Musim Penuh O'Neill di Celtic: Antara Rekor 99 Poin dan Ancaman Krisis Rekrutan
Baca dalam 60 detik
- Catatan 2,6 poin per laga O'Neill di dua periode interim musim lalu berpotensi melesatkan Celtic ke 99 poin dalam semusim penuh, menyamai torehan era emasnya.
- Rekrutan anyar Kasper Hogh dan Camilo Duran menelan biaya gabungan £15 juta, tetapi hanya dua dari 17 pemain masuk dalam setahun terakhir yang diproyeksikan menjadi starter.
- Kegagalan lolos ke Liga Champions untuk kedua kalinya beruntun bisa memangkas belanja klub dan memicu hengkangnya bintang-bintang seperti Arne Engels.

Martin O'Neill, manajer berusia 74 tahun yang baru dikukuhkan sebagai pelatih permanen Celtic, menghadapi musim penuh pertamanya dengan beban ekspektasi ganda: mempertahankan gelar ganda domestik sekaligus mengakhiri puasa 20 tahun di Liga Champions. Namun, di balik optimisme rekrutan anyar, klub Skotlandia itu masih dihantui persoalan klasik: ketimpangan antara ambisi papan atas dan realitas kedalaman skuad.
Musim lalu, Celtic nyaris kehilangan mahkota liga sebelum gol telat Daizen Maeda dan gol kacau Callum Osmand memastikan gelar di laga pamungkas melawan Hearts. Kemenangan di Piala Skotlandia sepekan kemudian menegaskan status O'Neill sebagai penyelamat, tetapi perjalanan itu meninggalkan banyak pekerjaan rumah. Dari 82 poin yang dikumpulkan Celtic sepanjang musim, 59 di antaranya lahir dari 23 laga di bawah arahan O'Neill—rata-rata 2,6 poin per pertandingan. Jika diproyeksikan ke 38 laga, angka itu setara 99 poin, mendekati total 97-103 poin yang pernah ia raih di era kejayaannya dua dekade lalu.
Namun, proyeksi matematis itu berbanding terbalik dengan aktivitas transfer yang masih minim. Hingga saat ini, hanya dua wajah baru yang direkrut: striker Kasper Hogh dengan rekor transfer klub dan Camilo Duran dari Qarabag. Kombinasi keduanya menelan biaya sekitar £15 juta, tetapi dari 17 pemain yang masuk dalam 12 bulan terakhir, hanya Kieran Tierney dan Benjamin Nygren yang diprediksi menjadi starter reguler. Kepergian Maeda ke Ipswich, plus ketidakpastian masa depan Arne Engels, memicu kekhawatiran suporter akan kualitas skuad yang justru menipis.
O'Neill sendiri menegaskan tidak akan berpuas diri. "Kami harus bergerak maju bersama," ujarnya, sembari mengisyaratkan formasi baru dengan memainkan Hogh dan Duran bersamaan di lini depan—pergeseran dari pola 4-3-3 yang selama ini menjadi ciri khas Celtic. Dukungan staf pelatih seperti Shaun Maloney dan Mark Fotheringham, yang dikenal dengan pendekatan taktis ala sepak bola Jerman intensitas tinggi, diharapkan mampu menambah dimensi baru permainan tim. Kehadiran pelatih bola mati Ross Grant dari Hearts juga menjadi sinyal perbaikan di sektor yang kerap diabaikan.
Di luar lapangan, tekanan finansial menjadi momok. Jika Celtic gagal melewati play-off Liga Champions pada 18-19 dan 25-26 Agustus mendatang, maka untuk kedua kalinya beruntun mereka akan absen dari kompetisi paling bergengsi di Eropa. Padahal, pendapatan dari Liga Champions sangat krusial untuk belanja pemain di sisa bursa transfer. Ketua eksekutif Michael Nicholson dan pemegang saham utama Dermot Desmond berjanji menyiapkan tim secara matang, tetapi suporter masih skeptis melihat hanya dua rekrutan yang datang. Kegagalan lolos musim lalu, saat tersingkir oleh Kairat Almaty di babak kualifikasi, menjadi pelajaran pahit yang tak ingin diulang.
Catatan Eropa O'Neill memang tidak bisa diremehkan. Sebagai pemain, ia dua kali menjuarai Piala Eropa bersama Nottingham Forest, dan sebagai manajer pernah membawa Celtic ke final Piala UEFA 2003. Namun, sudah lebih dari dua dekade ia tidak menukangi tim di Liga Champions. Kemenangan tandang atas Stuttgart di Europa League musim lalu, plus hasil imbang di Bologna dengan 10 pemain, menunjukkan kapasitas taktiknya di panggung Eropa. Meski begitu, pertanyaan besar tetap menggantung: akankah dewan klub memberikan dukungan belanja yang cukup, atau sejarah kegagalan musim lalu akan terulang?
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kisah O'Neill ini menarik karena merefleksikan dilema klasik klub besar di liga kecil: bagaimana mempertahankan dominasi domestik sambil bersaing di level tertinggi Eropa. Celtic, seperti halnya klub-klub Asia Tenggara yang kerap mendominasi liga lokal, menghadapi tantangan mempertahankan pemain bintang dan menarik talenta baru tanpa daya tarik kompetisi elite. Keputusan O'Neill dalam beberapa pekan ke depan—baik di bursa transfer maupun di lapangan—akan menjadi ujian apakah ia mampu membawa Celtic kembali ke peta Eropa, atau justru terjebak dalam siklus mediokritas.



