Gempa Jepang: Pencarian Korban di Mal Aeon Dihentikan, 36 Tewas
Baca dalam 60 detik
- Operasi penyelamatan di Aeon Mall Kumamoto resmi berakhir setelah 12 orang dievakuasi, tujuh di antaranya ditemukan meninggal.
- Gempa berkekuatan 7,1 SR yang melanda Kumamoto pada Selasa lalu memicu ledakan di pusat perbelanjaan dan meratakan sejumlah bangunan.
- Dampak gempa masih terasa: 59.000 rumah tangga kekurangan air bersih dan lebih dari 9.000 warga mengungsi di tempat penampungan.

Pencarian korban di pusat perbelanjaan Aeon Mall Kumamoto, Jepang barat daya, resmi dihentikan pada Sabtu (1/8/2026). Tim penyelamat berhasil mengevakuasi 12 orang dari reruntuhan, tujuh di antaranya ditemukan tewas. Total korban jiwa akibat gempa berkekuatan 7,1 magnitudo yang mengguncang wilayah itu pada Selasa lalu kini mencapai 36 orang.
Keputusan mengakhiri operasi diambil setelah dua hari penyisiran menyeluruh yang melibatkan pemadam kebakaran, Pasukan Bela Diri Jepang, dan kepolisian regional. Seorang pejabat kepolisian dalam rapat penanggulangan bencana menyatakan tidak ada lagi warga yang dilaporkan hilang di lokasi. Sementara itu, juru bicara Aeon, operator mal tersebut, mengonfirmasi bahwa tujuh korban tewas merupakan karyawan toko penyewa di dalam gedung.
Sebelumnya, pada Jumat, operasi serupa juga diakhiri di pabrik kertas setempat setelah sembilan jenazah ditemukan dan dua korban selamat berhasil dievakuasi. Reruntuhan pabrik yang disebabkan runtuhnya cerobong asap menjadi salah satu titik terparah dalam bencana ini.
Gempa yang melanda kawasan barat daya Jepang ini menimbulkan kerusakan masif. Rumah-rumah roboh, jembatan rusak, dan kebakaran terjadi di sejumlah titik. Suhu panas yang menyengat memperparah kondisi para pengungsi, banyak di antaranya lanjut usia. Hingga Sabtu, lebih dari 9.000 orang masih bertahan di tempat penampungan, sementara pasokan listrik sebagian besar telah pulih, namun 59.000 rumah tangga masih kekurangan air bersih.
Bencana ini kembali mengingatkan pada sejarah kelam Kumamoto. Pada 2016, dua gempa dahsyat menewaskan 273 orang dan melukai lebih dari 2.800 jiwa. Jepang sendiri merupakan salah satu negara paling rawan gempa di dunia, berada di atas empat lempeng tektonik utama di sepanjang Cincin Api Pasifik. Kejadian ini menegaskan pentingnya kesiapsiagaan dan infrastruktur tahan gempa, sebuah pelajaran yang relevan bagi Indonesia yang juga berada di kawasan rawan seismik.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya sistem peringatan dini dan tata ruang yang memperhatikan risiko bencana. Meski Jepang memiliki standar bangunan yang ketat, gempa berkekuatan besar tetap mampu menimbulkan korban jiwa. Pertanyaannya, apakah Indonesia sudah cukup siap menghadapi skenario serupa? Evaluasi menyeluruh terhadap kesiapan infrastruktur dan prosedur evakuasi menjadi langkah krusial yang tak bisa ditunda.



