Steiner: MotoGP Punya Potensi Besar di Bawah Liberty Media, Seperti F1 Dua Dekade Lalu
Baca dalam 60 detik
- Mantan bos Haas F1, Guenther Steiner, menilai MotoGP bisa tumbuh besar di bawah Liberty Media, dengan perbandingan seperti F1 sebelum era modern.
- Steiner menyoroti peluang komersial MotoGP yang belum tergarap maksimal, terutama di pasar Amerika Serikat yang kini hanya punya satu seri.
- Ia juga menekankan pentingnya diversifikasi pembalap dan negara tuan rumah agar MotoGP tidak terlalu bergantung pada Spanyol dan Italia.

Guenther Steiner, pemilik tim KTM Tech3 sekaligus mantan prinsipal Haas di Formula One, meyakini MotoGP memiliki potensi pertumbuhan yang sangat besar di bawah kepemilikan baru Liberty Media. Menurutnya, situasi MotoGP saat ini bisa disamakan dengan F1 sekitar dua dekade lalu, sebelum Liberty mengambil alih dan mengubahnya menjadi mesin komersial raksasa.
Berbicara kepada Reuters menjelang Grand Prix Inggris di Silverstone akhir pekan ini, Steiner menilai ajang balap motor tersebut sudah memiliki tontonan yang spektakuler, namun masih menyimpan banyak peluang bisnis yang belum digarap maksimal. "MotoGP tidak harus meniru persis apa yang dilakukan F1, mereka bisa menulis cerita mereka sendiri," ujarnya. "Tidak perlu copy-paste dari balapan."
Steiner, yang kini menjabat CEO KTM Tech3 setelah konsorsiumnya mengambil alih tim pada awal tahun ini, membandingkan transformasi F1 di tangan Liberty Media. "F1 sudah bagus sebelum Liberty, Bernie Ecclestone melakukan pekerjaan luar biasa, tapi Liberty memberikan dorongan tambahan. Saya pikir Liberty bisa melakukan hal yang sama untuk MotoGP, mungkin tidak sebesar F1—tidak semua olahraga bisa menjadi F1—tapi bisa sangat besar," katanya.
Ia menambahkan bahwa MotoGP tidak membutuhkan bantuan dalam hal balapan itu sendiri, melainkan dalam hal presentasi dan kemasan. "MotoGP tidak perlu bantuan untuk balapannya, biarkan saja. Tapi untuk urusan lainnya, soal presentasi, Formula One adalah yang teratas. MotoGP sudah bagus, tapi mereka butuh bantuan dari F1," tegas Steiner.
Liberty Media, yang mengakuisisi hak komersial F1 pada 2017, resmi mengambil alih Dorna Sports—perusahaan induk MotoGP—pada 2024. Langkah ini langsung memicu spekulasi tentang bagaimana raksasa media asal Amerika Serikat itu akan mengembangkan ajang balap motor paling prestisius di dunia.
Salah satu sorotan utama Steiner adalah pasar Amerika Serikat. Pria Italia yang kini banyak menghabiskan waktu di AS itu yakin MotoGP bisa meniru jejak F1 yang sukses menembus pasar Negeri Paman Sam. "Saya pindah ke AS pada 2006. Saat itu orang tahu F1, tapi tidak ada yang peduli. Sekarang semua orang tahu dan peduli. Saya pikir MotoGP punya potensi... bisa lebih besar dari sekarang," ujarnya.
Steiner juga menyoroti dominasi pembalap asal Spanyol dan Italia di MotoGP, yang menurutnya perlu diubah dengan mendatangkan lebih banyak talenta dari belahan dunia lain. Timnya saat ini diperkuat Maverick Vinales (Spanyol) dan Enea Bastianini (Italia). "Ini perlu berubah," tegasnya, merujuk pada kebutuhan akan variasi asal pembalap untuk memperluas basis penggemar global.
Konteks Indonesia: Bagi penggemar MotoGP di Indonesia, kabar ini membawa angin segar. Dengan Liberty Media yang dikenal agresif dalam ekspansi pasar, bukan tidak mungkin Indonesia—yang memiliki basis penggemar besar—akan semakin dilirik. Saat ini Indonesia sudah menjadi tuan rumah seri MotoGP di Sirkuit Mandalika, dan dengan strategi Liberty yang terbukti sukses di F1, bukan tidak mungkin jumlah seri di Asia Tenggara akan bertambah. Hal ini tentu berdampak positif bagi pariwisata dan ekonomi kreatif nasional.
Sementara itu, Silverstone baru saja mengumumkan perpanjangan kontrak yang akan mempertahankan Grand Prix Inggris di sirkuit tersebut hingga 2028. Balapan yang telah menghasilkan 11 pemenang berbeda dalam 11 edisi terakhir ini menjadi salah satu seri paling kompetitif di kalender MotoGP. Namun, Vinales dipastikan absen akhir pekan ini karena menjalani operasi bahu, dan posisinya digantikan oleh pembalap penguji asal Spanyol, Pol Espargaro (35 tahun).
Dengan Liberty Media di belakang layar, pertanyaannya kini: akankah MotoGP mampu meniru kesuksesan F1 dalam hal komersialisasi dan popularitas global? Steiner tampaknya optimistis, tetapi ia juga mengingatkan bahwa setiap olahraga punya karakteristik unik yang tidak bisa disamakan begitu saja. "MotoGP tidak harus menjadi F1, MotoGP bisa menjadi MotoGP yang lebih besar," pungkasnya.



