Capgemini Ramal Lonjakan Modernisasi TI Multi-Tahun: Jalan Terjal Menuju Era AI
Baca dalam 60 detik
- CEO Capgemini menyatakan adopsi AI skala besar terhambat sistem lawas dan data terfragmentasi, memicu siklus investasi modernisasi selama bertahun-tahun.
- Perusahaan global beralih dari proyek AI eksperimental ke program transformasi besar, mendorong permintaan overhaul infrastruktur teknologi.
- Fenomena ini membuka peluang dan tantangan bagi Indonesia, terutama dalam hal kesiapan ekosistem digital dan talenta AI.

Korporasi yang ingin memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) secara masif harus terlebih dahulu merombak sistem teknologi yang telah berusia puluhan tahun. Pernyataan ini disampaikan Aiman Ezzat, CEO Capgemini, pada Kamis (30/7) saat mengumumkan target pertumbuhan pendapatan 2026 yang lebih tinggi setelah lonjakan pemesanan.
Dalam konferensi dengan analis, Ezzat menjelaskan bahwa hambatan terbesar adopsi AI bukanlah akses terhadap model, melainkan warisan sistem lama, data yang tersebar di berbagai platform tidak kompatibel, serta infrastruktur teknologi kompleks yang terbentuk selama puluhan tahun. "Setiap organisasi hari ini ingin menjadi agenik—sistem AI yang mampu melakukan tugas multi-langkah. Namun sebelum itu, mereka harus siap AI, dan sebagian besar belum siap," ujar Ezzat.
Capgemini menyebut fenomena ini sebagai "siklus super modernisasi multi-tahun." Perusahaan diprediksi akan menggelontorkan investasi besar-besaran untuk memperbarui pondasi teknologi mereka, mulai dari platform data, aplikasi, hingga infrastruktur inti. Ezzat menambahkan bahwa banyak perusahaan terhambat oleh utang teknis yang menumpuk, membuat data berserakan di sistem yang saling tidak terhubung. Akibatnya, alat AI kesulitan mengakses informasi andal atau menjalankan tugas lintas organisasi secara konsisten.
Pernyataan Ezzat mencerminkan tren industri yang lebih luas. Menurut riset Gartner, pengeluaran global untuk layanan TI diperkirakan tumbuh 9% pada 2025, dengan belanja AI menjadi katalis utama. Namun, pertumbuhan tersebut tidak merata. Banyak perusahaan di negara berkembang, termasuk Indonesia, masih bergulat dengan infrastruktur digital dasar. Hal ini menjadi perhatian serius, mengingat Indonesia tengah gencar mendorong adopsi AI di sektor pemerintahan dan bisnis melalui strategi nasional kecerdasan buatan.
Konteks Indonesia: Meskipun adopsi AI di tanah air belum semasif negara maju, lonjakan investasi modernisasi global bisa menjadi peluang bagi penyedia jasa TI lokal. Perusahaan konsultan multinasional seperti Capgemini mungkin akan memperluas operasi ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia, untuk memenuhi permintaan upgrade infrastruktur. Di sisi lain, kesiapan talenta dan regulasi menjadi tantangan. Tanpa fondasi data yang rapi dan tenaga ahli AI, perusahaan Indonesia berisiko tertinggal dalam perlombaan ini.
Ezzat juga menekankan bahwa AI tidak hanya menciptakan permintaan untuk kemampuan bisnis baru, tetapi juga mempercepat modernisasi fondasi teknologi. "AI bukan hanya mendorong permintaan akan kapabilitas baru, tapi juga mempercepat modernisasi fondasi teknologi yang menjadi tumpuan kapabilitas tersebut," tegasnya. Perusahaan tetap bersedia berinvestasi di AI, namun belanja menjadi lebih terarah. Klien kini lebih memprioritaskan program transformasi berskala besar dibandingkan eksperimen atau proyek rintisan yang berdiri sendiri.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: akankah gelombang modernisasi ini bersifat inklusif, atau justru memperlebar kesenjangan digital antara negara maju dan berkembang? Bagi Indonesia, momentum ini harus dimanfaatkan dengan memperkuat infrastruktur data dan sumber daya manusia agar tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga pemain dalam rantai nilai AI global.



