Roku Cetak Pendapatan Kuartal II di Atas Ekspektasi: Iklan dan Langganan Jadi Motor Pertumbuhan
Baca dalam 60 detik
- Pendapatan Roku melonjak 21,6% menjadi US$1,35 miliar, melampaui perkiraan analis berkat iklan dan langganan.
- Akuisisi Roku oleh Fox senilai US$22 miliar ditargetkan rampung pada paruh pertama 2027, menyatukan konten dan distribusi streaming.
- Pertumbuhan ini dipicu oleh pergeseran penonton dari TV tradisional ke streaming, dengan Piala Dunia FIFA sebagai katalis tambahan.

Platform streaming Roku berhasil membukukan pendapatan kuartal kedua yang melampaui perkiraan analis, didorong oleh kinerja segmen iklan dan langganan yang solid. Pada periode yang berakhir 30 Juni, perusahaan mencatat pendapatan total US$1,35 miliar, tumbuh 21,6% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini mengungguli konsensus pasar yang diproyeksikan LSEG sebesar US$1,30 miliar, menandakan daya tarik layanan streaming di tengah persaingan ketat industri.
Pencapaian ini menjadi angin segar bagi Roku yang tengah menanti penyelesaian akuisisi oleh Fox Corp senilai US$22 miliar. Kesepakatan yang diumumkan sebelumnya itu diharapkan rampung pada paruh pertama 2027, menyatukan kekayaan konten Fox dengan jaringan distribusi streaming Roku yang luas. Langkah ini dipandang sebagai upaya strategis untuk memperkuat posisi di pasar streaming yang semakin kompetitif, sekaligus menjawab tantangan dari raksasa seperti Netflix dan Disney+.
Kinerja keuangan Roku tidak lepas dari pergeseran perilaku konsumen yang semakin meninggalkan televisi tradisional. Sebagai distributor konten, Roku menghadirkan aplikasi streaming dari berbagai penyedia seperti Paramount dan Netflix, menjadikannya pintu gerbang utama bagi penonton yang beralih ke platform digital. Selain itu, perusahaan gencar meningkatkan teknologi periklanan dan alat penemuan konten untuk menjaga keterlibatan pengguna serta menarik minat pengiklan yang membidik segmen cord-cutters.
Pendapatan iklan Roku naik 25% menjadi US$673 juta, sementara pendapatan langganan melonjak 26% menjadi US$548 juta. Kedua segmen ini diuntungkan oleh ajang Piala Dunia FIFA yang berlangsung pada periode tersebut, yang mendorong belanja iklan dan peningkatan jumlah pelanggan. Hasil ini sejalan dengan kinerja Fox yang juga melampaui estimasi pendapatan dan laba kuartal keempat, dengan Piala Dunia menjadi pendorong utama penjualan iklan di tengah siklus berita yang padat.
Bagi pasar Indonesia, perkembangan ini memberikan sinyal penting tentang arah industri streaming global. Pertumbuhan Roku menunjukkan bahwa model bisnis yang mengandalkan iklan dan langganan masih memiliki ruang besar, terutama di kawasan Asia Tenggara yang penetrasi internetnya terus meningkat. Platform streaming lokal seperti Vidio, Mola, dan RCTI+ dapat mengambil pelajaran dari strategi Roku dalam memanfaatkan data pengguna untuk menargetkan iklan secara lebih efektif, serta menjalin kemitraan konten yang luas.
Namun, akuisisi oleh Fox juga menimbulkan pertanyaan tentang konsolidasi industri. Jika kesepakatan ini berhasil, Fox akan memiliki kendali atas salah satu platform distribusi streaming terbesar di Amerika Serikat, yang dapat memengaruhi negosiasi konten dengan penyedia lain. Dampaknya bisa merembet ke pasar global, termasuk Indonesia, di mana harga konten dan akses distribusi menjadi faktor kunci dalam persaingan layanan streaming.
Ke depan, Roku perlu membuktikan bahwa pertumbuhan ini bukan sekadar momentum sesaat. Tantangan utama adalah mempertahankan pertumbuhan pendapatan iklan di tengah ketidakpastian ekonomi global dan persaingan dari platform berbasis langganan. Pertanyaan yang menggantung: mampukah Roku mempertahankan momentum ini hingga akuisisi Fox tuntas, dan bagaimana strategi integrasi akan memengaruhi pengalaman pengguna serta mitra konten?



