Fin Graham Raih Perak di Velodrome: Kecewa karena Format Balapan Diubah Mendadak
Baca dalam 60 detik
- Pebalap para-sepeda Skotlandia, Fin Graham, harus puas dengan medali perak setelah format nomor pursuit diubah menjadi time trial oleh UCI.
- Graham mengaku kecewa karena kehilangan kesempatan emas dan momen mendengar lagu kebangsaan di kandang sendiri pada ajang Commonwealth Games.
- Keputusan UCI untuk menggunakan format time trial pada balapan antar-klasifikasi memicu perdebatan tentang sportivitas dan pengalaman penonton.

Fin Graham, pebalap para-sepeda asal Skotlandia, harus mengubur mimpinya untuk meraih emas di nomor pursuit 3km C1-C3 pada Commonwealth Games 2026 di Glasgow. Ia hanya mampu membawa pulang medali perak setelah finis di belakang wakil Inggris, Matthew Robertson. Padahal, sehari sebelumnya, Graham telah mempersembahkan perunggu di nomor time trial 1000m.
Kekecewaan Graham bukan tanpa sebab. Ia mengaku telah mempersiapkan diri untuk bertarung head-to-head dalam format pursuit, di mana dua pebalap saling mengejar dari sisi lintasan yang berlawanan. Namun, seminggu sebelum balapan, panitia mengumumkan perubahan format menjadi time trial, di mana pebalap berlomba sendirian melawan waktu. Keputusan ini diambil berdasarkan kebijakan lama UCI, badan pengatur olahraga sepeda internasional, untuk menghindari ketimpangan performa yang terlalu mencolok ketika pebalap dari klasifikasi berbeda bertanding dalam satu nomor.
"Saya tidak akan berbohong, emas adalah target utama saya. Ini kesempatan sekali seumur hidup untuk mendengar lagu Flower of Scotland di tanah sendiri. Jadi, wajar jika saya merasa kecewa," ujar Graham kepada BBC Sport Scotland. Meski demikian, ia berusaha menerima keputusan tersebut. "Atlet selalu dihadapkan pada rintangan dan perubahan aturan. Keputusan sudah dibuat, kita tidak bisa terus meratapinya."
Perubahan format ini memicu perdebatan di kalangan penggemar dan atlet. Sebagian menilai kebijakan UCI memang diperlukan demi keadilan, mengingat perbedaan klasifikasi dapat menciptakan kesenjangan yang signifikan. Namun, Graham dan beberapa pihak lain berpandangan bahwa format pursuit justru lebih menarik bagi penonton dan memberikan pengalaman balap yang sesungguhnya. "Sebagai pebalap, kami ingin bertarung langsung dengan lawan di lintasan. Tapi, entah mengapa mereka mengubahnya di awal pekan ini. Kami harus beradaptasi," tambahnya.
Bagi para penggemar olahraga di Indonesia, kisah Graham menyoroti pentingnya fleksibilitas atlet dalam menghadapi perubahan regulasi. Di kancah olahraga nasional, atlet sering dihadapkan pada situasi serupa, misalnya perubahan jadwal atau format kompetisi yang mendadak. Hal ini menuntut mentalitas yang kuat dan kemampuan adaptasi yang cepat, sebagaimana ditunjukkan Graham.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah UCI akan meninjau kembali kebijakan ini, terutama untuk ajang sebesar Commonwealth Games. Akankah mereka mempertimbangkan aspek hiburan dan sportivitas yang lebih tinggi dalam format pursuit? Atau justru kebijakan ini akan dipertahankan demi keadilan antar-klasifikasi? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi yang jelas, para atlet seperti Graham harus terus berjuang di tengah ketidakpastian aturan.



