Tekanan Jual Institusional Menekan Bitcoin: Rencana Penjualan Strategy Senilai US$5 Miliar Jadi Pemicu
Baca dalam 60 detik
- Harga Bitcoin merosot sekitar 2% ke US$63.039 setelah Strategy mengumumkan rencana penjualan aset kripto senilai US$5 miliar untuk mendanai dividen dan pembelian kembali saham.
- Arus keluar dari ETF Bitcoin spot, terutama BlackRock IBIT yang mencatat penebusan 1.948 BTC, menambah tekanan jual di tengah lesunya momentum regulasi di AS.
- Level support US$62.400 menjadi penentu arah; jika ditembus, analis memperkirakan koreksi menuju US$61.111, meski indikator teknis menunjukkan kondisi mendekati jenuh jual.

Harga Bitcoin tergelincir sekitar 2% ke level US$63.039 pada perdagangan Kamis (31/7), mencerminkan tekanan jual yang datang dari dua arah: penebusan besar-besaran pada produk ETF spot dan rencana korporasi raksasa untuk melepas kepemilikan aset kripto mereka. Aksi jual ini terjadi di tengah sentimen pasar yang rapuh, dengan total kapitalisasi pasar aset digital menyusut 1,6% menjadi US$2,25 triliun.
Strategy, perusahaan yang sebelumnya dikenal sebagai MicroStrategy, menjadi sorotan utama setelah mengumumkan niatnya menjual kepemilikan Bitcoin senilai hingga US$5 miliar. Dana hasil penjualan tersebut akan dialokasikan untuk pembayaran dividen dan program pembelian kembali saham. Langkah ini menandai perubahan signifikan dari strategi akumulasi agresif yang selama ini menjadi ciri khas perusahaan pimpinan Michael Saylor tersebut.
Bersamaan dengan itu, arus keluar dari produk investasi berbasis Bitcoin juga kian deras. BlackRock, melalui produk iShares Bitcoin Trust (IBIT), mencatat penebusan 1.948 BTC atau setara US$123 juta pada hari yang sama. Kombinasi dua faktor ini menciptakan tekanan jual yang langsung terukur di pasar, mengalahkan permintaan marginal yang ada.
Ethereum (ETH) juga tak luput dari koreksi, turun 2,1% ke US$1.870. Sektor-sektor lain mencatat kinerja beragam: NFT dan GameFi justru menguat masing-masing 7% dan 6%, sementara Real-World Assets (RWA) dan DeFi terkoreksi 3%. Kondisi ini menunjukkan rotasi modal yang terjadi di dalam ekosistem kripto, dengan investor mulai melirik aset-aset yang lebih niche.
Di sisi regulasi, momentum pengesahan CLARITY Act di Amerika Serikat mulai meredup. RUU yang dinilai mampu memberikan kejelasan struktur pasar aset kripto ini diperkirakan tidak akan lolos di Senat sebelum reses Agustus. Kondisi ini menghilangkan katalis positif yang sempat dinantikan pelaku pasar. Ditambah lagi, kinerja keuangan kuartal kedua yang mengecewakan dari sejumlah perusahaan kripto besar, termasuk Coinbase yang sahamnya anjlok lebih dari 10%, semakin memperburuk sentimen sektoral.
Dari sisi teknikal, Bitcoin saat ini sedang menguji level support US$62.400 yang merupakan titik terendah dua pekan. Indikator Relative Strength Index (RSI) 7 hari berada di angka 36,8, mengindikasikan pasar mendekati kondisi jenuh jual. Namun, harga yang masih berada di bawah rata-rata pergerakan utama mengonfirmasi struktur bearish jangka pendek. Analis memperkirakan jika level US$62.400 ditembus dan ditutup di bawahnya, potensi likuidasi beruntun bisa mendorong harga menuju support Fibonacci berikutnya di US$61.111.
Bagi investor Indonesia, pergerakan ini patut dicermati mengingat tingginya minat masyarakat terhadap aset kripto. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bappebti telah mengatur perdagangan aset digital di dalam negeri, namun volatilitas yang tinggi tetap menjadi risiko utama. Koreksi yang dipicu oleh aksi jual institusional global ini bisa menjadi pengingat bahwa pasar kripto sangat rentan terhadap sentimen eksternal, termasuk kebijakan moneter AS dan arus dana ETF.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah aksi jual ini akan berlanjut atau justru menjadi titik balik. Tanpa adanya katalis positif, baik dari sisi regulasi maupun fundamental, kecenderungan pasar masih sideways. Namun, kondisi jenuh jual yang terukur bisa membuka peluang rebound jangka pendek bagi investor yang berani mengambil risiko. Yang jelas, aksi korporasi seperti yang dilakukan Strategy akan terus menjadi variabel yang memengaruhi pergerakan harga Bitcoin dalam beberapa pekan ke depan.



