Survei: Warga Korea Selatan yang Berpandangan Positif ke Jepang Capai Rekor Tertinggi
Baca dalam 60 detik
- Lebih dari separuh responden Korea Selatan menilai Jepang secara positif, mencapai level tertinggi sejak jajak pendapat tahunan dimulai pada 2013.
- Peningkatan ini dipicu oleh persepsi terhadap keramahan, kebersihan, serta budaya populer Jepang, sementara sentimen negatif turun drastis dari 71,6% pada 2020 menjadi 38,5%.
- Di sisi lain, warga Jepang yang menyukai Korea Selatan juga naik signifikan, terutama di kalangan muda, meskipun pandangan negatif masih mendominasi.

Lebih dari separuh warga Korea Selatan kini memiliki pandangan positif terhadap Jepang, mencatat rekor tertinggi sejak survei tahunan pertama kali digelar pada 2013. Temuan ini diumumkan dalam jajak pendapat bersama yang dirilis pada 3 Agustus oleh East Asia Institute (EAI) Korea Selatan dan International House of Japan (IHJ).
Survei yang dilakukan pada akhir Juli itu menunjukkan 54,3% responden Korea Selatan mengaku memiliki kesan baik terhadap Negeri Sakura, naik 1,9 poin dibanding tahun sebelumnya. Angka ini berbanding terbalik dengan kondisi 2020, ketika hubungan bilateral memburuk dan hanya 12,3% warga Korea Selatan yang bersikap positif terhadap Jepang. Sejak itu, tren positif terus menguat, sementara persentase responden dengan pandangan negatif merosot dari 71,6% pada 2020 menjadi 38,5% tahun ini.
Di antara responden Korea Selatan yang menyatakan kesan positif, alasan terbesar adalah "kebaikan, kebersihan, dan rasa hormat terhadap ketertiban" yang ditunjukkan masyarakat Jepang, disebutkan oleh 66,9% responden. Disusul "budaya kuliner serta belanja dan perjalanan" sebesar 43,9%, dan "budaya populer seperti manga, anime, musik, novel, dan film" sebesar 27,4%. Data ini mengindikasikan bahwa daya tarik budaya dan gaya hidup Jepang semakin kuat di mata publik Korea Selatan, melampaui sekat-sekat historis yang selama ini membayangi hubungan kedua negara.
Di sisi lain, survei juga mencatat perbaikan pandangan warga Jepang terhadap Korea Selatan, meskipun sentimen negatif masih lebih dominan. Sebanyak 35,3% responden Jepang mengaku memiliki kesan positif terhadap Korea Selatan, naik 10,5 poin dari tahun sebelumnya, sementara 44,1% masih menyatakan tidak suka. Yang menarik, anak muda Jepang menunjukkan tingkat kesukaan yang jauh di atas rata-rata: 75,8% responden berusia 18โ19 tahun menilai Korea Selatan secara positif, dan 47,1% di kelompok usia 20-an. Secara keseluruhan, 57,0% responden Jepang menganggap hubungan bilateral dengan Korea Selatan penting, yang oleh para peneliti dikaitkan dengan lingkungan keamanan yang semakin menantang di Asia Timur.
Bagi warga Jepang yang memiliki pandangan positif, daya tarik utama adalah "destinasi wisata, termasuk kuliner dan belanja" (53,6%) serta "budaya populer seperti K-pop dan drama" (50,7%). Sementara itu, alasan paling umum untuk pandangan negatif adalah "sentimen anti-Jepang dan kritik terhadap Jepang yang masih kuat di Korea Selatan", disebutkan oleh 49,3% responden. Hal ini menunjukkan bahwa luka sejarah dan politik masih menjadi penghalang utama dalam hubungan kedua negara, meskipun ada perbaikan di tingkat permukaan.
EAI menganalisis bahwa penurunan tingkat kesukaan terhadap Korea Selatan di kalangan warga Jepang pada 2025 lalu disebabkan oleh kekhawatiran atas kritik berulang yang dilontarkan Presiden Lee Jae Myung terhadap Jepang saat ia masih menjadi pemimpin oposisi. Namun, institut tersebut menilai bahwa "politik Korea Selatan stabil dengan cepat, dan perbaikan citra Lee melalui diplomasi antar pemimpin kedua negara tampaknya berkontribusi pada peningkatan persepsi tahun ini." Citra positif Lee naik 4,6 poin dari tahun sebelumnya, sementara pandangan negatif turun hampir 10 poin. Ini menandakan bahwa kepemimpinan dan diplomasi tingkat tinggi memainkan peran krusial dalam membentuk opini publik.
Bagi Indonesia, tren ini menawarkan pelajaran berharga. Sebagai negara dengan hubungan bilateral yang dinamis dengan Jepang, Indonesia dapat menarik benang merah bahwa persepsi publik tidak melulu ditentukan oleh isu historis, tetapi juga oleh interaksi budaya, ekonomi, dan diplomasi yang aktif. Meningkatnya apresiasi terhadap budaya populer Jepang di Korea Selatan, misalnya, menunjukkan bahwa soft power mampu menjembatani perbedaan politik. Pertanyaannya, mampukah Indonesia memanfaatkan instrumen serupa untuk memperkuat hubungan dengan Jepang, atau justru sebaliknya, membiarkan isu-isu lama menghambat kemajuan bersama? Jawabannya akan menentukan arah kerja sama bilateral dalam beberapa tahun ke depan.



