Moyes di Persimpangan: Everton Butuh Lebih dari Sekadar Stabilitas
Baca dalam 60 detik
- Everton finis 13th dua musim beruntun di bawah Moyes, namun performa kandang di stadion baru menjadi yang terburuk dalam sejarah Premier League.
- Ketergantungan pada Grealish terbukti fatal: tanpa dirinya, persentase kemenangan The Toffees merosot dari 45% menjadi 22%.
- Dengan skuad termuda dan paling minim pengalaman, Everton menghadapi musim penuh ketidakpastian di tengah persaingan ketat Liga Inggris.

David Moyes kembali ke Everton pada Januari 2025 dengan misi menyelamatkan klub dari degradasi. Dua musim berselang, ia berhasil membawa The Toffees finis di papan tengah, tetapi tanda tanya besar menggelayuti masa depannya setelah performa tim anjlok drastis di penghujung musim lalu. Kini, dengan skuad muda yang belum teruji dan tekanan finansial, mampukah pelatih 63 tahun itu membawa Everton ke level berikutnya?
Musim 2025-26 sebenarnya dimulai dengan mimpi indah. Everton sempat duduk di peringkat kedelapan pada Maret setelah mengalahkan Chelsea 3-0, hanya tiga poin dari zona Liga Champions. Namun, ambisi itu pupus setelah tim gagal meraih kemenangan di delapan laga terakhir. Rentetan tanpa kemenangan itu menjadi yang terpanjang sejak Moyes kembali, sekaligus menempatkan Everton di tiga besar terbawah dalam hal perolehan poin pada periode tersebut.
Kegagalan ini ironis, mengingat Everton menghabiskan dana hingga 97 juta poundsterling pada bursa transfer musim panas laluโrekor belanja bersih klub dalam satu jendela transfer. Namun, hasilnya hanya satu poin tambahan dibanding musim sebelumnya. CEO Angus Kinnear menyebut musim ini sebagai "kebahagiaan yang tidak memuaskan", sebuah ungkapan yang langsung mendapat sorotan tajam setelah kekalahan 3-1 dari Sunderland di laga pamungkas kandang.
Di balik angka-angka itu, ada masalah struktural yang lebih dalam. Everton menempati peringkat ke-15 dalam hal belanja bersih lima tahun terakhir di Premier League, jauh tertinggal dari klub-klub papan atas. Sebagai perbandingan, Bournemouth yang justru meraup untung 81 juta poundsterling dari penjualan pemain berhasil finis di peringkat keenam. Brighton juga membukukan keuntungan 41 juta poundsterling dan finis kedelapan. Ini menunjukkan bahwa keberhasilan tidak selalu diukur dari besarnya pengeluaran.
Pindah ke Stadion Hill Dickinson yang megah ternyata tidak serta-merta mengangkat performa kandang Everton. Catatan 1,2 poin per laga di kandang musim lalu menjadi yang terendah sepanjang sejarah Premier League untuk tim yang baru menempati stadion baru. Sebaliknya, performa tandang mereka justru masuk tujuh besar. Ketimpangan ini menjadi teka-teki yang harus segera dipecahkan Moyes.
Mantan gelandang Everton, Leon Osman, menilai bahwa Bournemouth dan Brighton lebih maju dalam hal perkembangan tim. Ia juga menyoroti cedera Jack Grealish sebagai titik balik kemunduran Everton. Tanpa Grealish, persentase kemenangan Everton merosot dari 45% menjadi 22%, dan perolehan poin per laga turun dari 1,6 menjadi 1,0. Grealish, yang dipinjam dari Manchester City, memang menjadi motor serangan dengan enam assist dalam 22 penampilan.
Moyes kini berada dalam posisi paradoks. Di satu sisi, ia harus mengandalkan pemain muda seperti Tyler Dibling (20 tahun, dibeli ยฃ35 juta dari Southampton) dan Adam Aznou yang belum menunjukkan performa konsisten. Di sisi lain, kepergian pemain senior seperti Seamus Coleman dan Idrissa Gueye meninggalkan lubang besar di lini belakang. Cedera James Garner yang akan absen di awal musim semakin mempersempit opsi.
Osman optimistis bahwa dengan waktu, pemain muda seperti Dibling dan Tyrique George akan berkembang. Namun, ia juga mengingatkan bahwa Everton tidak boleh kehilangan pemain kunci seperti Iliman Ndiaye, yang dikaitkan dengan klub Arab Saudi. "Saya berharap Grealish kembali, tapi dengan harga yang masuk akal. Ndiaye, saya tidak ingin kehilangannya. Jika ada tawaran bagus, mungkin bisa reinvestasi untuk dua atau tiga pemain, tapi saya pikir mereka harus melakukan segalanya untuk mempertahankannya," ujar Osman.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kisah Everton ini menarik karena mencerminkan tantangan klub yang mencoba bangkit di tengah dominasi finansial klub-klub besar. Everton juga memiliki basis penggemar yang besar di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, sehingga perkembangan mereka selalu dinantikan. Pertanyaannya, apakah Moyes mampu membalikkan tren negatif ini atau justru menjadi saksi kejatuhan klub yang pernah berjaya di era 1980-an? Musim depan akan menjadi ujian sesungguhnya.



