Como Larang Heading di Akademi U-12, Langkah Berani Lindungi Otak Anak
Baca dalam 60 detik
- Klub Serie A Como melarang latihan sundulan bagi pemain akademi di bawah 12 tahun untuk mengurangi risiko cedera otak.
- Kebijakan ini didorong oleh mantan bek Real Madrid dan Manchester United, Raphael Varane, yang duduk di jajaran pendidikan klub.
- Pendekatan ini menekankan pengembangan teknik dengan bola di tanah dan pengenalan heading bertahap menggunakan bola karet ringan.

Klub Serie A Como secara resmi melarang pemain akademi yang berusia di bawah 12 tahun untuk melakukan sundulan, menjadikannya salah satu klub top Eropa pertama yang mengambil langkah drastis demi melindungi kesehatan otak pemain muda. Langkah ini merupakan respons terhadap seruan mantan bek timnas Prancis, Raphael Varane, yang selama ini vokal tentang bahaya benturan kepala di sepak bola.
Dalam pernyataan resminya, Como menyatakan bahwa larangan ini akan digantikan dengan fokus pada pengembangan teknis jangka panjang, terutama meningkatkan waktu penguasaan bola dan kemampuan pengambilan keputusan. Pemain baru akan diperkenalkan teknik heading secara bertahap ketika dinilai sudah siap, dengan pengawasan ketat. Kebijakan ini berlaku untuk semua kelompok usia, dengan aturan khusus: pemain di bawah 11 tahun tidak diperbolehkan melakukan sundulan sama sekali, sehingga tendangan sudut diganti dengan lemparan ke dalam yang dimainkan di permukaan tanah.
Varane, yang kini duduk di Como Board of Education, menekankan pentingnya aturan yang jelas dan pembinaan yang baik. “Untuk pemain muda, pendekatan terbaik adalah aturan yang jelas, pelatihan yang baik, pemahaman, dan budaya yang mengutamakan kesejahteraan serta keselamatan,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa jalur ini mengurangi kontak yang tidak perlu pada usia saat otak masih berkembang, lalu mengajarkan teknik dengan benar secara bertahap.
Langkah Como ini memicu diskusi di Indonesia tentang perlindungan pemain muda. Saat ini, PSSI belum memiliki regulasi spesifik mengenai latihan heading di kelompok usia dini. Banyak akademi lokal masih mengajarkan sundulan sejak usia 8-10 tahun tanpa mempertimbangkan risiko jangka panjang. Padahal, penelitian medis di luar negeri menunjukkan bahwa benturan kepala berulang dapat meningkatkan risiko gangguan kognitif di kemudian hari, meskipun bola modern lebih ringan. Jika Como berhasil membuktikan model ini efektif, bisa menjadi acuan bagi federasi sepak bola Asia Tenggara, termasuk Indonesia, untuk merevisi kurikulum pelatihan usia muda.
Ke depan, tantangan terbesar bukan hanya mengubah kebiasaan latihan, tetapi juga mengedukasi orangtua dan pelatih bahwa sepak bola tidak selalu identik dengan sundulan keras. Como telah berani melangkah; saatnya liga-liga lain, termasuk di Indonesia, mempertimbangkan bukti ilmiah demi masa depan pemain yang lebih sehat.



