Ringgit Menguat Tipis di Awal Pekan, Pasar Menanti Data Manufaktur AS
Baca dalam 60 detik
- Nilai tukar ringgit dibuka menguat tipis terhadap dolar AS di tengah meredanya ketegangan geopolitik dan antisipasi rilis data ISM Manufacturing PMI Amerika Serikat.
- Keputusan Presiden AS membatalkan serangan militer ke Iran mendorong pelemahan dolar dan penurunan harga minyak, yang turut mendukung penguatan mata uang Asia.
- Pergerakan ringgit diperkirakan terbatas pada rentang RM4.07 hingga RM4.09 sepanjang hari ini, dengan pelaku pasar masih waspada terhadap data ekonomi AS dan dinamika global.

Nilai tukar ringgit Malaysia dibuka menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Senin pagi, seiring pelaku pasar yang mencermati rilis data manufaktur AS dan meredanya ketegangan di kawasan Timur Tengah. Pada pukul 08.00 waktu setempat, mata uang negeri jiran itu diperdagangkan di level 4,0805/0900 per dolar AS, sedikit lebih baik dibandingkan posisi penutupan pekan lalu di 4,0835/0875.
Penguatan ini terjadi di tengah ekspektasi pasar terhadap data Institute for Supply Management (ISM) Manufacturing PMI untuk Juli yang akan dirilis malam ini. Konsensus analis memperkirakan indeks tersebut berada di angka 54,0, lebih tinggi dari capaian Juni yang sebesar 53,3. Angka di atas 50 menandakan ekspansi sektor manufaktur, sehingga data yang lebih baik dari perkiraan dapat memperkuat dolar AS dan menekan mata uang Asia, termasuk ringgit.
Di sisi lain, sentimen pasar juga dipengaruhi oleh kabar bahwa Presiden AS Donald Trump dikabarkan membatalkan rencana serangan militer terhadap Iran. Langkah ini diambil seiring dengan ekspektasi tercapainya kesepakatan mengenai program nuklir dan pembukaan kembali penuh Selat Hormuz. Keputusan tersebut memicu pelemahan dolar AS dan menurunkan harga minyak mentah Brent sebesar 4,59 persen menjadi US$88,10 per barel, seperti diungkapkan oleh Kepala Ekonom Bank Muamalat Malaysia, Dr Mohd Afzanizam Abdul Rashid.
Menurut Afzanizam, kombinasi faktor tersebut memberikan angin segar bagi ringgit dan aset berisiko di kawasan Asia. Namun, ia mengingatkan bahwa pasar masih berada dalam mode waspada. "Pelaku pasar masih mencermati perkembangan data ekonomi AS dan situasi geopolitik, sehingga pergerakan ringgit diperkirakan akan berada dalam rentang sempit RM4,07 hingga RM4,09 hari ini," ujarnya kepada Bernama.
Senada dengan itu, Managing Partner SPI Asset Management, Stephen Innes, menilai keputusan Trump membatalkan serangan ke Iran telah mendorong pelemahan dolar AS dan menurunkan ekspektasi inflasi, yang pada gilirannya menekan kurva suku bunga AS. "Kombinasi ini seharusnya mendukung ringgit dan secara lebih luas aset berisiko di Asia hari ini," tambahnya.
Meski menguat terhadap dolar AS, ringgit justru melemah terhadap sejumlah mata uang utama lainnya. Terhadap yen Jepang, ringgit turun ke 2,5880/5942 dari sebelumnya 2,5520/5548. Terhadap euro, ringgit melemah ke 4,7089/7199 dari 4,6981/7027, dan terhadap poundsterling Inggris turun ke 5,5038/5166 dari 5,4923/4977.
Sementara itu, terhadap mata uang regional, pergerakan ringgit bervariasi. Ringgit menguat terhadap rupiah Indonesia ke 226,4/227,0 dari 226,6/226,8, dan naik terhadap baht Thailand ke 12,2211/2558 dari 12,2264/2435. Namun, ringgit melemah terhadap dolar Singapura ke 3,1844/1921 dari 3,1823/1856, dan relatif stagnan terhadap peso Filipina di kisaran 6,66/6,68.
Bagi pasar keuangan Indonesia, pergerakan ringgit ini menjadi indikasi bahwa sentimen risk-on mulai kembali menguat di kawasan. Pelemahan dolar AS dan penurunan harga minyak berpotensi meredakan tekanan inflasi global, yang dapat berdampak positif pada nilai tukar rupiah dan arus modal asing ke pasar domestik. Namun, pelaku pasar tetap perlu mencermati rilis data ISM Manufacturing PMI AS yang dapat mengubah arah pergerakan mata uang secara tiba-tiba.
Ke depan, arah pergerakan ringgit dan mata uang Asia lainnya akan sangat bergantung pada konsistensi data ekonomi AS serta perkembangan negosiasi antara AS dan Iran. Jika kesepakatan benar-benar tercapai dan ketegangan geopolitik mereda, bukan tidak mungkin dolar AS akan terus melemah, memberikan ruang apresiasi bagi mata uang kawasan. Namun, jika data manufaktur AS mengecewakan, kekhawatiran perlambatan ekonomi global dapat kembali menghantui pasar. Pertanyaannya, akankah penguatan ringgit ini bertahan atau hanya bersifat sementara?



