Petinju Inggris Raven Chapman Jalani Operasi Darurat Usai Pendarahan Otak Saat Sparing di Denmark
Baca dalam 60 detik
- Raven Chapman, petinju kelas bulu asal Inggris, kritis setelah kolaps saat latihan di Denmark dan menjalani operasi darurat untuk menghentikan pendarahan otak.
- Manajemen Vote Boxing mengonfirmasi kondisinya mulai stabil setelah diinduksi koma, namun proses pemulihan diperkirakan panjang dan memerlukan repatriasi ke Inggris.
- Insiden ini memicu kembali diskusi tentang risiko kesehatan dalam olahraga tinju, terutama bagi atlet profesional yang kerap menahan benturan keras di kepala.

Petinju profesional asal Inggris, Raven Chapman, tengah menjalani pemulihan intensif setelah menjalani operasi darurat akibat pendarahan otak yang dialaminya saat sesi sparing di Denmark. Insiden yang terjadi pada 24 Juli lalu itu memaksanya dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi kritis, dan hingga kini ia masih dalam pengawasan medis ketat.
Manajemen Vote Boxing, yang menaungi Chapman, mengungkapkan bahwa atlet berusia 32 tahun itu mengalami kolaps mendadak di tengah latihan. Pemeriksaan medis menunjukkan adanya hematoma otak dan edema serebral, dua kondisi serius yang melibatkan perdarahan dan pembengkakan jaringan otak. Operasi darurat pun dilakukan untuk menghentikan perdarahan dan menstabilkan tekanan di dalam tengkoraknya.
"Raven menjalani operasi darurat segera. Prosedur tersebut berhasil menghentikan perdarahan dan membantu menstabilkan pembengkakan. Ia kemudian ditempatkan dalam kondisi koma yang diinduksi secara medis," demikian pernyataan Vote Boxing yang diunggah di Instagram. Setelah beberapa hari, Chapman mulai dikurangi obat penenangnya dan kini tengah menunggu proses repatriasi ke rumah sakit di Inggris dengan pengawasan dokter. Proses rehabilitasi diperkirakan memakan waktu yang tidak sebentar.
Keluarga Chapman disebut telah berada di sampingnya di Denmark. Sementara itu, komunitas tinju dunia ramai memberikan dukungan, termasuk dari promotor legendaris Frank Warren. Sebuah laman penggalangan dana di GoFundMe juga dibuat untuk membantu biaya perawatan yang diperkirakan tidak sedikit.
Chapman bukan nama asing di kancah tinju dunia. Pada 2024, ia menjadi sorotan setelah menantang petinju Australia, Skye Nicolson, untuk memperebutkan gelar juara dunia kelas bulu WBC. Laga tersebut menjadi pertarungan perebutan gelar kelas bulu wanita pertama yang digelar di Arab Saudi. Sayangnya, Chapman harus mengakui keunggulan lawannya melalui keputusan mutlak.
Insiden yang menimpa Chapman kembali menyoroti risiko besar yang dihadapi para petinju profesional. Meski tinju telah memiliki berbagai regulasi keselamatan, kasus pendarahan otak seperti ini menjadi pengingat keras bahwa risiko cedera kepala serius tetap mengintai di setiap pertarungan maupun sesi latihan. Di Indonesia, olahraga tinju juga memiliki basis penggemar yang cukup besar, namun kesadaran akan perlindungan atlet, terutama dari sisi medis, masih perlu terus ditingkatkan.
Pertanyaan yang kini mengemuka adalah bagaimana dunia tinju akan merespons insiden ini. Apakah akan ada evaluasi lebih ketat terhadap protokol keselamatan saat sparing? Atau justru semakin banyak atlet yang memilih untuk lebih berhati-hati dalam menjalani karier mereka? Pemulihan Chapman sendiri masih panjang, dan dukungan dari seluruh komunitas tinju, termasuk dari Indonesia, tentu akan sangat berarti baginya.



