Pesta Glasgow Berakhir, Masa Depan Commonwealth Games Kembali Dipertanyakan
Baca dalam 60 detik
- Glasgow 2026 sukses besar dengan 674 medali dan 434 ribu tiket terjual, namun masa depan ajang ini masih belum pasti.
- Ahmedabad, India, ditunjuk sebagai tuan rumah 2030, tetapi biaya yang membengkak dan minimnya minat global menjadi tantangan.
- Kehadiran atlet-atlet muda berbakat menjadi harapan baru, tetapi tanpa dukungan penuh dari negara-negara besar, Commonwealth Games bisa kehilangan pamor.

Glasgow menutup perhelatan Commonwealth Games 2026 dengan sukacita, tetapi di balik euforia itu, pertanyaan besar tentang keberlanjutan ajang olahraga antarnegara Persemakmuran ini kembali mengemuka. Setelah 11 hari kompetisi yang memecahkan rekor partisipasi, kini semua mata tertuju pada Ahmedabad, India, yang akan menjadi tuan rumah pada 2030—sekaligus perayaan 100 tahun ajang ini.
Keberhasilan Glasgow menjadi penyelamat setelah Victoria, Australia, mundur pada 2023 lalu, memang patut diacungi jempol. Lebih dari 434 ribu tiket terjual, dan ribuan penonton memadati venue-venue yang lebih kecil dibanding edisi Birmingham 2022. Namun, angka itu masih jauh dari 1,5 juta tiket yang terjual empat tahun lalu. Meski demikian, atmosfer di setiap arena terasa hidup, dengan momen-momen heroik seperti kemenangan Josh Kerr di nomor mil di Scotstoun Stadium atau kejutan Jamaika yang mengalahkan Australia di netball.
Namun, di balik kemeriahan itu, ada kegelisahan yang tak kunjung padam: apakah ajang ini masih relevan di mata dunia? Beberapa bintang besar seperti Keely Hodgkinson dan Dina Asher-Smith absen, dan tanpa siaran langsung di Inggris, banyak momen berlalu begitu saja. Organisator memang mengklaim catatan penonton televisi di Australia dan Selandia Baru memecahkan rekor, tetapi di negara lain, perhatian terhadap ajang ini tampak meredup.
Kekhawatiran yang sama juga disuarakan oleh Raghu Iyer, CEO Asosiasi Olimpiade India. "Saya tidak berpikir ada yang bisa memberikan jaminan," ujarnya kepada BBC Sport, merespons pertanyaan tentang kepastian Ahmedabad sebagai tuan rumah. Pernyataan itu menjadi pengingat bahwa masa depan Commonwealth Games masih diselimuti ketidakpastian, terutama setelah mundurnya Victoria yang sempat mengguncang eksistensi ajang ini.
Bagi Indonesia, dinamika ini menarik untuk dicermati. Meski bukan bagian dari Persemakmuran, keberlanjutan ajang ini bisa menjadi indikator tren olahraga global. Indonesia, yang tengah giat membangun infrastruktur olahraga dan berambisi menjadi tuan rumah event internasional, bisa belajar dari tantangan yang dihadapi Glasgow—mulai dari masalah pendanaan hingga minat publik. Keberhasilan Glasgow dalam menggelar acara dengan skala lebih ramping namun tetap meriah bisa menjadi inspirasi bagi Indonesia dalam mengelola event olahraga besar di masa depan.
Ahmedabad, yang akan menggunakan stadion kriket berkapasitas 120.000 penonton bernama Perdana Menteri Narendra Modi, diharapkan bisa membawa semangat baru. Namun, biaya yang membengkak—hampir dua kali lipat dari anggaran Glasgow—menjadi pekerjaan rumah tersendiri. Selain itu, kembalinya cabang olahraga seperti kriket, menembak, panahan, dan hoki, yang diusulkan India, akan menambah kompleksitas logistik dan finansial.
Di sisi lain, ajang ini tetap menjadi panggung penting bagi atlet-atlet muda dan negara-negara kecil. Filip Nowacki, perenang 18 tahun asal Jersey, menjadi salah satu bintang baru yang bersinar. Emma Finucane, pebalap sepeda Inggris, berhasil mengonversi tiga medali Olimpiade Paris menjadi empat emas Commonwealth. Bagi mereka, ajang ini adalah batu loncatan menuju Olimpiade Los Angeles 2028.
Tarona Taafaki, atlet asal Tuvalu yang meraih medali pertama bagi negaranya, menyatakan, "Ini adalah awal, dan ini baru permulaan dari apa yang bisa Tuvalu raih di masa depan." Semangat seperti inilah yang membuat Commonwealth Games tetap relevan, setidaknya bagi negara-negara berkembang.
Namun, dengan perubahan jadwal ke Oktober untuk Ahmedabad—yang akan membebaskan atletik dari bentrok dengan Kejuaraan Eropa—justru memperpanjang musim kompetisi yang sudah padat. Para atlet akan dihadapkan pada pilihan sulit: berlaga di Commonwealth Games atau fokus pada kejuaraan lainnya. Pertanyaannya, mampukah Ahmedabad memberikan kepastian yang tidak bisa diberikan Glasgow? Atau justru menjadi ajang pamungkas sebelum Commonwealth Games benar-benar kehilangan daya tariknya?



