man Ling, di Weibo. Dalam foto tersebut, ia terlihat bersama selebritas Hong Kong seperti Yao Wei, Brigitte Lin, dan Chen Chen. Brigitte Lin bahkan menulis, "Aunty Ge Lan is the prettiest," sebuah pujian yang menggambarkan pesona abadi Ge Lan.
Kepergian Ge Lan menandai berakhirnya satu era dalam sinema Asia. Namun, karya-karyanya akan terus dikenang dan dipelajari. Pertanyaannya, mampukah industri hiburan Asia saat ini melahirkan bintang dengan daya tahan dan pengaruh sebesar Ge Lan? Atau justru kita sedang menyaksikan pergeseran paradigma, di mana ketenaran bersifat lebih cepat namun juga lebih cepat pudar? Hanya waktu yang akan menjawab, tetapi satu hal yang pasti: nama Ge Lan akan selalu bersinar dalam sejarah perfilman.



