Anak Muda Korea Selatan Buktikan AI dan Membaca Bisa Berjalan Seiring
Baca dalam 60 detik
- Tingkat partisipasi membaca di Korea Selatan anjlok ke 38,5% pada 2025, namun kelompok usia 20-30 tahun justru menjadi pengecualian dengan angka di atas 66%.
- Generasi muda yang juga merupakan pengguna AI paling aktif ini mendorong kebangkitan industri penerbitan, terlihat dari lonjakan pengunjung pameran buku dan pertumbuhan pendapatan penerbit tertentu.
- Fenomena ini menimbulkan pertanyaan bagi Indonesia: bisakah adopsi AI yang tinggi di kalangan anak muda juga dimanfaatkan untuk meningkatkan minat baca yang selama ini rendah?

Di tengah tren penurunan minat baca orang dewasa di Korea Selatan, sebuah fenomena menarik justru muncul dari kelompok usia 20โ30 tahun. Mereka yang tercatat sebagai pengguna kecerdasan buatan (AI) paling aktif ternyata juga menjadi motor kebangkitan industri buku, membalikkan asumsi bahwa layar dan algoritma hanya menggerus kebiasaan literasi.
Berdasarkan Survei Membaca Nasional 2025 yang dirilis Kementerian Kebudayaan Korea Selatan, proporsi warga dewasa yang membaca setidaknya satu buku setahun merosot dari 72,2 persen pada 2013 menjadi hanya 38,5 persen. Namun angka untuk kelompok usia 20-an justru mencapai 75,3 persen, dan usia 30-an sebesar 66,4 persen. Survei terpisah dari Kementerian Sains menunjukkan bahwa kelompok usia yang sama juga mendominasi penggunaan AI generatif, masing-masing 75,3 persen dan 71,1 persen.
Keterkaitan antara kecintaan pada buku dan teknologi ini nyata terlihat pada Seoul International Book Fair yang digelar akhir Juni lalu. Antrean panjang mengular di luar COEX Convention Center sejak pukul 10 pagi. Jumlah pengunjung tahun ini melonjak menjadi sekitar 160.000, naik 60 persen dari 100.000 pada 2022 dan 2023. Penerbit Minumsa menjadi salah satu bintang dengan pendapatan yang meningkat 23,8 persen di saat pasar buku secara keseluruhan justru menyusut 6,9 persen, mendorong peringkatnya dari ke-11 menjadi ke-8 di antara penerbit besar.
Fenomena yang dijuluki "text-hip" โ membaca dianggap keren โ menyebar luas lewat media sosial. Banyak pengunjung pameran berfoto di stan penerbit dan membagikan kutipan buku favorit. Oh Da Young, mahasiswi 21 tahun, mengaku membaca 24 buku tahun lalu, sepuluh kali lipat rata-rata nasional. Ia lebih memilih buku fisik karena "saat benar-benar membeli buku dengan uang sendiri, kamu merasa memilikinya." Oh juga menggunakan aplikasi Repov untuk mencatat bacaan dan memanfaatkan AI untuk tugas kuliah.
Namun hubungan AI dengan membaca tak selalu harmonis. Park Ji Yong, pengunjung pameran berusia 34 tahun, justru menggunakan Google Gemini untuk mendalami sastra, seperti menanyakan referensi dalam novel Haruki Murakami. Sementara Kim Han Bi (21) memilih menghindari AI karena dianggap sumbernya tidak dapat dipercaya, lebih suka merujuk langsung ke buku dan jurnal ilmiah. Menariknya, Oh berteori bahwa ledakan membaca justru dipicu oleh AI: "Orang-orang menggunakan AI begitu banyak sehingga kehilangan waktu untuk membaca dan berpikir, lalu mereka sadar harus kembali ke buku untuk membentuk ide dan mengekspresikan diri."
Kisah sukses Korea Selatan ini memberi pelajaran berharga bagi Indonesia, di mana tingkat kegemaran membaca masih rendah dan penetrasi AI di kalangan muda juga tinggi. Alih-alih memusuhi teknologi, penerbit dan pegiat literasi dapat menjadikan AI sebagai pintu masuk untuk mendorong kebiasaan membaca, misalnya melalui rekomendasi buku yang dipersonalisasi atau diskusi online yang menarik. Pertanyaan besarnya: mampukah Indonesia meniru langkah Seoul untuk mengubah pengguna AI menjadi pembaca setia?



