Laba Bank Mandiri Tembus Rp30,4 Triliun, Kredit UMKM Tumbuh 9 Kali Lipat Industri
Baca dalam 60 detik
- Bank Mandiri membukukan laba bersih Rp30,4 triliun pada semester I-2026, naik 24,4% year-on-year, didorong ekspansi kredit dan pendapatan digital.
- Kredit UMKM perseroan tumbuh sembilan kali lebih cepat dari rata-rata industri, menandakan fokus pada sektor riil dan padat karya.
- Manajemen optimistis kinerja berkelanjutan didukung fundamental kuat, namun investor perlu mencermati risiko suku bunga dan tekanan global.

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) mencatat laba bersih Rp30,4 triliun sepanjang paruh pertama 2026, melesat 24,4% dibanding periode sama tahun lalu. Pencapaian ini menegaskan posisi bank pelat merah sebagai motor pertumbuhan kredit nasional di tengah ketidakpastian global.
Direktur Utama Bank Mandiri Riduan mengaitkan lonjakan laba dengan ketahanan ekonomi domestik yang diproyeksikan tumbuh di atas 5% pada kuartal II-2026. Menurutnya, aktivitas ekonomi yang solid dan kinerja fiskal pemerintah yang kuat menjadi penopang utama. "Dengan fundamental tersebut, kami harapkan rupiah bisa menguat dan menjaga kepercayaan investor," ujarnya dalam paparan daring, Kamis (23/7).
Ekspansi kredit menjadi motor utama pertumbuhan. Total penyaluran kredit BMRI mencapai Rp1.592 triliun, tumbuh 19,9% year-on-year—hampir dua kali lipat rata-rata industri. Yang menonjol, kredit ke segmen Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) melesat sembilan kali lebih cepat dibanding pertumbuhan industri perbankan nasional. Riduan menekankan bahwa pertumbuhan ini tetap berfokus pada aktivitas ekonomi riil yang produktif dan padat karya.
Dari sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 17,1%, juga melampaui pertumbuhan industri. Kualitas aset tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah (NPL) gross di level 0,98% dan coverage ratio stabil 242%. Direktur Keuangan dan Strategi Bank Mandiri Novita Widya Anggraini menjelaskan bahwa pertumbuhan volume bisnis tidak mengorbankan kualitas aset. "Cost of credit stabil di 0,52%, menunjukkan manajemen risiko yang prudent," katanya.
Pendapatan bunga bersih (NII) tumbuh 8%, namun kontribusi pendapatan non-bunga juga signifikan. Pendapatan recurring dari aplikasi Livin' by Mandiri melonjak 46%, Kopra by Mandiri naik 22,8%, dan transaksi treasury tumbuh 32%. Hal ini menunjukkan transformasi digital berhasil mendiversifikasi sumber pendapatan perseroan.
Bagi investor, kinerja BMRI memberikan sinyal positif di tengah tekanan sektor perbankan global. Namun, perlu dicermati bahwa pertumbuhan kredit yang agresif—terutama ke sektor UMKM—berpotensi meningkatkan risiko kredit jika kondisi ekonomi memburuk. Bank Mandiri mengklaim NPL tetap rendah, namun investor harus memantau perkembangan rasio kredit bermasalah ke depan, terutama jika suku bunga acuan kembali naik.
Manajemen optimistis dapat mempertahankan momentum pertumbuhan berkat fundamental yang kuat dan strategi bisnis yang terarah. Riduan menegaskan, "Kami optimistis BMRI dapat menghadirkan kontribusi positif, sehat, dan signifikan dalam memperkuat ekonomi nasional yang berkelanjutan." Pertanyaannya, mampukah Bank Mandiri menjaga keseimbangan antara ekspansi dan kualitas aset di tengah dinamika global yang masih tidak menentu?



