Bella Thorne Buka Suara soal Rivalitas dengan Zendaya: 'Kami Diadu oleh Industri'
Baca dalam 60 detik
- Bella Thorne mengaku sempat kesal karena sering dibanding-bandingkan dengan Zendaya saat membintangi Shake It Up.
- Ia menilai industri hiburan kerap mengadu aktris cilik, sebuah pola yang menurutnya akar dari patriarki.
- Meski sempat renggang, keduanya berhasil memperbaiki hubungan lewat percakapan di tengah syuting crossover.

Bella Thorne, aktris yang namanya melejit lewat sitkom Disney Channel Shake It Up, akhirnya angkat bicara tentang pengalamannya kerap diadu dengan lawan mainnya, Zendaya. Dalam wawancara terbaru di podcast Call Her Daddy, perempuan 28 tahun itu mengungkapkan rasa frustrasinya yang sempat terpendam selama bertahun-tahunโsebuah pengakuan yang menyoroti sisi gelap industri hiburan remaja yang jarang terungkap.
Thorne dan Zendaya sama-sama membintangi Shake It Up dari 2010 hingga 2013. Di permukaan, keduanya tampil sebagai sahabat karib di layar. Namun di balik kamera, Thorne merasa ada tekanan halus untuk saling bersaing. "Saya ingat saat pertama kali bertemu, saya langsung menyukainya. Chemistry kami memang yang terbaik," ujarnya. "Tapi kemudian mereka mulai membanding-bandingkan kami, dan itu membuat saya kesal."
Perbedaan kemampuan menjadi salah satu pemicu. Thorne mengakui Zendaya lebih lihai menari, sementara ia harus berlatih keras untuk mengejar ketertinggalan. "Saya bukan penari. Ibu saya bilang, 'Kamu harus berlatih.' Selama tujuh bulan, saya mengambil tiga kelas dansa sehari, sambil tetap mengikuti audisi," kenangnya. Kegigihan itu menunjukkan betapa kompetitifnya dunia akting cilik, di mana setiap kelemahan bisa menjadi bahan perbandingan.
Yang lebih menyakitkan, menurut Thorne, adalah cara industri memperlakukan dua aktris muda. "Orang-orang tidak bisa menerima dua perempuan memimpin sebuah acara bersama. Patriarki sudah melakukan ini sejak dulu," tegasnya. "Saat melihat ke belakang, saya berpikir, 'Mereka baru berusia 12 tahun. Apa yang salah dengan kalian? Kalian orang dewasa.'" Kritik ini menggarisbawahi pola lama di Hollywood yang kerap mengadu domba perempuan, bahkan sejak usia belia.
Hubungan keduanya sempat memburuk, seperti diakui Thorne. "Kami seharusnya berteman baik, dan karakter kami memang sahabat. Tapi keadaan menjadi cukup buruk," katanya. Puncaknya terjadi saat syuting crossover dengan Good Luck Charlie. Di tengah rekaman langsung, Thorne dan Zendaya memutuskan kabur ke set lain yang kosong untuk berbicara dari hati ke hati. "Kami tahu kami punya tiga adegan lagi sebelum tampil. Kami bilang, 'Ayo kita bicara.' Kami bersembunyi di soundstage lain, dan kru sempat mencari kami," ceritanya. Momen itu menjadi titik balik yang memperbaiki hubungan mereka.
Pengalaman Thorne ini relevan bagi industri hiburan Indonesia, yang juga tak asing dengan praktik mengadu aktor atau aktris muda. Fenomena "saingan" sering dibangun media dan rumah produksi untuk meningkatkan daya tarik, tanpa memikirkan dampak psikologis pada para remaja. Kisah Thorne bisa menjadi pengingat bahwa di balik gemerlap panggung, ada tekanan yang nyata.
Ke depannya, pertanyaan yang mengemuka adalah: apakah industri hiburan akan berubah? Dengan semakin banyaknya aktor muda yang berani bersuara, seperti Thorne, mungkin ada harapan untuk lingkungan yang lebih sehat. Namun, tanpa perubahan struktural, pola mengadu domba ini bisa terus berulang. Akankah para pemangku kepentingan di Indonesia mau belajar dari kasus ini?



