Label 'Supermum' dan 'Girl Boss' Bikin Wanita Makin Tertekan? Ini Kata Psikolog
Baca dalam 60 detik
- Pujian berlebihan seperti 'supermum' atau 'girl boss' berpotensi memicu perfeksionisme dan kecemasan pada perempuan.
- Para ahli menilai label tersebut menciptakan standar ganda yang tidak realistis, terutama bagi ibu bekerja dan perempuan karier.
- Mengurangi konsumsi konten yang memicu perbandingan dan menetapkan batasan pribadi menjadi langkah awal menjaga kesehatan mental.

Pujian seperti "supermum", "girl boss", atau "main character energy" mungkin terdengar memberdayakan, tetapi di balik kata-kata manis itu tersimpan tekanan psikologis yang justru membuat banyak perempuan merasa tidak pernah cukup. Para psikolog memperingatkan bahwa label superlatif yang kerap dilekatkan pada perempuan dapat memicu perfeksionisme, kecemasan, hingga kelelahan mental yang berkepanjangan.
Fenomena ini bukan sekadar soal bahasa sehari-hari. Dalam budaya populer dan media sosial, perempuan sering dipuji dengan istilah-istilah yang menuntut mereka untuk unggul di segala bidang sekaligus: karier cemerlang, menjadi ibu yang hadir penuh, pasangan yang suportif, tubuh yang bugar, serta emosi yang selalu stabil. Padahal, menurut Dr Natalie Games, psikolog klinis senior dari Alliance Counselling, label semacam itu awalnya lahir sebagai bentuk dorongan dan apresiasi, tetapi kini telah berubah menjadi identitas yang harus dipenuhi.
"Label seperti ini secara tidak sadar memperkuat perfeksionisme dan harga diri yang bersyarat, di mana nilai diri kita menjadi terikat pada performa, pencapaian, atau kesan selalu kuat," jelas Dr Games. Ia menambahkan bahwa riset menunjukkan orang yang merasa harus selalu luar biasa lebih rentan mengalami kelelahan, kecemasan, rasa malu, dan kritik diri yang berlebihan.
Grace Loh, psikoterapis dan eksekutif coach di Grace PsyCap, menyebut label superlatif menciptakan standar bergerak tentang sosok perempuan yang selalu tenang, produktif, dan tanpa batas kemampuan. "Ketika ada kesenjangan besar antara siapa saya saat ini dan siapa yang saya rasa seharusnya saya, tekanan mental meningkat," ujarnya. Loh menambahkan bahwa bahasa superlatif memperbesar tuntutan internal yang berujung pada rasa bersalah, malu, dan gejala depresi, terutama pada perempuan yang sudah memiliki standar pribadi tinggi.
Menariknya, label seperti "ratu" atau "superwoman" tidak selalu berdampak buruk. Dalam dosis kecil dan di komunitas yang aman, pujian semacam itu bisa menjadi bentuk solidaritas dan apresiasi. Namun, masalah muncul ketika bahasa pemberdayaan berubah dari sekadar menggambarkan perasaan hari ini menjadi resep wajib untuk dijalani setiap hari. Dr Annabelle Chow, psikolog klinis di Annabelle Psychology, memberikan tes sederhana: apakah label itu masih menyisakan ruang untuk menjadi manusia biasa? Jika "girl boss" berarti melakukan yang terbaik, itu terasa meneguhkan. Tetapi jika berarti menyeimbangkan pekerjaan, pengasuhan, hubungan, kebugaran, perawatan diri, dan kesejahteraan emosional tanpa pernah gagal, itu menjadi standar yang mustahil.
Perbedaan dampak label superlatif antara laki-laki dan perempuan juga menjadi sorotan. Dr Games menjelaskan bahwa label seperti "supermum" atau "Wonder Woman" mencerminkan ideal budaya yang menuntut perempuan unggul secara simultan di banyak bidang: pengasuhan, karier, hubungan, penampilan, dan kerja emosional. Sementara itu, label untuk laki-laki seperti "breadwinner" atau "provider" cenderung menekankan pencapaian di satu domain, yaitu kemampuan mencari nafkah. Akibatnya, perempuan menghadapi "double bind"โharus kompeten sekaligus disukai. Jika mengikuti ekspektasi feminin tradisional, mereka dianggap kurang layak memimpin; jika menunjukkan sifat maskulin seperti tegas, mereka dianggap tidak ramah.
Di Indonesia, fenomena ini juga terasa nyata. Banyak perempuan pekerja yang harus bergulat dengan tuntutan ganda: menjadi ibu yang sempurna di rumah, profesional yang berprestasi di kantor, serta tetap tampil menarik dan selalu tersenyum. Ungkapan seperti "wanita karier yang sukses" atau "ibu tangguh" sering kali menjadi beban tersembunyi. Survei Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) pada 2021 menunjukkan bahwa 51% perempuan Indonesia mengalami kelelahan emosional akibat peran ganda, dan angka ini meningkat selama pandemi. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan sosial yang tidak realistis bukan hanya masalah global, tetapi juga isu lokal yang perlu mendapat perhatian serius.
Lantas, bagaimana cara melepaskan diri dari jerat label superlatif? Grace Loh menyarankan untuk mulai sadar akan kebiasaan membandingkan diri. Berhenti mengikuti akun media sosial yang memicu perasaan tidak mampu, dan ganti dengan komunitas yang menampilkan hari-hari biasa, kesalahan, dan keterbatasanโbukan hanya kisah sukses. "Perubahan kecil dalam standar diri, dari 'saya harus unggul di semua peran' menjadi 'saya boleh merasa cukup dan punya keterbatasan', bisa mempersempit jurang antara diri nyata dan ideal yang dibayangkan," kata Loh. Dr Chow juga mengingatkan bahwa banyak pesan di media sosial dan iklan hanyalah sorotan yang dikurasi, bukan realitas sehari-hari. Sebelum membandingkan diri, tanyakan: dibandingkan dengan siapa, dan menurut standar siapa?
Pada akhirnya, kesejahteraan bukanlah tentang menjadi yang terbaik atau memiliki segalanya, melainkan tentang hidup selaras dengan nilai, keterbatasan, dan keadaan masing-masing. Pertanyaannya, akankah masyarakat, termasuk di Indonesia, mulai mengurangi penggunaan label superlatif yang justru menambah beban psikologis perempuan? Atau akankah kita terus terjebak dalam siklus pujian yang berujung pada tekanan?



