Studi: Kurangi Asupan Protein Bisa Perpanjang Umur, tapi Tak Berlaku untuk Semua Usia
Baca dalam 60 detik
- Tinjauan atas 350 penelitian menunjukkan pembatasan protein atau asam amino esensial tertentu dapat mengaktifkan jalur perbaikan sel dan memperlambat penuaan.
- Manfaat utama meliputi peningkatan metabolisme, pengurangan lemak tubuh, dan penurunan sel 'zombie' penyebab peradangan, namun efeknya sangat bergantung pada usia dan tingkat aktivitas.
- Para ahli mengingatkan bahwa rekomendasi ini tidak serta-merta berlaku untuk lansia di atas 65 tahun yang justru berisiko mengalami sarkopenia jika mengurangi protein secara berlebihan.

Pembatasan kalori selama ini dikenal sebagai salah satu cara memperlambat penuaan. Namun, sebuah tinjauan terbaru yang dipublikasikan di jurnal Cell Press Blue mengungkapkan bahwa mengurangi asupan protein—atau asam amino esensial tertentu—bisa memberikan efek serupa, bahkan berpotensi memperpanjang rentang hidup sehat. Temuan ini membuka perspektif baru dalam strategi penuaan sehat, tetapi juga memunculkan peringatan penting: tidak semua orang cocok dengan pola makan rendah protein.
Tim peneliti menganalisis lebih dari 350 studi ilmiah yang melibatkan hewan dan manusia, mulai dari mikroba, tikus, hingga uji klinis acak. Mereka menemukan bahwa konsumsi protein yang lebih rendah memicu peningkatan hormon FGF21, yang berperan dalam metabolisme energi dan perlindungan terhadap penuaan. Selain itu, jalur mTORC1 yang mendorong pertumbuhan sel menjadi terhambat, sementara GCN2—sensor nutrisi yang mengatur respons stres—menjadi lebih aktif. Kondisi ini mendorong sel untuk membersihkan komponen rusak melalui proses autophagy, yang pada akhirnya mengurangi jumlah sel 'zombie' atau sel senesen yang memicu peradangan kronis.
Menariknya, efek positif ini tidak hanya berhenti di tingkat sel. Studi menunjukkan bahwa pembatasan protein juga memperbaiki fungsi mitokondria—sumber energi sel—serta menurunkan kerusakan akibat radikal bebas. Pada hewan percobaan, diet rendah protein dikaitkan dengan umur lebih panjang dan penurunan kerapuhan fisik terkait usia. Namun, para peneliti menekankan bahwa kebutuhan protein sangat individual dan harus disesuaikan dengan tingkat aktivitas fisik serta usia.
Tinjauan ini secara spesifik menyoroti tiga asam amino esensial—isoleusin, valin, dan metionin—yang jika dibatasi dapat memberikan manfaat kesehatan. Sebaliknya, asam amino non-esensial seperti tirosin dan sistein juga disebut berpotensi memberikan efek positif jika dikurangi. Namun, tidak semua asam amino harus dibatasi; glisin, serin, dan prolin justru disarankan untuk disuplementasi karena dapat mendukung fungsi tubuh.
Para ahli yang dihubungi Medical News Today memberikan perspektif berimbang. Kristin Kirkpatrick, ahli diet dari Cleveland Clinic, menegaskan bahwa studi ini tidak serta-merta menganjurkan semua orang mengurangi protein. "Yang menjadi sorotan adalah bagaimana tubuh merespons asam amino tertentu, bukan sekadar jumlah total protein," ujarnya. Michelle Routhenstein, ahli diet kardiologi preventif, menambahkan bahwa pembatasan protein dapat membuat tubuh lebih banyak berada dalam mode 'perbaikan dan pembersihan' daripada 'tumbuh dan membangun', yang berujung pada peningkatan metabolisme dan pengurangan stres seluler.
- Tinjauan mencakup 350+ studi ilmiah pada hewan dan manusia.
- Pembatasan isoleusin, valin, dan metionin dikaitkan dengan umur panjang.
- Diet rendah protein meningkatkan FGF21, menghambat mTORC1, dan mengaktifkan GCN2.
- Lansia di atas 65 tahun justru berisiko mengalami sarkopenia jika mengurangi protein.
Konteks Indonesia menjadi relevan di sini. Masyarakat Indonesia umumnya mengandalkan nasi sebagai sumber karbohidrat utama, sementara asupan protein sering kali berasal dari lauk hewani seperti ayam, ikan, atau telur. Tren diet tinggi protein yang populer di kalangan anak muda untuk membentuk otot perlu diimbangi dengan pemahaman bahwa kebutuhan protein berubah seiring usia. Bagi pekerja kantoran dengan aktivitas fisik rendah, pengurangan protein mungkin bermanfaat, tetapi bagi atlet atau lansia, justru sebaliknya.
Namun, para peneliti mengingatkan bahwa pembatasan protein tidak dianjurkan untuk semua kelompok. Orang dewasa di atas 65 tahun berisiko mengalami kekurangan protein, kerapuhan, dan sarkopenia—kondisi pengecilan otot yang justru diperparah oleh diet rendah protein. Kirkpatrick menyoroti bahwa studi ini berfokus pada umur panjang seluler, sementara penelitian sebelumnya lebih menekankan umur panjang fungsional, yaitu kemampuan untuk tetap kuat dan mandiri. "Kita perlu menyeimbangkan pesan bahwa 'lebih banyak protein lebih baik' dengan melihat jenis protein dan kebutuhan individual," jelasnya.
Routhenstein juga menggarisbawahi bahwa studi ini masih didominasi oleh penelitian pada hewan, sehingga diperlukan lebih banyak data jangka panjang pada manusia. "Kita tidak bisa serta-merta menerapkan hasil ini ke populasi umum," katanya. Ia menyarankan agar individu berkonsultasi dengan ahli gizi untuk menentukan asupan protein optimal berdasarkan usia, aktivitas, dan kondisi kesehatan.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah bagaimana rekomendasi ini dapat diadaptasi dalam pedoman gizi nasional. Apakah Indonesia perlu mempertimbangkan pembatasan asam amino tertentu dalam kampanye kesehatan masyarakat? Ataukah justru lebih bijak untuk fokus pada kualitas protein, seperti memperbanyak sumber nabati yang telah dikaitkan dengan risiko kerapuhan lebih rendah? Penelitian lebih lanjut pada populasi Asia Tenggara, termasuk Indonesia, akan menjadi kunci untuk menjawab teka-teki ini.



