Shannon Tan Ukir Sejarah di British Open: Finis Keenam, Terbaik untuk Golf Putri Singapura
Baca dalam 60 detik
- Pegolf Singapura Shannon Tan mencatatkan finis keenam pada Women's British Open 2026, torehan terbaiknya di turnamen mayor dan juga terbaik untuk Singapura di ajang putri.
- Dengan total skor satu di bawah par, Tan hanya terpaut empat pukulan dari juara asal Jepang, Shiho Kuwaki, yang menang lewat play-off.
- Prestasi ini menegaskan posisi Tan sebagai pelopor golf Singapura, setelah sebelumnya menjadi yang pertama menjuarai Ladies European Tour dan tampil di Olimpiade.

Pegolf muda Singapura, Shannon Tan, kembali mencatatkan namanya dalam buku sejarah golf Asia Tenggara. Pada Women's British Open yang berlangsung di Royal Lytham & St Annes, Lancashire, Inggris, Minggu (2/8), Tan finis di posisi keenam bersama lima pegolf lainnya. Hasil ini bukan hanya yang terbaik sepanjang kariernya di turnamen mayor, tetapi juga menjadi capaian tertinggi yang pernah diraih wakil Singapura di ajang golf putri paling prestisius tersebut.
Tan, yang menempati peringkat 83 dunia, menutup putaran final dengan skor dua di bawah par (69). Secara keseluruhan, ia mengumpulkan total satu di bawah par, hanya terpaut empat pukulan dari juara asal Jepang, Shiho Kuwaki. Perjalanan Tan di turnamen ini tidak selalu mulus: ia membuka dengan 69, lalu sempat terpeleset di putaran kedua dengan skor tiga di atas par (74), sebelum bangkit dengan skor even par (71) di putaran ketiga.
Bagi penggemar golf di kawasan Asia Tenggara, pencapaian Tan ini terasa istimewa. Ia adalah simbol kebangkitan golf putri di kawasan yang selama ini didominasi oleh Korea Selatan dan Jepang. Sebelumnya, pada 2024, Tan telah menjadi orang Singapura pertama yang memenangkan turnamen di Ladies European Tour (LET) dan meraih gelar Order of Merit musim lalu. Ia juga menjadi wanita Singapura pertama yang lolos cut di turnamen mayor dan tampil di Olimpiade.
Kemenangan Kuwaki sendiri menambah daftar panjang dominasi Jepang di pentas golf putri dunia. Ini adalah gelar mayor kedua beruntun Jepang di ajang British Open, setelah tahun lalu Miyu Yamashita menjuarai di Royal Porthcawl. Kuwaki, yang berada di peringkat 46 dunia, menjadi pemain Jepang kelima yang memenangkan mayor dalam tiga tahun terakhir. Ia mengalahkan Esther Henseleit dari Jerman melalui play-off di hole kedua, setelah keduanya bermain imbang dengan total lima di bawah par. Henseleit sempat memaksa play-off lewat birdie panjang di hole ke-18.
Bagi Indonesia, prestasi Tan ini bisa menjadi cermin sekaligus motivasi. Meski Indonesia belum memiliki pegolf putri yang konsisten di panggung mayor, perkembangan Tan menunjukkan bahwa atlet dari Asia Tenggara mampu bersaing di level tertinggi. Keberhasilan Tan juga menggarisbawahi pentingnya pembinaan usia muda dan dukungan kompetisi regional. Dengan semakin banyaknya turnamen di Asia, peluang pegolf Indonesia untuk menembus panggung dunia terbuka lebar.
Di sisi lain, persaingan di papan atas turnamen ini juga menarik dicermati. Yealimi Noh dari Amerika Serikat, yang memimpin sejak putaran awal, harus puas di posisi ketiga dengan skor empat di bawah par. Sementara itu, Haeran Ryu dari Korea Selatan, yang memenangkan dua mayor terakhir, juga berbagi posisi keenam dengan Tan. Ini menunjukkan bahwa level kompetisi di golf putri semakin ketat, dengan banyak nama baru yang siap menggoyang dominasi para pemain senior.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: dapatkah Shannon Tan mempertahankan konsistensinya dan menembus posisi tiga besar di turnamen mayor berikutnya? Dengan usianya yang baru 22 tahun, ia masih memiliki banyak ruang untuk berkembang. Jika ia mampu menjaga performa dan terus berkompetisi di level tertinggi, bukan tidak mungkin ia akan menjadi inspirasi bagi lahirnya generasi baru pegolf Asia Tenggara, termasuk dari Indonesia.



