Min Aung Hlaing Kunjungi Thailand: Upaya Rehabilitasi atau Pengakuan Terselubung?
Baca dalam 60 detik
- Pemimpin Myanmar, Min Aung Hlaing, akan melakukan kunjungan resmi pertamanya ke Thailand sejak menjadi presiden, menandai upaya diplomatik untuk kembali ke pergaulan internasional.
- Kunjungan ini menuai kritik dari kelompok masyarakat sipil karena Min Aung Hlaing masih menjadi buronan ICC dan dituduh melakukan kejahatan kemanusiaan.
- Thailand berharap kunjungan ini dapat meningkatkan kerja sama bilateral, termasuk memerangi jaringan penipuan siber dan perdagangan narkoba di perbatasan.

Bangkok, 5 Agustus 2026 โ Mantan jenderal junta Myanmar, Min Aung Hlaing, dijadwalkan tiba di Bangkok pada Kamis (6/8) untuk kunjungan resmi pertamanya sebagai presiden sipil. Langkah ini dipandang sebagai upaya untuk memulihkan citra dan kembali diterima di kancah diplomatik regional, meski masih dibayangi tuduhan kejahatan kemanusiaan.
Min Aung Hlaing, yang memimpin kudeta militer pada 2021 yang menggulingkan pemimpin terpilih Aung San Suu Kyi, kini mencoba merangkul kembali negara-negara tetangga. Sejak dilantik sebagai presiden pada April lalu setelah pemilu yang dianggap palsu oleh pengamat, ia telah melakukan tur diplomatik ke India, China, dan Laos. Kunjungan ke Thailand ini menjadi ujian nyata bagi upayanya untuk keluar dari isolasi internasional.
Thailand, sebagai negara yang berbatasan langsung dengan Myanmar, memiliki kepentingan strategis untuk menjalin hubungan baik. Konflik berk berkepanjangan di Myanmar telah menyebabkan gelombang pengungsi melintasi perbatasan, serta maraknya jaringan penipuan siber dan perdagangan narkoba di wilayah perbatasan. Menteri Luar Negeri Thailand, Sihasak Phuangketkeow, menegaskan bahwa isu-isu ini akan menjadi agenda utama dalam pertemuan bilateral.
Namun, langkah Thailand ini tidak luput dari kritik. Kelompok advokasi seperti Justice For Myanmar mengecam keras rencana penyambutan resmi tersebut. Mereka menilai bahwa memberikan sambutan kehormatan kepada Min Aung Hlaing sama saja dengan melegitimasi kekuasaannya yang dihasilkan dari kudeta dan pemilu yang curang. Min Aung Hlaing sendiri telah masuk daftar buronan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) atas tuduhan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Di sisi lain, analis independen Myanmar, David Mathieson, berpendapat bahwa kampanye Min Aung Hlaing untuk kembali ke ASEAN adalah soal "status murni". Ia ingin dianggap sebagai anggota ASEAN yang bertanggung jawab, namun di saat yang sama menolak konsensus lima poin ASEAN yang menyerukan dialog dengan semua pihak. Sikap kontradiktif ini dinilai sebagai contoh logika zero-sum yang justru memperumit upaya perdamaian.
Bagi Indonesia, dinamika ini menarik untuk dicermati. Sebagai salah satu pendiri ASEAN, Indonesia konsisten mendorong dialog dan penyelesaian damai di Myanmar. Namun, pendekatan Thailand yang lebih pragmatis bisa menjadi preseden yang memecah belah solidaritas ASEAN. Indonesia perlu mengawal agar upaya normalisasi hubungan tidak mengorbankan prinsip-prinsip demokrasi dan hak asasi manusia yang selama ini diperjuangkan.
"Min Aung Hlaing harus dimintai pertanggungjawaban atas kejahatannya, bukan diberikan legitimasi palsu," demikian pernyataan tegas dari kelompok Justice For Myanmar.
Kunjungan ini juga akan diwarnai dengan forum bisnis dan jamuan kenegaraan, serta penandatanganan MoU tentang kerja sama tenaga kerja. Bagi Thailand, ini adalah peluang untuk memperkuat pengaruh ekonominya di kawasan. Namun, bagi para pengkritik, ini adalah babak baru dalam drama diplomatik yang penuh kontroversi.
Pertanyaan besarnya, apakah kunjungan ini akan membuka jalan bagi Myanmar untuk kembali ke pergaulan internasional, atau justru memperdalam jurang antara junta dan rakyatnya? Dengan ASEAN yang masih terpecah, masa depan Myanmar tetap menjadi tanda tanya besar. Akankah negara-negara anggota ASEAN tetap teguh pada prinsip, atau akan mengikuti jejak Thailand yang lebih pragmatis? Waktu yang akan menjawab.



