UEFA Ancam Bawa FIFA ke Pengadilan: Rencana Investasi Swasta untuk Piala Dunia Gagal Total
Baca dalam 60 detik
- UEFA menyatakan akan menempuh jalur hukum dan arbitrase atas rencana FIFA membentuk anak usaha komersial yang menjual saham kepada investor swasta.
- Asosiasi sepak bola Inggris dan Wales menarik dukungan terhadap Gianni Infantino, memperkuat gelombang penolakan dari berbagai konfederasi.
- Langkah FIFA yang menawarkan insentif finansial kepada 211 asosiasi anggota dinilai sebagai upaya melobi yang kontroversial dan berpotensi memicu krisis tata kelola.

Perseteruan antara UEFA dan FIFA memasuki babak baru setelah induk sepak bola Eropa itu secara resmi mengancam akan membawa Gianni Infantino ke meja hijau. Pemicunya adalah rencana FIFA yang sempat digagas untuk membuka keran investasi swasta pada turnamen-turnamen utamanya, termasuk Piala Dunia, melalui sebuah entitas komersial baru. Langkah yang sempat diumumkan dengan gegap gempita itu kini berubah menjadi bumerang bagi presiden FIFA yang tengah bersiap mencalonkan diri kembali.
Dalam surat yang dikirimkan kepada Infantino, UEFA menegaskan sedang mengkaji opsi litigasi, arbitrase, serta pengaduan regulasi terkait skema yang diberi nama FIFA Forward Enterprise (FFE). Lebih jauh, UEFA meminta FIFA untuk segera mengamankan seluruh dokumen dan data elektronik yang berkaitan dengan proyek tersebut, termasuk korespondensi via email, pesan instan seperti WhatsApp dan Signal, hingga catatan rapat. Permintaan ini terkesan sebagai langkah antisipasi untuk mencegah pemusnahan bukti sebelum proses hukum berjalan.
Rencana FFE sendiri sejatinya sudah dibatalkan, namun jejak digital dan administrasinya menjadi medan pertempuran baru. UEFA menilai bahwa upaya FIFA untuk menggaet investor eksternal, yang disebut hanya akan memegang saham minoritas tanpa kendali, tetap berpotensi merusak integritas kompetisi. Apalagi, investor yang digadang-gadang akan memimpin konsorsium adalah Thrive Eternal, perusahaan modal ventura asal Amerika yang didirikan oleh Joshua Kushner, adik ipar Presiden AS Donald Trump. Keterlibatan figur yang dekat dengan lingkaran kekuasaan Amerika itu menambah sensitivitas politik dalam kasus ini.
Di tengah ketegangan ini, dukungan terhadap Infantino semakin tergerus. Wales menjadi negara pertama yang secara terbuka mencabut dukungannya terhadap pencalonan Infantino sebagai presiden FIFA. Sebelumnya, UEFA dan Concacaf telah mengeluarkan pernyataan kritis. Kini, Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) juga dikabarkan akan mengirim surat resmi untuk menarik dukungannya. Ini merupakan pukulan telak bagi Infantino yang selama satu dekade memimpin FIFA dengan gaya sentralistik.
Bagi Indonesia, konflik ini memiliki relevansi yang tidak bisa diabaikan. Sebagai salah satu dari 211 anggota FIFA, PSSI berada dalam posisi yang sulit: harus memilih antara loyalitas kepada FIFA yang selama ini menjadi sumber pendanaan program pengembangan, atau bergabung dengan blok penolakan yang dipimpin UEFA. Keputusan PSSI nantinya akan menentukan arah diplomasi sepak bola Indonesia di kancah global, sekaligus berpotensi memengaruhi aliran dana untuk pembinaan usia muda dan infrastruktur. Jika UEFA benar-benar membawa kasus ini ke pengadilan, bukan tidak mungkin FIFA akan menghadapi guncangan internal yang berdampak pada stabilitas kompetisi internasional, termasuk kualifikasi Piala Dunia yang diikuti Timnas.
Para pengamat menilai bahwa langkah UEFA ini bukan sekadar soal legalitas, melainkan juga pertarungan pengaruh. UEFA ingin memastikan bahwa FIFA tidak bertindak sewenang-wenang tanpa persetujuan konfederasi. Sementara Infantino, yang dikenal ambisius, mungkin akan berusaha meredam konflik dengan negosiasi di belakang layar. Namun, dengan adanya ancaman hukum dan pengunduran diri dukungan dari beberapa federasi kunci, posisi Infantino semakin rapuh.
Pertanyaan besarnya kini: akankah Infantino mampu bertahan menghadapi badai ini, atau justru menjadi presiden FIFA pertama yang lengser akibat skandal investasi? Satu hal yang pasti, dunia sepak bola sedang menyaksikan babak baru dalam drama kepemimpinan FIFA yang penuh intrik.



