Vinyl dan CD Kembali Digandrungi Gen Z: Lebih dari Sekadar Nostalgia
Baca dalam 60 detik
- Generasi Z di Indonesia menunjukkan peningkatan signifikan dalam membeli piringan hitam dan CD, bahkan anak SMP pun ikut berburu rilisan fisik.
- Fenomena ini didorong oleh keinginan memiliki wujud nyata karya musisi favorit, yang tidak bisa didapatkan dari layanan streaming.
- Para pengamat menilai tren ini terkait erat dengan ekspresi identitas dan kebanggaan personal, meski harga vinyl terbilang tinggi.

Di tengah gempuran layanan streaming yang menawarkan kemudahan akses tanpa batas, sebuah fenomena menarik justru muncul di kalangan Generasi Z: mereka ramai-ramai memburu piringan hitam dan CD. Bukan sekadar tren sesaat, geliat ini mencerminkan pergeseran perilaku konsumsi musik yang lebih dalam, di mana kepemilikan fisik dianggap sebagai simbol koneksi personal dengan karya dan musisi idola.
Miko Andrean, pendiri toko musik 33 RPM, mengamati perubahan demografis yang mencolok dalam beberapa tahun terakhir. Dalam sebuah diskusi bertajuk "Musik Analog Berjaya Lagi?" di Jakarta, ia mengungkapkan bahwa pembeli vinyl kini didominasi oleh wajah-wajah muda, bahkan tidak jarang berasal dari kalangan pelajar Sekolah Menengah Pertama. "Baru tahun ini perubahannya terasa sekali, tiba-tiba yang beli didominasi anak muda, bahkan anak SMP," ujarnya. Menurut Miko, antusiasme ini bukan tanpa alasan; para penggemar merasa bahwa layanan streaming tidak memberikan kepuasan memiliki secara fisik.
"Streaming itu kan tidak punya bentuk fisik. Ketika ada format CD atau piringan hitam, mereka merasa punya sesuatu yang nyata, 'oh this is something'," jelas Miko. Pernyataan ini menegaskan bahwa di era digital, kebutuhan akan objek fisik justru semakin menguat, terutama bagi generasi yang tumbuh bersama teknologi.
Senada dengan Miko, produser musik dan pengamat industri David Tarigan menilai bahwa perilaku membeli rilisan fisik tanpa memiliki alat pemutarnya bukanlah hal baru. Ia sendiri pernah membeli piringan hitam di usia 12 tahun meski saat itu belum punya pemutar. Menurut David, kebiasaan ini erat kaitannya dengan upaya generasi muda dalam membangun dan mengekspresikan identitas diri. "Pengoleksian ini berhubungan juga dengan identitas," katanya. Koleksi musik fisik, lanjut David, menjadi semacam pernyataan personal tentang selera dan nilai estetika seseorang.
Yang menarik, tingginya harga piringan hitam tidak menyurutkan minat para kolektor muda. Miko menyebutkan bahwa harga vinyl baru saat ini bisa mencapai Rp650 ribu, namun tetap laris manis. "Satu album bisa dihargai 500-600 ribu, bahkan yang termurah sekarang 650 ribu, tetap dibeli," ungkapnya. Fenomena ini menunjukkan bahwa bagi sebagian Gen Z, harga bukanlah penghalang ketika mereka sudah merasa terhubung secara emosional dengan musik yang mereka cintai.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga merupakan bagian dari tren global. Di berbagai negara, penjualan vinyl telah meningkat selama beberapa tahun terakhir, bahkan melampaui penjualan CD. Namun, konteks Indonesia memiliki keunikan tersendiri. Dengan penetrasi internet yang tinggi dan budaya pop yang dinamis, Gen Z Indonesia menunjukkan apresiasi yang besar terhadap musik, baik dari segi audio maupun nilai koleksinya.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah tren ini akan bertahan atau hanya sekadar euforia sesaat. Para pelaku industri musik dan toko rekaman tentu berharap bahwa minat ini akan terus berkembang, mendorong lebih banyak rilis fisik edisi khusus yang menarik bagi kolektor. Di sisi lain, keberlanjutan tren ini juga bergantung pada kemampuan industri untuk membaca dan merespons kebutuhan generasi muda yang selalu berubah.



