Kisah Dua Penjaga Terakhir Komunitas Yahudi Cochin di India: Antara Kenangan dan Kepunahan
Baca dalam 60 detik
- Keith Hallegua dan Elias Josephai adalah dua orang Yahudi terakhir yang tersisa di Kochi, India, mewakili akhir dari komunitas Yahudi Cochin yang pernah berkembang pesat.
- Komunitas Yahudi Cochin, yang hidup damai selama berabad-abad di tengah mayoritas Hindu, Muslim, dan Kristen, kini nyaris punah setelah gelombang migrasi besar-besaran ke Israel pada 1950-an.
- Upaya pelestarian warisan Yahudi Cochin kini melibatkan warga non-Yahudi setempat, termasuk seorang Muslim yang meneruskan tradisi bordir khas komunitas tersebut.

Di tengah hiruk-pikuk kawasan wisata Jew Town, Kochi, India, Keith Hallegua menapaki jalan berbatu seorang diri menuju Sinagoge Paradesi yang berusia 458 tahun. Saat itu hari raya Shavuot, namun ia tahu ia akan berdoa sendirian, tanpa kuorum sepuluh laki-laki yang lazim disebut minyan. Hallegua adalah satu-satunya jemaat lokal yang tersisa, bahkan satu-satunya orang Yahudi yang masih tinggal di kawasan tersebut. Di sisi lain kota, Elias "Babu" Josephai, keturunan Yahudi Malabari, mengenang kue goreng tradisional "chukkunda" buatan neneknya, sambil berlinang air mata. Dua pria sepuh ini adalah saksi hidup babak akhir komunitas Yahudi Cochin yang pernah berjaya.
Komunitas Yahudi di Kochi, yang dikenal sebagai Yahudi Cochin, memiliki sejarah panjang yang membentang lebih dari dua milenium. Mereka hidup berdampingan secara damai dengan warga Hindu, Muslim, dan Kristen, tanpa pernah merasakan antisemitisme yang melanda Eropa. Namun, setelah pembentukan negara Israel pada 1948, sebagian besar dari mereka memilih berimigrasi ke tanah leluhur. Kini, dari ribuan jiwa yang pernah ada, hanya tersisa kurang dari 5.000 orang Yahudi di seluruh India, negara berpenduduk terbesar di dunia. Hallegua dan Josephai adalah dua dari sedikit yang bertahan, mewakili dua kelompok besar yang pernah ada: Paradesi dan Malabari.
Sejarah internal komunitas ini tidak lepas dari ketegangan kelas dan warna kulit. Hallegua adalah keturunan Yahudi Paradesi, kelompok yang bermigrasi dari Spanyol dan Portugal pada abad ke-16 untuk melarikan diri dari Inkuisisi. Mereka membawa budak, dan keturunan budak yang telah dimerdekakan, yang disebut Meshuchrarim, diperlakukan lebih rendah dan harus berjuang untuk kesetaraan agama. Sementara itu, Josephai berasal dari kelompok Malabari yang lebih tua, dengan akar yang dapat ditelusuri hingga zaman Raja Salomo. Meskipun perpecahan ini memudar setelah migrasi ke Israel, luka lama masih membekas dalam ingatan kolektif.
Kini, upaya pelestarian warisan Yahudi Cochin tidak hanya dilakukan oleh mereka yang tersisa, tetapi juga oleh warga non-Yahudi yang peduli. M.C. Praveen, seorang Hindu yang tumbuh di Jew Town, mengabdikan hidupnya untuk melindungi sejarah komunitas ini. Ia menjadi pengurus sinagoge dan membuka museum yang menampilkan sejarah Yahudi Kochi, termasuk piagam tembaga dari tahun 1000 M yang memberikan kebebasan beragama kepada komunitas tersebut. Thaha Ibrahim, seorang Muslim, juga berperan penting. Ia mewarisi toko bordir milik almarhumah Sarah Cohen, seorang tokoh Yahudi setempat, dan kini mengajarkan keterampilan bordir khas Cochin kepada putranya. Ibrahim bahkan menyalakan lilin Shabbat setiap Jumat dan menutup tokonya pada hari Sabtu, sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi yang ia pelihara.
Di tengah upaya pelestarian, ada kesedihan mendalam yang dirasakan oleh para penjaga terakhir ini. Josephai, yang berusia 70 tahun, menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk memugar Sinagoge Kadavumbagam, yang sempat hancur akibat aksi vandalisme. Ia menjaga lampu minyak tetap menyala di depan ark, sebuah janji yang ia buat kepada neneknya setelah saudara-saudaranya pindah ke Israel pada 1972. "Setiap orang Yahudi bermimpi untuk menghembuskan nafas terakhir di Israel," katanya. "Tapi saya percaya nafas terakhir saya harus di dalam sinagoge ini." Ia berharap ada organisasi Yahudi yang mau mengambil alih sinagoge beserta perpustakaan dan museum yang sedang ia bangun, karena ia sadar tidak akan ada yang melanjutkan cerita setelah ia tiada.
Hallegua, di sisi lain, mengaku sering bertanya kepada Tuhan mengapa ia harus menjadi yang terakhir. "Saya tidak pernah mendengar jawaban," ujarnya. Meski demikian, ia tetap bertahan, merawat sinagoge dan berharap para wisatawan yang datang dapat membantu membentuk kuorum untuk ibadah. Ia mengenang masa-masa indah: nyanyian khas Paradesi yang memadukan irama Sephardic dengan elemen folk lokal, aroma ayam cabai buatan ibunya, dan kegembiraan menyambut hari raya. Namun, ia juga menyadari bahwa kenangan itu akan lenyap bersamanya. "Saya lahir sebagai Yahudi di India dan saya akan mati di India sebagai Yahudi," katanya, sebuah pernyataan yang mencerminkan keterikatannya yang mendalam pada tanah kelahirannya.
Fenomena kepunahan komunitas Yahudi Cochin ini menarik untuk dicermati, terutama dalam konteks Indonesia yang juga memiliki sejarah toleransi beragama yang kaya. Di Indonesia, keberagaman sering kali dirayakan, namun juga diuji oleh arus intoleransi. Kisah Kochi mengingatkan bahwa harmoni antaragama bukanlah hal yang mustahil, tetapi juga rapuh dan membutuhkan upaya nyata untuk menjaganya. Ketika komunitas kecil seperti Yahudi Cochin punah, bukan hanya ritual dan tradisi yang hilang, tetapi juga jalinan sosial yang telah terbangun selama berabad-abad. Pertanyaannya, akankah ada generasi penerus yang bersedia mengambil alih tongkat estafet pelestarian ini, ataukah kisah mereka akan menjadi catatan sejarah yang hanya dikenang di museum?



