Pochettino Perpanjang Kontrak Hingga Piala Dunia 2030: Misi Besar Sepak Bola AS
Baca dalam 60 detik
- Pelatih asal Argentina itu meneken kesepakatan baru dengan Federasi Sepak Bola AS (US Soccer) yang mengikatnya hingga turnamen empat tahunan edisi 2030.
- Perpanjangan kontrak ini menjadi sinyal ambisi jangka panjang USMNT setelah sukses menembus babak 16 besar Piala Dunia 2026 yang digelar di kandang sendiri.
- Langkah ini juga berpotensi mempengaruhi peta persaingan sepak bola global, termasuk bagi tim-tim Asia dan Indonesia yang kerap berhadapan dengan AS di ajang internasional.

Federasi Sepak Bola Amerika Serikat (US Soccer) resmi mengumumkan perpanjangan kontrak pelatih tim nasional putra, Mauricio Pochettino, hingga Piala Dunia 2030. Keputusan ini diumumkan pada Senin (3/8) waktu setempat, hanya beberapa pekan setelah skuad asuhannya tersingkir di babak 16 besar Piala Dunia 2026 yang berlangsung di kandang sendiri. Langkah ini menegaskan komitmen jangka panjang federasi terhadap proyek pembangunan sepak bola AS yang tengah naik daun.
Pochettino, yang berusia 54 tahun, awalnya diikat kontrak hingga Piala Dunia 2026. Namun, performa impresif di turnamen tersebut—di mana AS memuncaki grup yang berisi Australia, Paraguay, dan Turki—membuat federasi bergerak cepat mengamankan masa depannya. Enam poin yang diraih di fase grup merupakan catatan tertinggi sepanjang sejarah tim pria AS di Piala Dunia, sebuah pencapaian yang sulit diabaikan.
Perpanjangan kontrak ini bukan sekadar formalitas. CEO US Soccer, JT Batson, dalam rilis resminya menegaskan bahwa Pochettino dan stafnya percaya pada masa depan sepak bola di Negeri Paman Sam. "Proyek baru ini memungkinkan kami membangun progres USMNT dan momentum US Soccer," ujarnya. Ini adalah sinyal bahwa federasi tidak ingin kehilangan momentum setelah sukses relatif di turnamen yang mereka tuan rumahi bersama Kanada dan Meksiko.
Namun, perjalanan Pochettino bersama AS tidak selalu mulus. Setelah melewati fase grup dengan gemilang, anak asuhnya harus mengakui keunggulan Belgia dengan skor telak 4-1. Kekalahan itu menjadi tamparan bagi tim yang berharap melaju jauh di hadapan pendukung sendiri. Meski demikian, federasi menilai bahwa progres yang ditunjukkan selama dua tahun terakhir lebih penting daripada hasil akhir yang mengecewakan.
Pochettino sendiri menyambut positif perpanjangan kontrak ini. "Bekerja sama dengan US Soccer selama dua tahun terakhir, kami melihat potensi luar biasa untuk membuat program tim nasional pria semakin kuat," katanya. Ia juga menyebut antusiasme para penggemar selama Piala Dunia sebagai bahan bakar keyakinan akan masa depan sepak bola AS. Pelatih yang dikenal dengan gaya pressing tinggi dan serangan atraktif ini optimistis bisa membawa timnya berkompetisi di level tertinggi.
"Semangat yang kami rasakan dari para penggemar sepanjang Piala Dunia hanya memperkuat keyakinan kami tentang apa yang mungkin terjadi di sini." — Mauricio Pochettino
Karier kepelatihan Pochettino memang penuh warna. Sebelum menangani AS, ia pernah membawa Southampton finis di posisi kedelapan Premier League pada 2013—catatan terbaik klub saat itu. Ia juga mengantarkan Tottenham Hotspur ke final Liga Champions 2019 dan mempersembahkan gelar Ligue 1 untuk Paris Saint-Germain pada 2022. Setelah meninggalkan Chelsea pada 2024 dengan kesepakatan bersama, ia memilih tantangan baru di Amerika Serikat.
Bagi Indonesia, kabar ini memiliki relevansi tersendiri. Sepak bola AS yang semakin kompetitif bisa menjadi tolok ukur bagi perkembangan sepak bola Asia Tenggara. Dengan Pochettino yang bertahan hingga 2030, AS diprediksi akan menjadi lawan tangguh di berbagai turnamen internasional, termasuk kemungkinan pertemuan dengan Timnas Indonesia di ajang seperti Piala Dunia atau pertandingan persahabatan. Ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pembinaan jangka panjang adalah kunci untuk bersaing di panggung global.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: mampukah Pochettino memenuhi ekspektasi tinggi publik AS yang kini mulai percaya pada timnya? Dengan kontrak hingga 2030, ia punya waktu untuk membangun skuad yang lebih matang. Namun, tekanan untuk meraih hasil di turnamen besar akan selalu ada. Apakah ia bisa membawa AS melampaui babak 16 besar, atau bahkan bersaing memperebutkan gelar? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi satu hal pasti: federasi telah memilih stabilitas di tengah ambisi besar.



