Min Aung Hlaing Kunjungan Perdana ke Thailand: Upaya Kembali ke Lingkaran Diplomatik ASEAN
Baca dalam 60 detik
- Pemimpin Myanmar, Min Aung Hlaing, dijadwalkan tiba di Bangkok untuk kunjungan resmi pertamanya sejak menjadi presiden sipil, menandai upaya rekonsiliasi diplomatik.
- Thailand memimpin normalisasi hubungan dengan Myanmar, meski junta tetap menolak konsensus lima poin ASEAN untuk dialog damai.
- Kunjungan ini berpotensi berdampak pada stabilitas kawasan, termasuk arus pengungsi dan kejahatan transnasional yang menjadi perhatian Indonesia dan negara ASEAN lain.

Pemimpin Myanmar, Min Aung Hlaing, dijadwalkan tiba di Bangkok pada Kamis (6/8) untuk kunjungan resmi pertamanya sejak beralih dari seragam militer ke setelan sipil. Langkah ini dibaca sebagai upaya negeri yang terisolasi secara diplomatik itu untuk kembali diterima di lingkungan internasional, khususnya di kawasan Asia Tenggara.
Min Aung Hlaing, yang memimpin kudeta militer pada 2021 yang menggulingkan pemimpin terpilih Aung San Suu Kyi, kini menjabat sebagai presiden setelah pemilihan yang dikendalikan militer pada April lalu. Pemilu tersebut ditolak oleh pengamat demokrasi dan negara-negara Barat sebagai sandiwara politik untuk melegitimasi kekuasaan junta. Sejak kudeta, Myanmar telah terjerembab dalam perang saudara yang menewaskan lebih dari 100.000 orang, menurut perkiraan berbagai pihak.
Dalam beberapa bulan terakhir, Min Aung Hlaing gencar melakukan kunjungan ke luar negeri, termasuk ke India, China, dan Laos. Kunjungan ke Thailand ini menjadi ujian nyata bagi strategi diplomasi junta untuk memecah kebekuan hubungan dengan negara-negara ASEAN. Thailand, sebagai tetangga langsung, memang memiliki kepentingan besar untuk memulihkan hubungan, terutama karena konflik di Myanmar telah meluber ke wilayah perbatasan dan memicu arus pengungsi yang mencapai jutaan orang.
Selain masalah pengungsi, Thailand juga menghadapi ancaman dari jaringan penipuan siber dan perdagangan narkoba yang beroperasi di kawasan perbatasan yang tidak stabil. Menteri Luar Negeri Thailand, Sihasak Phuangketkeow, menyatakan bahwa Myanmar dan Kamboja seharusnya berbuat lebih banyak untuk memerangi jaringan penipuan tersebut, dan isu ini akan diangkat dalam pertemuan dengan Min Aung Hlaing.
Namun, di balik upaya normalisasi, terdapat kontradiksi yang mencolok. Myanmar tetap menolak untuk mengimplementasikan konsensus lima poin ASEAN yang disepakati pada 2021, yang menyerukan dialog damai dengan semua pihak yang terlibat konflik. Analis independen Myanmar, David Mathieson, menilai bahwa kampanye untuk kembali ke ASEAN hanyalah soal gengsi bagi Min Aung Hlaing. "Dia ingin dilihat sebagai anggota ASEAN yang bertanggung jawab, namun secara paradoks menolak konsensus lima poin," ujarnya, menggambarkan sikap tersebut sebagai contoh logika zero-sum.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi yang signifikan. Sebagai salah satu pendiri ASEAN, Indonesia selama ini konsisten mendorong dialog dan perdamaian di Myanmar. Namun, pendekatan Indonesia yang lebih lunak dibandingkan negara-negara Barat mendapat kritik dari kelompok masyarakat sipil yang menginginkan tindakan lebih tegas terhadap junta. Kunjungan Min Aung Hlaing ke Thailand dapat menjadi ujian bagi solidaritas ASEAN, apakah blok tersebut akan tetap bersatu dalam tekanan terhadap junta atau mulai melunak demi stabilitas kawasan.
Di sisi lain, Thailand memiliki alasan pragmatis untuk menjalin hubungan lebih dekat dengan Myanmar. Selain masalah keamanan di perbatasan, Thailand juga memiliki kepentingan ekonomi, termasuk investasi di sektor energi dan perdagangan. Namun, langkah Thailand ini berisiko memecah belah ASEAN, karena beberapa negara anggota seperti Malaysia dan Singapura masih bersikap kritis terhadap junta.
Kunjungan ini juga terjadi di tengah kabar bahwa Aung San Suu Kyi, yang masih dalam tahanan rumah, diizinkan bertemu dengan perwakilan Komite Internasional Palang Merah (ICRC) pada Senin (3/8). Ini merupakan pertemuan publik pertamanya dengan pejabat asing sejak digulingkan. Langkah ini bisa jadi upaya junta untuk menunjukkan citra yang lebih manusiawi di mata dunia, atau justru sebagai taktik untuk meredam kritik internasional.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah ASEAN akan mampu mempertahankan tekanan terhadap Myanmar, atau justru mulai menerima kembali junta dengan dalih stabilitas kawasan. Bagi Indonesia, sikap yang diambil dalam isu ini akan menentukan kredibilitasnya sebagai pemimpin regional yang menjunjung tinggi nilai demokrasi dan hak asasi manusia. Apakah Jakarta akan tetap pada jalur prinsip, atau ikut terombang-ambing oleh arus pragmatisme?



