Gakpo Incaran Tottenham: Fleksibilitas Taktis yang Dicari De Zerbi
Baca dalam 60 detik
- Tottenham mengincar Cody Gakpo untuk memperkuat lini depan di bawah arahan Roberto De Zerbi, yang menilai pemain Belanda itu ideal untuk peran penyerang fleksibel.
- Meski musim lalu mencetak tujuh gol Liga Inggris, data menunjukkan Gakpo unggul dalam menciptakan peluang dan sentuhan di kotak penalti dibanding penyerang Spurs lainnya.
- Liverpool enggan melepas Gakpo karena kedalaman skuad yang menipis pasca kepergian Mohamed Salah, meski ada minat dari klub London Utara tersebut.

Ketertarikan Tottenham Hotspur pada Cody Gakpo bukan sekadar isu transfer musim panas. Di balik angka tujuh gol Liga Inggris musim lalu, tersimpan profil pemain yang dinilai Roberto De Zerbi sebagai kunci untuk menghidupkan kembali lini serang Spurs yang tumpul. Dengan skema yang mengandalkan pergerakan tanpa bola dan kreativitas, Gakpo dipandang sebagai jawaban atas kebutuhan taktis yang selama ini belum terpenuhi.
De Zerbi, yang dikenal dengan filosofi sepak bola menyerang, tengah membangun ulang skuadnya. Ia tidak membutuhkan penyerang kotak penalti klasik, melainkan pemain yang mampu turun ke lini tengah, menarik bek lawan, dan memberi ruang bagi pemain sayap. Gakpo, yang kerap dimainkan sebagai penyerang tengah atau false nine di Liverpool, dinilai memiliki kecerdasan posisional dan kontrol bola yang sesuai dengan kebutuhan tersebut.
Ketertarikan ini muncul di tengah situasi pelik di kubu Liverpool. Kepergian Mohamed Salah ke Al-Hilal meninggalkan lubang besar di lini depan, sementara Hugo Ekitike masih berkutat dengan cedera Achilles. Manajemen The Reds dikabarkan enggan melepas Gakpo karena khawatir kehilangan dua penyerang berpengalaman sekaligus dalam satu bursa transfer. Bahkan jika Bradley Barcola datang dari PSG, beban mencetak gol akan bertumpu pada pemain anyar seperti Victor Munoz dan remaja 17 tahun Rio Ngumoha.
Data statistik musim lalu menunjukkan Gakpo sebenarnya tampil impresif dalam hal menciptakan peluang. Dengan rata-rata 2,2 sentuhan di kotak penalti lawan per 90 menit, ia masuk dalam delapan besar pemain sayap terbaik Eropa. Persentilnya pun tinggi: 98 persen untuk frekuensi tembakan, 96 persen untuk keterlibatan di area berbahaya, dan 91 persen untuk ancaman di kotak penalti. Angka-angka ini menegaskan bahwa Gakpo lebih dari sekadar pemain sayap kiri biasa.
Perbandingan dengan penyerang Tottenham yang ada saat ini semakin memperjelas daya tarik Gakpo. Ia mencatatkan expected goals (xG) 8,59, 87 tembakan, lima assist, dan 10 peluang besar โ semuanya lebih tinggi dari Richarlison, Dominic Solanke, Mathys Tel, atau Randal Kolo Muani. Sentuhan di kotak penalti lawan pun jauh lebih banyak: 187 berbanding 125 milik Richarlison, 68 milik Tel, dan 55 milik Solanke. Bahkan dalam hal bertahan, Gakpo unggul dalam merebut bola (87 kali) dan intersepsi (13 kali).
Dengan tinggi 6 kaki 4 inci, Gakpo juga menawarkan keunggulan udara yang langka untuk pemain sayap. Ia berada di persentil 96 untuk volume duel udara, yang bisa menjadi senjata tambahan bagi De Zerbi saat menghadapi pertahanan yang bertahan dalam. Umpan silang ke tiang jauh atau bola langsung ke kotak penalti bisa menjadi opsi yang lebih variatif bagi Spurs.
Bagi Liverpool, Gakpo bukan sekadar pemain pelengkap. Sejak bergabung dari PSV Eindhoven pada Januari 2023, ia konsisten mencetak gol di Premier League: tujuh, delapan, sepuluh, dan tujuh gol dalam empat musim. Sejak November 2024, hanya Mohamed Salah yang mencetak lebih banyak gol untuk Liverpool di liga. Konsistensi ini yang membuat The Reds enggan melepasnya, apalagi di tengah masa transisi skuad.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kabar ini menarik karena menunjukkan bagaimana klub-klub Eropa mulai melirik pemain dengan profil fleksibel, bukan sekadar mesin gol. Di tengah berkembangnya sepak bola modern yang menuntut pemain serba bisa, Gakpo menjadi contoh bagaimana data dan taktik berjalan beriringan. Keputusan Tottenham untuk mengejar pemain seperti Gakpo bisa menjadi sinyal bagi klub-klub Asia, termasuk Indonesia, untuk mulai memperhatikan pemain dengan kemampuan multi-posisi.
Namun, jalan menuju kesepakatan masih panjang. Liverpool tidak akan melepas Gakpo dengan mudah, terutama jika tidak ada pengganti yang setara. Apakah Tottenham berani menebusnya dengan harga tinggi? Atau akankah De Zerbi mencari alternatif lain yang lebih realistis? Yang jelas, minat ini menunjukkan bahwa Gakpo masih dihargai tinggi di pasar Eropa, dan masa depannya akan menjadi salah satu cerita menarik di bursa transfer musim panas ini.



