Warisan Chris Rea Tembus Rp240 Miliar, Royalti Lagu Natal Terus Mengalir ke Istri
Baca dalam 60 detik
- Dokumen probate Pengadilan Tinggi Inggris mengungkap kekayaan bersih Chris Rea mencapai £12 juta, diserahkan penuh kepada istrinya, Joan.
- Lagu 'Driving Home for Christmas' yang awalnya kurang sukses kini menjadi aset abadi, masuk chart setiap tahun dan menjadi sumber royalti utama.
- Kisah hidup Rea, dari perjuangan melawan kanker pankreas hingga kesetiaan pada musik, meninggalkan warisan yang melampaui nilai materi.

Pengadilan Tinggi Inggris baru saja menerbitkan dokumen probate yang mengungkap kekayaan mendiang musisi Chris Rea mencapai £12 juta atau sekitar Rp240 miliar. Seluruh aset tersebut diwariskan kepada istrinya, Joan, termasuk hak cipta dan royalti dari lagu-lagu legendarisnya yang masih terus mengalir.
Rea, yang tutup usia tiga hari sebelum Natal tahun lalu di umur 74 tahun, meninggalkan wasiat yang menempatkan sebagian besar hartanya dalam perwalian untuk Joan. Berdasarkan catatan yang dilansir The Sun, nilai bruto estate mencapai £14,4 juta sebelum dipotong pajak dan biaya administrasi, sehingga bersih menjadi £12.063.178. Wasiat setebal 19 halaman itu ditandatangani pada Oktober 2025, dua bulan sebelum kematiannya.
Keputusan ini menegaskan bahwa Joan, pendamping hidupnya selama 57 tahun, akan menerima barang pribadi serta pendapatan masa depan dari karya-karya Rea. Ini termasuk royalti dari lagu 'Driving Home for Christmas' yang setiap tahun kembali menghiasi tangga lagu Inggris sejak 2007, meski awalnya hanya mencapai posisi 53 saat rilis 1986. Puncak popularitasnya terjadi pada 2021 ketika berhasil menembus posisi 10.
Warisan musikal Rea tidak berhenti pada lagu Natal tersebut. Album-album seperti 'The Road to Hell' dan 'Auberge' pernah menjadi nomor satu di Inggris, sementara single 'Fool (If You Think It's Over)' mengantarnya meraih nominasi Grammy untuk Best New Artist pada awal karier. Sepanjang lebih dari empat dekade, ia merilis 25 album studio dan menjadi salah satu musisi Inggris yang paling dihormati.
Di balik kesuksesan itu, tersimpan kisah perjuangan yang luar biasa. Rea didiagnosis menderita kanker pankreas pada usia 33 tahun. Ia menjalani sembilan operasi selama beberapa dekade, menghabiskan lebih dari 32 minggu di rumah sakit. Pankreas, kantung empedu, dan sebagian hatinya diangkat, yang kemudian memicu diabetes tipe 1. Meski demikian, ia tetap berkarya hingga akhir hayatnya.
“Saya hampir mengalami gangguan saraf karena syok. Itu adalah gunung Everest yang harus saya daki,” kenang Rea tentang masa-masa sulitnya.
Inspirasi lagu 'Driving Home for Christmas' sendiri lahir dari perjalanan bersama Joan dari London ke utara Inggris dengan mobil Mini. Saat itu Rea baru saja dipecat manajernya dan dilarang mengemudi, sehingga Joan yang membawanya pulang. Kemacetan dan perjalanan panjang itu justru melahirkan melodi dan lirik yang menjadi salah satu lagu Natal paling dicintai di Inggris.
Bagi pendengar di Indonesia, lagu Rea mungkin tidak setenar di Eropa, tetapi kisahnya relevan dengan industri musik global yang semakin mengandalkan royalti digital. Fenomena lagu yang kembali populer setiap tahun seperti 'Driving Home for Christmas' menunjukkan bahwa karya berkualitas bisa menjadi aset jangka panjang, bahkan melampaui masa hidup penciptanya. Ini menjadi pelajaran berharga bagi musisi Tanah Air tentang pentingnya melindungi hak cipta dan mengelola warisan musikal.
Setelah kepergian Rea, rekan-rekan dan labelnya memberikan penghormatan. Komedian Bob Mortimer menyebutnya sebagai “pria yang luar biasa, brilian, dan lucu”, sementara BMG, label rekamannya, memuji karya Rea yang “emosional, jujur, dan penuh keahlian”. Penampilan TV terakhirnya adalah di acara 'Mortimer and Whitehouse: Gone Fishing' pada 2020, yang syuting di kampung halamannya, Middlesbrough.
Dengan warisan yang kini dikelola Joan, pertanyaan besarnya adalah bagaimana royalti dari lagu-lagu Rea akan terus dimanfaatkan di masa depan. Apakah akan ada proyek arsip atau dokumenter yang menghidupkan kembali karyanya? Yang jelas, nama Chris Rea akan terus dikenang, tidak hanya melalui lagu-lagunya yang abadi, tetapi juga melalui ketahanan dan dedikasinya pada musik yang ia cintai.



