Tragedi di Sekolah Debsirin: Pelajar 14 Tahun Tewaskan 7 Orang Sebelum Akhiri Hidup
Baca dalam 60 detik
- Seorang siswa kelas VII di Thailand menembak mati kakek-neneknya dan lima guru sebelum bunuh diri, melukai 22 orang lainnya.
- Insiden di sekolah bergengsi Debsirin ini memicu kembali perdebatan tentang kepemilikan senjata api di Thailand, di mana sekitar 40% senjata dimiliki secara ilegal.
- Pemerintah Thailand berjanji menindak tegas peredaran senjata ilegal, namun tantangan penegakan hukum masih menjadi pekerjaan rumah besar.

Seorang remaja berusia 14 tahun di Thailand menjadi pelaku penembakan yang menewaskan tujuh orang, termasuk kakek-neneknya sendiri, sebelum akhirnya mengakhiri hidupnya. Peristiwa tragis ini terjadi di rumah pelaku dan kemudian berlanjut ke sekolahnya di Provinsi Nonthaburi, pinggiran Bangkok, pada hari yang seharusnya menjadi hari biasa bagi para siswa dan guru.
Menteri Kesehatan Thailand mengonfirmasi bahwa pelaku diduga menembak mati kakek-neneknya di rumah sebelum melancarkan aksi di sekolah, di mana ia menewaskan lima guru. Selain itu, 22 orang lainnya mengalami luka-luka, dengan sembilan di antaranya dalam kondisi kritis. Insiden ini mengguncang masyarakat Thailand dan menyoroti kembali persoalan kepemilikan senjata api di negara tersebut.
Sekolah yang menjadi lokasi penembakan adalah cabang dari Debsirin School, sebuah institusi pendidikan bergengsi yang didirikan pada 1885 di Bangkok. Sekolah ini dikenal melahirkan banyak tokoh penting Thailand, termasuk diplomat, atlet, dan beberapa perdana menteri. Karena reputasinya, kejadian ini terasa lebih mengejutkan dan memilukan bagi banyak pihak.
Seorang siswi kelas VII yang berhasil melarikan diri menceritakan momen menegangkan saat ia melihat pelaku berjalan dari satu ruangan ke ruangan lain. Ketika sampai di kelasnya, pelaku langsung menembak guru yang berdiri di dekat pintu masuk. Siswi tersebut mengaku tidak dapat melihat apa-apa lagi setelah itu. Sementara itu, seorang siswa lain mengaku sempat mengira suara tembakan itu adalah petasan atau suara benda yang dibanting. "Ada banyak tembakan: bang bang bang. Lalu hening. Kemudian mulai lagi," ujarnya.
Polisi menemukan bahwa senjata api kaliber 9mm yang digunakan pelaku adalah milik kakeknya, yang merupakan mantan guru. Hal ini memunculkan pertanyaan tentang bagaimana senjata tersebut bisa diakses oleh seorang remaja. Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, menyampaikan belasungkawa dan menegaskan bahwa tragedi ini "seharusnya tidak terjadi". Ia juga mengaitkan kejadian ini dengan kebijakan pemerintah yang melarang warga sipil memiliki senjata api. "Saya tidak hanya merasa kasihan pada korban, tetapi saya juga merasa kasihan bahwa ini terjadi. Bagaimana ini bisa terjadi di negara kami?" ujarnya.
Thailand sebenarnya memiliki undang-undang kepemilikan senjata yang ketat, dengan hukuman hingga 10 tahun penjara bagi pemilik ilegal. Namun, penegakan hukum di lapangan masih lemah. Negara ini mencatat salah satu tingkat kepemilikan senjata sipil tertinggi di Asia Tenggara, dengan estimasi sekitar 40% dari senjata tersebut tidak terdaftar secara legal. Kondisi ini menjadi celah yang sering dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya pengawasan kepemilikan senjata api dan kesehatan mental remaja. Meskipun Indonesia memiliki regulasi yang ketat, kasus-kasus kekerasan dengan senjata api tetap menjadi perhatian. Pemerintah dan masyarakat perlu memperkuat upaya pencegahan, termasuk deteksi dini terhadap potensi gangguan mental pada anak-anak dan remaja. Selain itu, pengawasan terhadap akses senjata api, terutama yang dimiliki oleh anggota keluarga, harus diperketat.
Ke depan, tragedi ini memunculkan pertanyaan besar: apakah Thailand akan mampu menutup celah peredaran senjata ilegal yang selama ini menjadi momok? Atau apakah peristiwa ini akan menjadi katalis bagi perubahan kebijakan yang lebih tegas? Yang jelas, nyawa-nyawa yang melayang tidak akan pernah bisa kembali, dan masyarakat Thailand, serta dunia, menunggu langkah konkret dari pemerintah untuk mencegah terulangnya tragedi serupa.



