BRIN Siapkan Senjata Teknologi Hadapi El Nino: Modifikasi Cuaca hingga Desalinasi
Baca dalam 60 detik
- BRIN mengembangkan teknologi modifikasi cuaca, desalinasi, dan pengolahan air untuk menghadapi El Nino yang diprediksi lebih panas dan kering.
- Presiden Prabowo secara langsung meninjau dan mencoba hasil teknologi Arsinum yang mengubah air banjir menjadi air minum.
- BMKG mencatat indeks ENSO +1,59 (kategori kuat) dengan potensi meningkat, mengancam ketahanan air dan pangan di wilayah selatan Indonesia.

Menghadapi ancaman El Nino yang diprediksi lebih ekstrem, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mempercepat pengembangan teknologi ketahanan air, mulai dari modifikasi cuaca hingga desalinasi air laut. Langkah ini merupakan respons langsung atas instruksi Presiden Prabowo Subianto yang ingin memastikan Indonesia siap menghadapi musim kemarau yang lebih panjang dan kering dari biasanya.
Kepala BRIN Arif Satria mengungkapkan, dalam pertemuan di Istana Kepresidenan Jakarta pekan lalu, Presiden Prabowo secara khusus meminta BRIN menyempurnakan teknologi modifikasi cuaca. Penyempurnaan itu mencakup penggunaan natrium klorida (NaCl) berukuran 2-5 mikron, teknologi flare, serta pemanfaatan drone untuk meningkatkan efektivitas operasi hujan buatan. "Pada prinsipnya El Nino tahun ini panjangnya relatif sama, namun lebih panas dan lebih kering," kata Arif, Kamis.
Selain modifikasi cuaca, BRIN juga memamerkan teknologi desalinasi yang telah diterapkan di 40 wilayah pesisir. Teknologi ini dinilai strategis untuk menyediakan air baku di daerah yang kekurangan air tawar. Lebih jauh, BRIN memperkenalkan teknologi Arsinum yang mampu mengolah air banjir, air limbah, dan air payau menjadi air siap minum. Menariknya, Presiden Prabowo bersama Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dan Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono sempat mencicipi langsung air hasil olahan teknologi tersebut.
Langkah BRIN ini tidak berhenti pada pengolahan air permukaan. Presiden juga meminta identifikasi potensi sungai bawah tanah sebagai sumber air baku alternatif. BRIN tengah mengembangkan teknologi pemetaan aliran sungai bawah tanah sekaligus mengolah air yang mengandung bakteri Escherichia coli (E. coli). Sebagai wujud nyata, BRIN akan membangun living laboratory di Kebumen, Jawa Tengah, untuk mengembangkan teknologi pengolahan air bawah tanah. Kajian serupa juga dilakukan di Gunungkidul, Lombok, dan sejumlah daerah lain yang memiliki potensi sungai bawah tanah.
Di balik terobosan teknologi ini, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan peringatan serius. Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyatakan El Nino telah mencapai kategori kuat dengan indeks ENSO +1,59 dan masih berpotensi meningkat menjadi sangat kuat. Akibatnya, curah hujan pada Agustus hingga September 2026 diperkirakan berada pada kategori rendah hingga sangat rendah, sebelum musim hujan mulai datang pada pertengahan Oktober 2026. Dampak terbesar akan dirasakan di wilayah selatan garis khatulistiwa, seperti Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Bali, Jawa, Sumatera bagian selatan, dan Papua bagian selatan.
Bagi Indonesia, El Nino bukan sekadar fenomena iklim, melainkan ancaman nyata terhadap ketahanan pangan, energi, dan air. Sektor pertanian menjadi yang paling rentan, diikuti oleh penyediaan air bersih, pengelolaan waduk dan irigasi, kebakaran hutan dan lahan, hingga aktivitas ekonomi masyarakat. Investasi BRIN dalam teknologi modifikasi cuaca dan pengolahan air diharapkan mampu menjadi tameng, namun efektivitasnya masih perlu diuji di lapangan.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah sejauh mana teknologi-teknologi ini dapat diintegrasikan ke dalam kebijakan nasional dan didanai secara berkelanjutan. Apakah BRIN mampu memperluas implementasi desalinasi dan Arsinum ke lebih banyak daerah, atau akankah teknologi ini hanya menjadi proyek percontohan? Dengan El Nino yang semakin intensif, jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan ketahanan Indonesia menghadapi krisis iklim yang kian nyata.



