Harga Saham Anjlok Hampir 10%, Apple Kehilangan Rp8.000 Triliun dalam Sehari
Baca dalam 60 detik
- Saham Apple merosot tajam setelah proyeksi pendapatan kuartal berikutnya di bawah ekspektasi analis, memicu kekhawatiran tentang kemampuan perusahaan mengamankan pasokan chip.
- Krisis komponen yang dipicu oleh lonjakan belanja AI data center membuat Apple kehilangan fleksibilitas rantai pasok, bahkan di tengah permintaan iPhone yang kuat.
- Penurunan ini berpotensi menggeser posisi Apple sebagai perusahaan paling bernilai di dunia, dengan Nvidia siap mengambil alih, serta berdampak pada pasar teknologi global termasuk Indonesia.

Saham Apple anjlok hampir 10 persen pada Jumat (31/7) setelah proyeksi pendapatan kuartal berikutnya mengecewakan, mengindikasikan raksasa teknologi ini kesulitan mengamankan komponen di tengah melonjaknya permintaan chip untuk pusat data kecerdasan buatan (AI). Jika penurunan ini berlanjut, kapitalisasi pasar Apple akan tergerus hingga hampir 500 miliar dolar AS, sekaligus mengembalikan tahta perusahaan paling bernilai di dunia kepada Nvidia, hanya beberapa hari setelah Apple merebutnya kembali.
Tim Cook, yang selama ini dijuluki jenius rantai pasok, mengakui kelangkaan komponen "sangat signifikan" dan mengatakan Apple memiliki opsi terbatas untuk mengatasinya. Pernyataan ini disampaikan dalam panggilan pendapatan terakhirnya sebagai CEO sebelum menyerahkan kursi kepemimpinan kepada John Ternus pada September dan menjadi ketua eksekutif. Pengakuan jujur dari pucuk pimpinan Apple ini menjadi sinyal buruk bagi industri teknologi secara luas.
"Jika bahkan Apple dengan skala sebesar mereka mengaku kehabisan fleksibilitas rantai pasok, itu benar-benar buruk bagi semua orang," ujar Ben Bajarin, CEO konsultan teknologi Creative Strategies, menanggapi situasi tersebut. Kelangkaan ini dipicu oleh aksi borong kapasitas pabrik chip dan memori oleh raksasa teknologi untuk mendukung pusat data AI mereka, yang memicu kenaikan harga dan diperkirakan akan menekan pasar PC dan smartphone tahun ini.
Apple sebenarnya telah meredam dampak kenaikan biaya memori dengan menggunakan stok inventaris yang ditimbun. Namun Cook mengungkapkan bahwa penyangga tersebut mulai menipis, dan kekurangan prosesor menghambat upaya perusahaan untuk memenuhi permintaan iPhone dan Mac yang kuat. Proyeksi pertumbuhan pendapatan kuartal ini sebesar 9-11 persen, di bawah perkiraan analis Wall Street sekitar 12 persen, semakin memperparah kekhawatiran investor.
Kelemahan lain yang menyita perhatian adalah melambatnya pertumbuhan bisnis layanan (services) Apple, yang mencakup App Store, Apple Music, dan Apple TV+. Ini terjadi di tengah penjualan iPhone yang kuat, yang biasanya menjadi pendorong utama pendapatan layanan. Analis Morgan Stanley menyoroti bahwa pengaruh Apple atas rantai pasok mulai dipertanyakan, dan AI belum terbukti menjadi pendorong signifikan bagi produk atau layanan mereka. Bahkan, mereka berspekulasi bahwa melambatnya App Store mungkin disebabkan oleh pergeseran prioritas waktu pengguna karena AI.
Di tengah kekhawatiran ini, sebagian analis tetap optimis. Mereka mencatat bahwa iPhone telah berhasil melewati kenaikan harga sebelumnya tanpa mengurangi permintaan secara signifikan. Selain itu, kerja sama leasing dengan Klarna di AS yang menawarkan cicilan bulanan untuk perangkat Apple dapat menjadi bantalan. Meski demikian, setidaknya empat broker memangkas target harga saham Apple, sementara tiga lainnya menaikkannya, menghasilkan median target di angka US$330โsedikit di bawah harga penutupan terakhir. Saham Apple sendiri masih mencatat kenaikan 22,7 persen sepanjang tahun ini.
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki implikasi nyata. Sebagai salah satu pasar smartphone terbesar di Asia Tenggara, Indonesia sangat bergantung pada pasokan perangkat Apple. Kelangkaan komponen dapat menyebabkan keterlambatan peluncuran produk baru atau kenaikan harga di pasar domestik. Selain itu, persaingan ketat antara Apple dan Nvidia dalam perebutan supremasi nilai pasar mencerminkan pergeseran kekuatan ekonomi digital global, yang pada akhirnya akan memengaruhi arus investasi teknologi ke negara berkembang seperti Indonesia.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Apple mampu memulihkan kepercayaan investor dengan strategi jangka panjangnya, terutama di tengah gejolak rantai pasok dan transisi kepemimpinan. Akankah John Ternus, yang akan menggantikan Tim Cook, mampu membawa angin segar? Atau justru era baru ini akan diwarnai oleh tantangan yang lebih besar? Yang jelas, pasar teknologi global sedang memasuki babak baru yang penuh ketidakpastian.



