Tragedi Nonthaburi: Pelajar Tewaskan Kakek-Nenek Sebelum Menembak Mati di Sekolah
Baca dalam 60 detik
- Seorang siswa kelas 8 di Thailand diduga menembak mati kakek-neneknya sebelum melancarkan serangan di sekolah, menewaskan total tujuh orang dan melukai 15 lainnya.
- Polisi masih menyelidiki bagaimana pelajar tersebut bisa mengakses pistol CZ 9mm milik kakeknya, yang menjadi fokus utama penyelidikan.
- Pihak berwenang Thailand telah mengerahkan psikolog untuk membantu para korban dan saksi, sementara masyarakat Indonesia diingatkan akan pentingnya pengawasan senjata api dan kesehatan mental remaja.

Seorang siswa sekolah menengah di Thailand menjadi tersangka dalam insiden penembakan yang mengguncang Debsirin Nonthaburi School, Jumat pagi (7/8). Sebelum melancarkan aksinya di sekolah, ia diduga telah membunuh kakek dan neneknya di rumah mereka. Peristiwa ini menewaskan tujuh orang, termasuk pelaku, dan melukai 15 lainnya.
Kepolisian Thailand mengidentifikasi tersangka sebagai pelajar kelas Mathayom 2 yang tinggal bersama kakek-neneknya di sebuah kawasan permukiman di Distrik Bang Bua Thong, Nonthaburi. Saat polisi memeriksa rumah tersebut, mereka menemukan kedua kakek-nenek telah tewas lebih dulu. Diduga, mereka menjadi korban pertama sebelum pelaku melancarkan serangan di sekolah.
Senjata yang digunakan adalah pistol CZ 9mm yang terdaftar atas nama kakek tersangka. Juru bicara Kepolisian Kerajaan Thailand, Letnan Jenderal Trairong Phiwphan, menyatakan situasi di sekolah telah terkendali dan kekerasan telah diakhiri. Namun, penyelidikan masih berlanjut untuk mengungkap motif di balik aksi brutal ini.
Polisi belum dapat memastikan motif pelaku. Mereka masih mendalami perilaku tersangka sebelum kejadian, lingkungan pergaulannya, serta kondisi pribadinya. Juru bicara kepolisian menekankan bahwa investigasi terperinci diperlukan untuk mengungkap semua fakta. Salah satu pertanyaan kunci adalah bagaimana pelaku bisa mengakses senjata api tersebut. Meskipun senjata terdaftar atas nama kakeknya, polisi masih menyelidiki bagaimana pelaku mengambilnya, di mana senjata disimpan, dan dari mana amunisi berasal.
"Pada tahap ini, kami hanya tahu bahwa senjata api itu terdaftar atas nama anggota keluarga," ujar Trairong. "Bagaimana pelaku mendapatkan senjata dan detail lainnya harus ditetapkan melalui proses penyidikan." Kepala Polisi Nasional, Jenderal Kitrat Phanphet, telah memerintahkan pemeriksaan menyeluruh di lokasi kejadian dan pengumpulan barang bukti. Ia juga menginstruksikan petugas medis dari Rumah Sakit Polisi untuk mengirim psikolog dan spesialis kesehatan mental guna memberikan dukungan bagi guru, siswa, dan semua pihak yang terdampak.
Peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya pengawasan kepemilikan senjata api, terutama di tangan anggota keluarga yang berpotensi disalahgunakan. Di Indonesia, regulasi kepemilikan senjata api juga cukup ketat, namun kasus serupa pernah terjadi, seperti penembakan di Mako Brimob Kelapa Dua pada 2018 yang melibatkan oknum polisi. Meski berbeda konteks, hal ini menunjukkan bahwa akses mudah terhadap senjata api dapat berujung pada tragedi. Selain itu, kesehatan mental remaja juga menjadi sorotan. Tekanan akademik, perundungan, atau masalah keluarga bisa memicu tindakan ekstrem jika tidak ditangani dengan baik.
Ke depan, aparat Thailand dihadapkan pada tugas berat untuk mengungkap tuntas kasus ini. Pertanyaan yang menggantung: apakah ini murni aksi individu, atau ada faktor lain yang memicunya? Bagaimana sistem pengawasan senjata api di Thailand bisa diperketat agar kejadian serupa tidak terulang? Bagi Indonesia, tragedi ini menjadi bahan refleksi untuk memperkuat deteksi dini terhadap potensi kekerasan di kalangan pelajar dan memastikan mekanisme dukungan psikologis di sekolah berjalan efektif.



