SBI Holdings Nilai Saham Ripple Rp 670 Triliun, XRP Menguat Tipis di Tengah Tekanan Makro
Baca dalam 60 detik
- Konglomerat Jepang SBI Holdings menilai kepemilikan sahamnya di Ripple mencapai ยฅ6,6 triliun (sekitar Rp 670 triliun), sinyal kuat kepercayaan institusional di tengah pelemahan pasar kripto.
- Arus masuk bersih ETF XRP tercatat US$7,69 juta pada 31 Juli, didominasi Bitwise, menandakan minat investor institusional yang mulai merangkak naik.
- Harga XRP masih tertekan di bawah level resistensi US$1,10, dengan pola historis Agustus yang lemah selama empat tahun berturut-turut menjadi ujian sentimen jangka pendek.

Konglomerat finansial Jepang, SBI Holdings, secara mengejutkan menilai kepemilikan sahamnya di Ripple Labs mencapai ยฅ6,6 triliun atau setara US$41,2 miliar (sekitar Rp 670 triliun), sebuah angka yang jauh di atas kapitalisasi pasar XRP yang tercatat sekitar US$67 miliar. Penilaian ini muncul di tengah harga XRP yang masih lesu, namun berhasil mendorong token tersebut menguat tipis 0,36% ke level US$1,0651 dalam perdagangan satu jam terakhir, meski volume transaksi menyusut tajam.
Laporan kuartal pertama SBI Holdings yang dirilis pekan ini mengungkapkan bahwa divisi aset kripto perusahaan justru mencatat kerugian sebelum pajak sebesar ยฅ1,4 miliar. Manajemen SBI secara blak-blakan menyebut bisnis kripto mereka "masih lesu, seperti menunggu kepastian pengesahan CLARITY Act" di Amerika Serikat. Namun, kelemahan di sektor kripto tidak menghentikan grup ini mencetak kinerja kuartalan terbaik sepanjang sejarah: pendapatan ยฅ571 miliar, laba sebelum pajak ยฅ225,8 miliar, dan laba bersih yang melonjak 149,9% secara tahunan menjadi ยฅ148,1 miliar.
Di pasar kripto global, tekanan makro masih mendominasi. Kapitalisasi pasar seluruh aset digital turun 1,6% menjadi US$2,25 triliun, dengan Bitcoin dan Ethereum masing-masing melemah 2,1%. Sektor NFT dan GameFi justru mencatat kenaikan 7% dan 6%, sementara Real World Assets (RWA) dan DeFi terkoreksi 3%. Dalam 24 jam terakhir, volume perdagangan XRP merosot 38% menjadi US$689 juta, menunjukkan minat spekulatif yang mereda meski ada kabar positif dari sisi institusional.
Menariknya, aliran dana masuk ke produk ETF XRP justru menunjukkan tren sebaliknya. Data Sosovalue mencatat total net inflow US$7,69 juta pada 31 Juli, dengan Bitwise XRP ETF menyumbang US$7,11 juta dan Franklin XRP ETF US$576.500. Ini menjadi sinyal bahwa investor institusional mulai melirik XRP sebagai aset jangka panjang, terlepas dari gejolak harga harian. Nilai transaksi rata-rata XRP juga tercatat sebagai yang tertinggi di antara mata uang kripto utama, mengindikasikan pergerakan dana besar dari pemain serius.
Dari sisi teknikal, XRP masih gagal menembus resistance krusial di US$1,10, titik di mana rata-rata pergerakan 50 hari dan 100 hari bertemu. Data historis menunjukkan Agustus secara konsisten menjadi bulan yang lemah bagi XRP selama empat tahun beruntun, sehingga trader cenderung berhati-hati. Analis menilai bahwa tanpa katalis baru yang kuat, harga XRP berisiko tertekan dalam jangka pendek, meskipun fundamental jangka panjang seperti persetujuan regulasi di Uni Eropa dan rencana akumulasi US$1 miliar dari Evernorth masih menjadi pendorong potensial.
Bagi pasar kripto Indonesia, kabar ini menjadi pengingat bahwa kepercayaan institusional terhadap Ripple tetap kokoh meski harga sedang tertekan. SBI Holdings, yang juga memiliki kemitraan dengan sejumlah perusahaan di Asia Tenggara, dapat menjadi jembatan adopsi XRP di kawasan ini. Namun, investor ritel di dalam negeri perlu mencermati bahwa sentimen makro global, terutama kebijakan suku bunga The Fed, masih menjadi penentu utama pergerakan harga jangka pendek. Pertanyaannya, akankah penilaian berani SBI ini menjadi katalis yang mampu mendorong XRP menembus level US$1,10, atau justru hanya menjadi catatan kaki di tengah dominasi ketidakpastian ekonomi makro? Semua akan terjawab dalam beberapa pekan ke depan.



