Dari Karyawan Subway ke Liga Champions: Kisah Jacob Bergstrom dan Mjallby yang Menggetarkan Swedia
Baca dalam 60 detik
- Jacob Bergstrom, striker Mjallby, berhasil menembus Liga Champions setelah sebelumnya bekerja paruh waktu di Subway dan bermain di liga amatir hingga usia 22 tahun.
- Mjallby, klub dari desa Hallevik dengan populasi kurang dari 1.000 jiwa, menjadi desa terkecil kedua yang menjadi tuan rumah laga Liga Champions, mengalahkan berbagai klub besar Eropa.
- Kisah ini menyoroti fenomena 'underdog' yang menginspirasi, di mana klub kecil dengan sumber daya terbatas mampu bersaing di level tertinggi Eropa, memberikan pelajaran berharga bagi klub-klub Asia Tenggara termasuk Indonesia.

Jacob Bergstrom, striker berusia 31 tahun yang pernah bekerja di Subway untuk menyambung hidup, kini bersiap menghadapi legenda Manchester City, Yaya Toure, di babak kualifikasi Liga Champions. Perjalanan kariernya yang tak lazim—dari pemain amatir hingga mencetak gol di debut Liga Champions—menjadi simbol kebangkitan klub kecil Mjallby yang berbasis di desa Hallevik, Swedia.
Bergstrom tidak pernah menembus akademi muda dan masih bermain di level amatir saat berusia 22 tahun. Bahkan setelah bergabung dengan Mjallby pada 2018, ia tetap bekerja di Subway hingga akhirnya menjadi profesional penuh di usia 24 tahun. Kini, ia telah membantu Mjallby meraih gelar juara Swedia dan Piala Swedia untuk pertama kalinya dalam sejarah 87 tahun klub, serta mencetak gol di laga debutnya di Liga Champions.
Keberhasilan Mjallby musim lalu menjadi sorotan dunia, terutama karena lokasi klub yang terpencil. Hallevik, desa nelayan dengan populasi kurang dari 1.000 jiwa, mendadak menjadi pusat perhatian setelah Mjallby lolos ke fase grup Liga Champions. Stadion Strandvallen, yang hanya berkapasitas 6.500 penonton, harus dibatasi menjadi 3.500 untuk laga Eropa karena regulasi UEFA. Meski demikian, atmosfer pertandingan tetap meriah, dengan ribuan suporter yang datang dari berbagai penjuru wilayah Blekinge.
Fenomena Mjallby menarik untuk dibandingkan dengan klub-klub di Indonesia yang sering kali kesulitan bersaing di level Asia. Kisah Bergstrom dan Mjallby membuktikan bahwa keterbatasan geografis dan finansial tidak menghalangi ambisi besar. Di Indonesia, klub-klub seperti Persikabo 1973 atau PSIS Semarang yang berbasis di kota kecil juga memiliki potensi untuk berkembang jika dikelola dengan baik dan memiliki dukungan komunitas yang kuat.
Bergstrom, yang dikenal sebagai pemain pekerja keras dengan tinggi 6 kaki 3 inci, telah menjadi idola bagi pendukung Mjallby. Ia sering bersepeda ke stadion dan tetap rendah hati meski telah meraih kesuksesan. "Saya tidak pernah membayangkan bisa berada di sini," ujarnya kepada BBC Sport. "Bermain di Liga Champions bersama Mjallby adalah sesuatu yang luar biasa."
Kapten Mjallby, Jesper Gustavsson, juga memiliki kisah perjuangan yang menginspirasi. Ia adalah satu-satunya pemain yang tersisa dari tim yang nyaris terdegradasi ke divisi empat pada 2016. "Saat itu kami berpikir untuk berhenti, tapi kami terus berjuang dan sekarang saya hidup dalam mimpi bersama Mjallby," katanya. Semangat pantang menyerah inilah yang membuat Mjallby dijuluki sebagai tim kejutan di Eropa.
Kini, Mjallby akan menghadapi Slovan Bratislava, tim juara Slovakia 24 kali yang dilatih oleh Yaya Toure. Toure, yang memenangkan Liga Champions bersama Barcelona pada 2009, mengakui bahwa Mjallby memiliki "sesuatu yang tidak dimiliki tim lain". Pertandingan pertama akan berlangsung di Strandvallen, dan Mjallby dijamin setidaknya tampil di Liga Conference musim ini jika gagal melaju lebih jauh.
Kisah Mjallby dan Bergstrom memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya kerja keras, kesederhanaan, dan dukungan komunitas. Bagi Indonesia, ini menjadi pengingat bahwa sepak bola bukan hanya tentang kota besar atau klub kaya, tetapi juga tentang mimpi dan dedikasi. Apakah akan ada klub seperti Mjallby di Indonesia yang mampu menembus level tertinggi Asia? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi kisah ini membuktikan bahwa segalanya mungkin terjadi.



