Turis Eropa Banjiri Vietnam: 13,9 Juta Kunjungan Asing dalam 7 Bulan, Rusia Tumbuh 174%
Baca dalam 60 detik
- Vietnam mencatat 13,9 juta kunjungan wisatawan mancanegara pada Januari–Juli 2026, tumbuh 13,8% dibanding periode sama tahun lalu.
- Eropa menjadi pasar dengan pertumbuhan tercepat (53,4%), didorong lonjakan turis Rusia yang melesat 174% berkat pemulihan penerbangan langsung.
- Dengan target 25 juta kunjungan tahun ini, Vietnam mengandalkan musim puncak akhir tahun serta kebijakan bebas visa untuk mempertahankan momentum.

Vietnam mencatat lonjakan signifikan kunjungan wisatawan mancanegara: 13,9 juta orang dalam tujuh bulan pertama 2026, tumbuh 13,8% dibanding periode yang sama tahun lalu. Angka ini setara 56% dari target 25 juta kunjungan sepanjang tahun, dengan Eropa muncul sebagai pasar dengan pertumbuhan tercepat—rata-rata naik 53,4%.
Badan Statistik Nasional Vietnam melaporkan bahwa pada Juli saja, negara itu menerima 1,67 juta wisatawan asing, naik 6,6% year-on-year. Dari total kunjungan Januari–Juli, sebanyak 11,5 juta orang (82,8%) tiba melalui udara, sementara jalur darat menyumbang 2,2 juta kunjungan (naik 33,6%) dan jalur laut 210.900 kunjungan (naik 14,7%). Capaian ini diraih di tengah ketidakpastian ekonomi global dan musim sepi kunjungan tradisional.
Otoritas pariwisata Vietnam mengaitkan pertumbuhan ganda ini dengan kebijakan visa yang longgar, konektivitas udara yang meluas, promosi yang agresif, serta perbaikan produk dan layanan wisata. Rusia menjadi bintang utama: 864.000 turis Rusia datang, melonjak 174% dibanding tujuh bulan pertama 2025 dan lebih dari dua kali lipat level pra-pandemi 2019. Pemulihan rute penerbangan langsung dan frekuensi yang meningkat, ditambah minat besar turis Rusia pada destinasi pantai Vietnam, menjadi pendorong utamanya.
China tetap menjadi pasar sumber terbesar dengan 3,1 juta kunjungan (22,2% dari total), disusul Korea Selatan (2,4 juta). Taiwan (747.000), Jepang (498.000), dan Kamboja (565.000) juga masuk dalam sepuluh besar. India mencatat 553.000 kunjungan, menegaskan pentingnya pasar Asia Selatan. Sementara itu, pasar jarak jauh seperti Amerika Serikat (617.000) dan Australia (397.000) juga tumbuh sehat.
Kebijakan bebas visa untuk sejumlah negara Eropa terbukti efektif. Polandia mencatat kenaikan 51,3%, Republik Ceko 28,6%, Swedia 24,7%, dan Swiss 21,7%. Wisatawan Eropa dikenal tinggal lebih lama dan membelanjakan lebih banyak, sehingga memberikan nilai tambah yang besar bagi sektor pariwisata. Di Asia, Filipina tumbuh paling cepat (63,6%), diikuti India (42,9%), Kamboja (40,8%), Singapura (31%), Indonesia (27,3%), dan Malaysia (21,6%).
Bagi Indonesia, kinerja Vietnam ini menjadi cermin persaingan regional. Dengan pertumbuhan kunjungan dari Indonesia ke Vietnam yang mencapai 27,3%, tampak bahwa wisatawan Nusantara semakin tertarik ke destinasi Vietnam. Hal ini menuntut industri pariwisata Indonesia untuk berbenah, terutama dalam hal kemudahan visa, konektivitas penerbangan, dan promosi yang lebih agresif, agar tidak kalah bersaing di pasar Asia Tenggara.
“Kebijakan bebas visa dan perluasan rute penerbangan adalah kunci utama. Vietnam membuktikan bahwa kombinasi ini mampu mendongkrak kunjungan secara signifikan,” ujar analis pariwisata regional.
Memasuki musim puncak yang dimulai akhir September, Vietnam optimistis dapat mengejar target 25 juta kunjungan. Namun, pertanyaannya adalah apakah pertumbuhan ini berkelanjutan atau hanya efek pemulihan pasca-pandemi. Dengan ketidakpastian ekonomi global dan perubahan preferensi wisatawan, Vietnam perlu terus berinovasi. Bagi Indonesia, pelajaran berharga bisa diambil: kebijakan yang tepat dan promosi yang gencar mampu mengubah tren kunjungan secara drastis.



