Ben Stokes Incar Kursi Pelatih Timnas Inggris: Ambisi Baru Sang Legenda
Baca dalam 60 detik
- Mantan kapten Inggris, Ben Stokes, mengaku ingin menjadi pelatih tim nasional suatu hari nanti, sebuah langkah yang mengejutkan banyak pihak.
- Stokes juga mengkritik keputusan menunjuk Joe Root sebagai kapten Test baru, yang dinilainya berisiko mengulang beban mental yang pernah dialami Root.
- Keputusan ini menandai era baru kriket Inggris pasca-Stokes, dengan tantangan besar untuk kembali berjaya di pentas internasional.

Ben Stokes, legenda kriket Inggris yang baru saja pensiun dari tim nasional, mengungkapkan ambisinya untuk menjadi pelatih timnas di masa depan. Pernyataan ini disampaikan dalam podcast 'For the Love of Cricket', menandai babak baru dalam karier pria 35 tahun yang telah mengukir segudang prestasi.
Stokes, yang pensiun secara mengejutkan pada Juni lalu di tengah seri melawan Selandia Baru, mengaku sedang menempuh lisensi kepelatihan level tiga. "Saya ingin semua sertifikasi itu selesai sebelum saya gantung sepatu," ujarnya. Ambisi ini muncul di tengah periode transisi timnas Inggris yang sedang mencari stabilitas setelah ditinggal kapten-kapten seniornya.
Selain mengungkapkan rencana masa depannya, Stokes juga melontarkan kritik terhadap penunjukan Joe Root sebagai kapten Test yang baru. Ia mengaku heran mengapa Harry Brook, yang selama ini menjadi wakil kapten, tidak dipilih untuk menggantikannya. "Jika Anda menganggap seseorang akan menjadi pemimpin yang baik, berikan saja kesempatan itu," kata Stokes, menyiratkan kebingungan atas pesan yang ingin disampaikan manajemen tim.
Kekhawatiran Stokes terhadap Root bukan tanpa alasan. Root pernah menjabat kapten Test pada 2017-2022 dan mengaku pekerjaan itu "menguras kesehatannya". Ia mundur setelah serangkaian hasil buruk, termasuk kekalahan telak dari Australia. Stokes khawatir beban serupa akan kembali menghantui Root, yang kini harus bekerja sama dengan pelatih baru Stephen Fleming.
Di sisi lain, Stokes menegaskan bahwa keputusannya pensiun sudah final. Ia menolak spekulasi bahwa ia akan kembali untuk Ashes 2027. "Definitif," jawabnya tegas ketika ditanya oleh Jos Buttler. Sikap ini menunjukkan bahwa ia benar-benar menutup babak sebagai pemain dan siap menatap masa depan di luar lapangan.
Bagi pengamat kriket Indonesia, dinamika ini menarik untuk dicermati. Meski kriket belum sepopuler sepak bola di tanah air, perkembangan tim sekelas Inggris bisa menjadi pelajaran tentang manajemen transisi kepemimpinan. Bagaimana sebuah tim besar mengelola pergantian kapten dan pelatih secara bersamaan, serta menjaga performa di tengah tekanan, adalah hal yang relevan bagi perkembangan olahraga di Indonesia.
Keputusan menunjuk Root sebagai kapten permanen, dengan Fleming sebagai pelatih, menunjukkan bahwa Inggris memilih pengalaman daripada potensi. Namun, kritik Stokes menggarisbawahi dilema yang sering dihadapi manajemen olahraga: apakah lebih baik mempercayai pemain muda yang sedang naik daun, atau kembali pada sosok yang sudah teruji meski memiliki luka lama?
"Saya hanya khawatir dengan Joe. Saya tahu apa yang dia alami sebelumnya, dan saya tidak ingin itu terulang lagi," ujar Stokes, menggambarkan kedekatan emosionalnya dengan Root.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Root mampu membawa Inggris bangkit dari keterpurukan, dan apakah Stokes benar-benar akan duduk di kursi pelatih suatu hari nanti. Jika ya, akankah ia mampu menciptakan generasi emas baru seperti yang pernah ia lakukan sebagai pemain? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi satu hal yang pasti: kriket Inggris memasuki era baru yang penuh ketidakpastian sekaligus harapan.



