Konflik Timur Tengah Ancam Akhir Musim F1 2026, Domenicali Siapkan Opsi Eropa
Baca dalam 60 detik
- Presiden F1 Stefano Domenicali mengumumkan bahwa seri penutup musim 2026 di Qatar dan Abu Dhabi terancam batal jika konflik di Timur Tengah berlanjut, dengan keputusan final pada pertengahan September.
- Sebagai antisipasi, F1 telah membatalkan GP Bahrain dan Saudi, menggantinya dengan Malaysia, dan tengah menyiapkan skenario akhir musim di Eropa, dengan Sirkuit Imola sebagai kandidat utama.
- Di tengah ketidakpastian geopolitis, perdebatan teknis soal mesin baru 50-50 hybrid juga memanas, dengan FIA mendorong kembalinya mesin V8, sementara Domenicali menargetkan konsensus aturan mesin baru pada akhir tahun.

Formula 1 mengancam akan memindahkan seri penutup musim 2026 ke Eropa jika konflik Timur Tengah terus berlanjut. Presiden F1 Stefano Domenicali menegaskan bahwa keputusan final mengenai nasib Grand Prix Qatar dan Abu Dhabi akan diambil pada pertengahan September mendatang.
Domenicali mengungkapkan bahwa kedua balapan tersebut saat ini masih dikonfirmasi dan tiketnya sudah habis terjual. Namun, ia tidak menutup kemungkinan pembatalan jika situasi keamanan memburuk. "Jika tidak memungkinkan, akhir musim akan berlangsung di Eropa, karena kami tidak bisa pergi ke tempat lain," ujarnya dalam konferensi pers, seperti dilansir BBC Sport.
Langkah antisipatif ini bukan tanpa dasar. F1 sebelumnya telah membatalkan Grand Prix Bahrain dan Arab Saudi yang dijadwalkan pada April akibat perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Sebagai gantinya, Malaysia akan menggelar balapan pada September atas nama Bahrain. Meski dengan 21 seri balapan F1 sudah memenuhi kontrak komersial, Domenicali bersikeras menambah satu balapan lagi setelah Grand Prix Las Vegas pada 21 November.
Domenicali juga membahas kemungkinan menggelar dua balapan di Las Vegas, namun ia menolak karena ingin menjaga nilai prestise ajang tersebut dan menghindari bentrok dengan NFL yang tengah populer di Amerika Serikat. "Kami tidak ingin merusak permata yang sedang tumbuh dengan meremehkan apa yang kami lakukan di sana," katanya.
Di luar masalah geopolitik, F1 juga dihadapkan pada kontroversi teknis. Mesin hybrid anyar dengan pembagian 50:50 antara pembakaran internal dan listrik menuai kritik dari para pembalap, termasuk Fernando Alonso yang menyebut tikungan cepat menjadi "stasiun pengisian baterai". Domenicali membela performa mesin tersebut, menilai dampak di lintasan sangat positif bagi penggemar. "Mereka tidak memahami teknologi, pembagian 'clipping', atau apa pun, karena terlalu teknis untuk basis penonton yang lebih luas," ujarnya.
"Jika ada konsensus mengenai apa yang kami lakukan, untuk mengantisipasinya, perlu ada tata kelola yang tepat dengan tim dan pabrikan. Banyak pembicaraan bagus yang sedang berlangsung." โ Stefano Domenicali
Sementara itu, presiden FIA Mohammed Ben Sulayem mendorong kembalinya mesin V8 naturally aspirated untuk regulasi 2030/2031, dan mengancam akan memberlakukannya secara sepihak karena kontrak tim habis pada 2030. Domenicali menargetkan draf regulasi mesin baru selesai dibahas akhir tahun ini, dengan tetap mempertahankan elemen elektrifikasi yang relevan dengan mobil jalan raya. Bagi penggemar F1 di Indonesia, perkembangan ini menjadi perhatian mengingat Malaysia, tetangga dekat, kembali menjadi tuan rumah dan potensi Indonesia sebagai pasar baru terus tumbuh.
Ke depan, keputusan Domenicali pada September akan menentukan apakah F1 mampu mempertahankan kalender global tanpa mengurangi kualitas kompetisi. Pertanyaannya, akankah konflik Timur Tengah mereda cukup cepat untuk menyelamatkan dua seri terakhir yang sudah laris terjual?



