Kuwaki Juara Women's Open Setelah Play-off Dramatis, Henseleit Jadi Korban Insiden Marshal
Baca dalam 60 detik
- Pegolf Jepang Shino Kuwaki mengamankan gelar mayor pertamanya di Royal Lytham usai menaklukkan Esther Henseleit dalam babak play-off yang menegangkan.
- Insiden tidak biasa terjadi ketika drive Henseleit membentur marshal lapangan dan memantul ke semak-semak, mengubah arah pertandingan secara drastis.
- Kemenangan ini menandai kali keempat gelar Women's Open diraih pegolf Jepang, sekaligus menjadi momentum kebangkitan golf Asia di pentas dunia.

Shino Kuwaki, pegolf asal Jepang, keluar sebagai juara Women's Open 2025 setelah melewati babak play-off yang penuh kejutan melawan Esther Henseleit di Royal Lytham & St Annes, Minggu (28/7). Kemenangan ini terasa istimewa karena hanya setahun sebelumnya ia gagal melewati cut di turnamen yang sama, dan kini ia membawa pulang hadiah utama senilai ยฃ1,11 juta atau sekitar Rp22 miliar.
Babak final yang berlangsung dramatis itu mempertemukan dua pegolf dengan performa terbaik di hari terakhir. Henseleit, yang sempat tertinggal, memaksa play-off setelah melakukan birdie luar biasa dari jarak 45 kaki di hole ke-18. Namun, nasib berkata lain ketika pada hole ke-18 yang kedua, drive Henseleit mengenai marshal lapangan dan memantul ke semak-semak, membuatnya gagal menyelamatkan par dan harus menyerahkan kemenangan kepada Kuwaki.
Kuwaki, yang sebelumnya lima kali menjuarai turnamen di Jepang, mengaku tidak percaya dengan pencapaiannya. "Saya hanya fokus pada setiap pukulan dan berusaha menikmati permainan. Ini luar biasa bisa menang di panggung sebesar ini," ujarnya. Kemenangan ini juga menegaskan dominasi Jepang di ajang ini, menjadikannya pegolf Jepang keempat yang meraih gelar tersebut.
Di sisi lain, Henseleit, yang akan tampil di Solheim Cup September mendatang, harus mengakui ketidakberuntungannya. "Saya memberi diri saya kesempatan untuk menang hari ini, tetapi sedikit kurang beruntung di play-off," katanya. Meski demikian, penampilannya yang konsisten sepanjang turnamen patut diacungi jempol, terutama setelah berhasil bangkit dari dua bogey beruntun di hole 8 dan 9.
Persaingan di papan atas sebenarnya didominasi oleh Yealimi Noh, yang memimpin tiga stroke setelah 54 hole. Namun, Noh yang berusia 25 tahun itu gagal mempertahankan keunggulannya dan harus puas finis satu stroke di belakang Kuwaki. Sementara itu, Nelly Korda, pegolf nomor satu dunia, harus menyesali double-bogey di ronde ketiga yang membuatnya kehilangan peluang grand slam karier.
Bagi Indonesia, kemenangan Kuwaki menjadi pengingat akan perkembangan golf Asia yang semakin pesat. Dengan semakin banyaknya turnamen internasional yang digelar di kawasan ini, diharapkan dapat memacu prestasi pegolf Tanah Air untuk bersaing di level tertinggi. Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah golf Asia, khususnya Jepang, akan terus mendominasi panggung dunia, atau justru muncul kekuatan baru dari negara lain seperti Indonesia?



