Negeri Sembilan: BN-PN Klaim Kemenangan Besar, Anwar Terpukul di Depan Mata
Baca dalam 60 detik
- Koalisi BN-PN mengklaim merebut 25 dari 36 kursi DPRD Negeri Sembilan, menggeser dominasi PH yang sebelumnya memegang 17 kursi.
- Kekalahan tokoh-tokoh utama PH seperti Anthony Loke dan Aminuddin Harun menandakan pergeseran dukungan pemilih Melayu-Muslim yang signifikan.
- Hasil ini berpotensi memicu percepatan pemilihan umum federal di Malaysia, mengingat tekanan politik terhadap Perdana Menteri Anwar Ibrahim semakin besar.

Koalisi Barisan Nasional (BN) dan Perikatan Nasional (PN) mengklaim kemenangan telak dalam pemilihan umum negara bagian Negeri Sembilan, Sabtu (1/8), dengan meraih 25 dari 36 kursi legislatif. Jika hasil ini dikonfirmasi oleh Komisi Pemilihan Umum (EC) Malaysia, maka koalisi pimpinan Ahmad Zahid Hamidi itu akan membentuk pemerintahan supermayoritas, sekaligus menjadi pukulan telak bagi Perdana Menteri Anwar Ibrahim yang koalisinya, Pakatan Harapan (PH), diperkirakan kehilangan banyak kursi.
Klaim kemenangan ini disampaikan langsung oleh Ahmad Zahid Hamidi di ruang kendali BN di markas UMNO Seremban, sekitar pukul 21.10 waktu setempat. Menurut Zahid yang juga menjabat Wakil Perdana Menteri, BN meraih 18 kursi dan PN tujuh kursi. "Kesepahaman politik antara BN dan PN dalam pemilihan ini akan menghasilkan pemerintahan yang stabil," ujarnya di hadapan ribuan pendukung yang merayakan kemenangan tersebut.
Kemenangan ini, jika resmi, menjadi pembalikan dramatis peta politik Negeri Sembilan. Pada pemilihan 2023, BN dan PH justru beraliansi, dengan BN meraih 14 kursi dan PH 17 kursi. Kini, narasi persatuan Melayu-Muslim yang digaungkan PN tampaknya berhasil menggerus basis dukungan PH, terutama di daerah-daerah dengan mayoritas pemilih Melayu. Dua tokoh penting PH, Menteri Perhubungan Anthony Loke dan Penjabat Kepala Menteri Aminuddin Harun, dilaporkan kalah di daerah pemilihan masing-masing. Loke yang telah memegang kursi Chennah selama tiga periode harus mengakui keunggulan lawannya dari BN, John Siow Chong Kun, dengan selisih kurang dari 500 suara.
Kekalahan ini menjadi yang ketiga beruntun bagi Anwar setelah PH juga menelan kekalahan di Johor dan Sabah. Dalam pidato konsesinya, Loke mencoba menenangkan pendukungnya. "Saya berterima kasih kepada semua. Jangan berkecil hati atau kecewa. Kami akan terus bersama kalian semua," katanya dalam video yang diunggah di media sosial. Namun, kekalahan ini jelas meninggalkan luka besar bagi PH yang hanya diperkirakan meraih 11 kursi, turun dari 17 kursi sebelumnya.
Pemilihan Negeri Sembilan ini sendiri merupakan pemilihan mendadak yang dipicu oleh kebuntuan politik terkait dua klaim takhta kerajaan. Aminuddin selaku kepala daerah saat itu membubarkan DPRD setelah 14 anggota UMNO menarik dukungan mereka. Meski di tingkat federal BN dan PH tergabung dalam pemerintahan, di tingkat negara bagian mereka justru bertarung langsung. Ketegangan ini diperparah dengan mundurnya empat anggota DAP di Melaka, partai yang dipimpin Loke.
Bagi Indonesia, dinamika politik Malaysia ini patut dicermati. Stabilitas politik di negara tetangga berdampak langsung pada hubungan bilateral, terutama dalam hal investasi dan perdagangan. Perubahan peta kekuatan di Malaysia bisa memengaruhi kebijakan luar negerinya, termasuk kerja sama di kawasan ASEAN. Investor Indonesia yang memiliki kepentingan di Malaysia juga perlu mengantisipasi potensi perubahan arah kebijakan ekonomi jika terjadi perombakan kabinet di tingkat federal.
Analis politik menilai kekalahan ini bisa mendorong Anwar untuk mempercepat pemilihan umum federal, meskipun batas waktunya masih hingga 2028. Dukungan dari partai-partai dalam pemerintahannya, termasuk BN, diuji oleh hasil ini. Pertanyaannya, akankah Anwar bertahan hingga akhir masa jabatan atau memilih jalan pintas dengan membubarkan parlemen? Keputusan ini akan menentukan arah politik Malaysia dalam beberapa tahun ke depan, dan tentu saja akan menjadi sorotan bagi kawasan.



