Ulos Naik Kelas: Perajin Bertransformasi, Indonesia Fashion Week 2026 Jadi Panggung Kebangkitan Wastra Batak
Baca dalam 60 detik
- Perajin ulos kini merambah pasar non-Batak dengan inovasi warna pastel dan desain modern, harga mulai Rp1 juta hingga Rp20 juta.
- Setelah nyaris punah pada 1980-an, industri ulos bangkit dan menjadi sorotan utama IFW 2026 yang mengusung tema 'Ulos Simetria'.
- Kolaborasi desainer Torang Sitorus dan APPMI di IFW 2026 menjadi sinyal kuat bagi pertumbuhan ekonomi kreatif berbasis wastra di Indonesia.

JAKARTA, LyndHub โ Geliat industri kain ulos di daerah tidak lagi bisa dipandang sebelah mata. Desainer sekaligus pegiat ulos, Torang Sitorus, menilai para perajin telah menunjukkan lompatan inovasi yang signifikan, sebuah perkembangan yang terlihat jelas dalam ajang Indonesia Fashion Week (IFW) 2026 yang berlangsung di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, pada 29 Juli hingga 2 Agustus 2026.
Menurut Torang, banyaknya gerai yang menjual ulos di pameran tersebut menjadi indikator nyata bahwa industri ini sedang menggeliat. "Penenun-penenun sudah berinovasi," ujarnya saat temu media di sela-sela IFW 2026. Ia menambahkan, para perajin kini semakin terbuka terhadap perubahan zaman, tidak lagi terpaku pada pakem tradisional, melainkan berani mengeksplorasi desain dan warna yang lebih relevan bagi generasi muda dan masyarakat luas di luar suku Batak.
Inovasi tersebut tidak hanya berhenti pada desain. Para perajin juga mulai menggunakan warna-warna pastel dan nuansa alam yang lebih lembut, sebuah pergeseran dari palet warna asli ulos yang cenderung tegas. Rentang harga yang ditawarkan pun bervariasi, mulai dari Rp1 juta hingga di atas Rp20 juta, tergantung pada tingkat kerumitan dan detail desain. Hal ini menunjukkan bahwa ulos tidak lagi hanya menjadi kain adat yang sakral, tetapi juga komoditas fesyen yang dapat diakses berbagai kalangan.
Kebangkitan ini terasa semakin heroik jika mengingat sejarah kelam industri ulos pada era 1980-an. Torang menggarisbawahi bahwa modernisasi dan industrialisasi yang deras saat itu hampir mematikan para penenun tradisional. "Itu membunuh saudara-saudara penenun di daerah," kenangnya. Namun, kini jumlah perajin justru bertambah, sebuah bukti bahwa ekosistem ulos mampu beradaptasi dan bangkit dari keterpurukan.
IFW 2026 sendiri mengangkat tema "Ulos Simetria" yang menekankan keseimbangan antara tradisi dan inovasi, kearifan lokal dan persaingan global, serta nilai budaya dan masa depan industri kreatif. Kolaborasi Torang dengan Ketua Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) sekaligus Presiden IFW, Poppy Dharsono, menjadi simbol nyata dari sinergi antara perajin dan desainer profesional. Ajang ini diharapkan tidak hanya menjadi panggung pameran, tetapi juga katalis bagi penguatan ekosistem fesyen Indonesia secara keseluruhan, melibatkan ratusan desainer, pemilik merek, hingga pelaku UMKM.
Bagi Indonesia, kebangkitan ulos ini memiliki arti strategis. Di tengah gempuran produk fesyen global, wastra nusantara seperti ulos menjadi pembeda yang kuat. Kehadiran ulos di panggung IFW 2026 bukan sekadar perayaan budaya, melainkan juga pernyataan bahwa industri kreatif Indonesia siap bersaing di kancah internasional dengan mengusung identitas lokal. Pertanyaan besarnya, apakah momentum ini akan mampu mendorong kebijakan yang lebih berpihak pada perajin dan memperkuat rantai pasok wastra nasional? Jawabannya akan menentukan apakah ulos akan tetap menjadi primadona atau kembali meredup setelah lampu panggung padam.



