Alex Morgan: Piala Dunia Wanita 2027 di Brasil Akan Jadi yang Paling Ketat
Baca dalam 60 detik
- Legenda timnas AS, Alex Morgan, akan menghadiri Piala Dunia Wanita 2027 di Brasil sebagai penonton, bukan pemain, setelah pensiun pada 2024.
- Morgan menilai persaingan di turnamen mendatang akan lebih sengit karena meluasnya liga profesional wanita global, meski ia yakin skuad AS tetap yang terkuat.
- Ia juga menyoroti pentingnya fasilitas olahraga akar rumput, seperti mini-pitch yang baru diresmikan, untuk membangun kepercayaan diri generasi muda.

Alex Morgan, yang telah merasakan atmosfer empat edisi Piala Dunia sebagai pemain, kini bersiap menghadapi peran barunya: duduk di tribun Brasil pada 2027 untuk mendukung timnas wanita Amerika Serikat. Dalam wawancara eksklusif dengan Reuters, ia mengungkapkan bahwa turnamen mendatang akan menjadi ajang paling kompetitif sepanjang sejarah, seiring dengan makin lebarnya peta kekuatan sepak bola wanita global.
Mantan striker yang mencetak 123 gol untuk AS ini meyakini bahwa gairah Brasil terhadap sepak bola akan menjadi latar yang sempurna. "Di Brasil, sepak bola adalah bagian dari budaya. Orang-orang bermain di jalanan, semua orang membicarakannya," ujarnya. Namun, di balik antusiasme itu, Morgan juga menggarisbawahi bahwa kesenjangan antara tim-tim unggulan dan negara berkembang semakin tipis, berkat pertumbuhan liga profesional di berbagai belahan dunia.
Bagi Morgan, yang pensiun pada 2024 setelah memenangkan Sepatu Emas NWSL 2022, keputusan untuk hadir sebagai suporter murni adalah pilihan sadar. "Tim butuh fokus penuh. Saya akan menjadi penggemar sejati, tidak ikut campur," katanya. Sikap ini mencerminkan kedewasaannya sebagai mantan pemain yang memahami pentingnya menjaga konsentrasi skuad di tengah tekanan turnamen besar.
Komentar Morgan muncul di tengah meningkatnya perhatian global terhadap sepak bola wanita, terutama setelah Piala Dunia 2023 yang sukses di Australia dan Selandia Baru. Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi sinyal bahwa investasi pada liga domestik dan pembinaan usia dini adalah kunci untuk mengejar ketertinggalan. Federasi Sepak Bola Wanita Indonesia (PSSI) sendiri tengah berupaya memperkuat kompetisi lokal, meski masih menghadapi tantangan besar dalam hal infrastruktur dan pendanaan.
Di sela-sela kesibukannya, Morgan yang sedang hamil anak ketiga ini juga menyempatkan diri untuk meresmikan lapangan mini di Diamond Bar, California. Proyek yang merupakan kolaborasi antara yayasannya dan CVS Health ini bertujuan memberikan ruang latihan bagi anak-anak di lingkungan tempat ia tumbuh. "Keterampilan bisa dipelajari, tetapi yang lebih penting adalah membangun kepercayaan diri," tegasnya. Inisiatif semacam ini relevan bagi Indonesia, di mana keterbatasan lapangan sering menjadi kendala utama dalam pembinaan pesepak bola muda.
Menatap Olimpiade Los Angeles 2028, Morgan mengaku sedikit iri karena tidak pernah merasakan bermain di Olimpiade kandang. "Kesempatan menjadi tuan rumah itu sekali seumur hidup," katanya. Ketika ditanya mana yang lebih ia dambakan, gelar Piala Dunia di Brasil atau emas Olimpiade di LA, Morgan menjawab dengan diplomatis: "Tidak ada pilihan. Dua-duanya."
Pernyataan Morgan menegaskan bahwa era dominasi tunggal dalam sepak bola wanita telah berakhir. Dengan semakin banyaknya negara yang berinvestasi pada tim nasional dan liga domestik, Piala Dunia 2027 diprediksi akan menjadi ajang yang penuh kejutan. Bagi Indonesia, pertanyaan besarnya adalah: apakah kita siap mengambil pelajaran dari tren global ini untuk membangun ekosistem sepak bola wanita yang kompetitif?



