Elliot Anderson: Dari Wallsend ke Rekor Transfer City, Kini Targetkan Puncak Karier
Baca dalam 60 detik
- Manchester City resmi mengikat Elliot Anderson dengan kontrak lima tahun senilai £116 juta, menjadikannya rekor transfer termahal klub saat itu.
- Gelandang 23 tahun itu menempuh jalur klasik pembinaan Inggris: dari Wallsend Boys Club, akademi Newcastle, hingga menembus timnas Inggris di Piala Dunia.
- Anderson bergabung di tengah transisi besar City pasca-kepergian Pep Guardiola, dengan Enzo Maresca sebagai nahkoda baru.

Elliot Anderson resmi menjadi pemain termahal dalam sejarah Manchester City setelah ditebus dari Nottingham Forest dengan nilai mencapai £116 juta atau setara Rp2,3 triliun. Gelandang berusia 23 tahun itu menandatangani kontrak berdurasi lima tahun dan akan bergabung dengan skuad asuhan Enzo Maresca setelah menjalani libur pasca-Piala Dunia 2026.
Anderson bukanlah nama yang tiba-tiba melambung. Ia mengawali karier di Wallsend Boys Club, sebuah klub amatir di Tyneside yang juga melahirkan legenda seperti Alan Shearer dan Peter Beardsley. Dari sana, ia menapaki jenjang akademi Newcastle United, sempat dipinjamkan ke Bristol Rovers, lalu menembus tim utama The Magpies. Pada 2024, ia pindah ke Nottingham Forest dengan banderol £35 juta dan tampil dalam 92 pertandingan di semua ajang, mencetak enam gol serta 11 assist.
Statistik Premier League musim lalu menempatkan Anderson sebagai pemain Inggris terbaik dalam hal membawa bola (ball carries) dan pemain dengan umpan terbanyak di sepertiga akhir lapangan. Gaya bermainnya yang all-action—kombinasi kualitas teknis, fisik, dan energi—dinilai cocok untuk memperkuat lini tengah City yang sudah dihuni Rodri, Phil Foden, Mateo Kovacic, dan lainnya.
Kedatangan Anderson bertepatan dengan era baru di Etihad Stadium. Pep Guardiola hengkang setelah satu dekade penuh trofi, digantikan Enzo Maresca yang sebelumnya menukangi Leicester City dan Chelsea. Anderson mengaku terkesan dengan gaya bermain Maresca dan sudah mendengar pujian dari para pemain Chelsea. “Saya sangat menantikan bekerja dengannya. Tim-timnya selalu menarik untuk ditonton,” ujarnya dalam pernyataan resmi klub.
Meski langkah Inggris di Piala Dunia 2026 terhenti di semifinal oleh Argentina, Anderson menilai turnamen tersebut sebagai pengalaman positif. “Secara pribadi, saya menikmatinya dan merasa tampil cukup baik. Tentu ada kekecewaan karena kami gagal melaju, tapi dukungan seluruh negeri luar biasa,” katanya.
Keputusan Anderson memilih City tidak lepas dari reputasi klub sebagai mesin trofi. “Mereka pemenang, tanpa henti. Itulah tipe tim yang saya inginkan—juara dan orang-orang yang haus gelar. Dalam 10-12 tahun terakhir, mereka mendominasi,” tegasnya.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, pergerakan Anderson menjadi cermin bagaimana pembinaan usia dini yang sistematis—seperti Wallsend Boys Club—mampu menghasilkan talenta kelas dunia. Sementara Indonesia masih bergulat dengan infrastruktur dan kurikulum pembinaan, kisah Anderson bisa menjadi studi kasus tentang pentingnya ekosistem klub akar rumput yang terintegrasi dengan akademi profesional.
Pertanyaan kini mengarah pada adaptasi Anderson di bawah Maresca. Mampukah ia mengisi kekosongan yang ditinggalkan Guardiola dan menjadi motor baru lini tengah City? Atau justru tekanan harga mahal akan membebani langkahnya? Jawabannya baru akan terlihat saat Premier League 2026/27 bergulir.



