Kebijakan Tiket Musiman Como Memicu Kontroversi: Presiden Klub Buka Suara
Baca dalam 60 detik
- Como 1909 memperkenalkan aturan yang membatasi kehadiran pemegang tiket musiman, memicu kritik dari suporter.
- Presiden klub, Mirwan Suwarso, menegaskan bahwa aturan tersebut tidak akan mencabut tiket di tengah musim, melainkan hanya memengaruhi perpanjangan di musim berikutnya.
- Kebijakan ini menjadi sorotan karena berpotensi menjadi preseden bagi klub lain di Eropa, termasuk dalam hal manajemen suporter dan tiket.

Como 1909, klub yang baru saja promosi ke Serie A dan akan tampil di Liga Champions, memicu perdebatan sengit setelah mengumumkan aturan baru untuk tiket musiman. Aturan tersebut menyebutkan bahwa pemegang tiket yang absen lebih dari tiga pertandingan kandang tanpa pemberitahuan sebelumnya berisiko kehilangan hak perpanjangan tiket untuk musim berikutnya. Keputusan ini langsung menuai protes dari suporter, yang menilai kebijakan itu tidak adil, terutama mengingat jadwal pertandingan Serie A yang kerap berubah mendadak.
Stadion Sinigaglia, markas Como, memang memiliki kapasitas yang sangat terbatas, hanya sekitar 13.600 kursi. Dengan status anyar sebagai peserta Liga Champions, permintaan tiket musiman dipastikan melonjak drastis. Di tengah euforia tersebut, klub justru memberlakukan aturan yang dianggap sebagian pihak sebagai pembatasan hak suporter. Beberapa pendukung bahkan sempat memasang spanduk bertuliskan "Maaf kawan, kami sedang bekerja" saat satu pertandingan dijadwalkan ulang pada jam yang tidak biasa, sebagai bentuk protes terhadap kebijakan yang dianggap tidak fleksibel.
Tak hanya soal kehadiran, aturan lain yang turut menjadi sorotan adalah larangan memakai atribut tim tamu di luar sektor tandang. Klub berhak membatalkan tiket musiman jika pemegangnya kedapatan "memamerkan pakaian tim lawan" di area tersebut. Hal ini memicu kekhawatiran di kalangan suporter tandang yang merasa hak mereka dibatasi. Namun, Presiden Como, Mirwan Suwarso, angkat bicara melalui unggahan Instagram Stories-nya untuk meluruskan kesalahpahaman yang beredar.
Suwarso menegaskan bahwa aturan tersebut tidak akan mencabut tiket musiman di tengah musim berjalan. "Kegagalan menghadiri jumlah minimum pertandingan tidak berarti tiket musiman Anda akan diambil selama musim ini. Itu hanya berarti Anda kehilangan hak untuk memperbarui tiket musiman untuk musim berikutnya," jelasnya. Ia juga menambahkan bahwa prinsip yang sama berlaku untuk aturan lain, termasuk larangan penggunaan atribut tim lawan. "Tiket musiman ditujukan untuk suporter Como. Mengapa Anda menjadi pemegang tiket musiman Como hanya untuk memberikan kursi Anda kepada pendukung tim lawan, padahal ada banyak penggemar Como yang ingin hadir di stadion tetapi tidak bisa mendapatkan tiket karena pertandingan sering habis terjual?" ujarnya.
Suwarso juga memberikan pengecualian untuk anak-anak. "Tentu saja, ini tidak berlaku untuk anak-anak. Kami tidak punya kepentingan untuk mengambil kesempatan seorang anak untuk mendukung pahlawan mereka, apa pun tim yang mereka bela," katanya. Ia berjanji akan terus mengklarifikasi aturan ini dalam beberapa hari ke depan dan menjawab pertanyaan yang paling sering diajukan. Tujuannya, menurut Suwarso, adalah memastikan tiket musiman dan kursi di Sinigaglia benar-benar diperuntukkan bagi mereka yang mencintai Como dan ingin mendukung klub.
Kontroversi ini menarik untuk dicermati dari perspektif Indonesia, di mana industri sepak bola juga tengah berkembang pesat. Fenomena tiket musiman dan manajemen suporter menjadi isu yang relevan, terutama dengan semakin profesionalnya klub-klub Liga 1 dan meningkatnya animo masyarakat untuk menonton langsung di stadion. Kebijakan seperti yang diterapkan Como bisa menjadi bahan pembelajaran bagi klub-klub Indonesia dalam mengelola basis penggemar, terutama dalam hal transparansi aturan dan komunikasi dengan suporter. Di sisi lain, langkah Como juga memunculkan pertanyaan tentang keseimbangan antara kepentingan komersial klub dan hak-hak suporter, sebuah dilema yang juga dihadapi oleh klub-klub di Indonesia.
Ke depan, bagaimana Como akan mengeksekusi kebijakan ini akan menjadi ujian. Apakah aturan tersebut akan benar-benar diterapkan secara konsisten, atau justru menjadi bumerang yang merusak hubungan klub dengan basis penggemarnya? Sementara itu, klub-klub lain di Eropa akan mengamati dengan saksama, karena jika kebijakan ini berhasil, bukan tidak mungkin akan diadopsi oleh klub-klub lain yang menghadapi masalah serupa. Pertanyaannya, apakah membatasi hak suporter adalah cara yang tepat untuk mengatasi kelangkaan tiket, atau justru akan memicu resistensi yang lebih besar?


