Transaksi Rupiah-Yuan Melonjak 300%, Kadin Sebut LCT Sukses Besar
Baca dalam 60 detik
- Volume transaksi langsung antara rupiah dan yuan melesat tiga kali lipat menjadi US$ 60 miliar per tahun.
- Kadin menilai keberhasilan Local Currency Transaction (LCT) ini didorong oleh meningkatnya perdagangan dan investasi bilateral dengan China.
- Bank Indonesia akan memperluas sosialisasi LCT untuk memperkuat stabilitas keuangan domestik dan mengurangi ketergantungan pada dolar AS.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Bakrie, mengungkapkan bahwa transaksi perdagangan langsung antara rupiah dan yuan melalui mekanisme Local Currency Transaction (LCT) mencatat lonjakan hingga 300 persen. Nilai transaksi kini mencapai US$ 60 miliar per tahun, naik signifikan dari sebelumnya US$ 30 miliar.
Dalam pernyataannya, Anindya menyebut pencapaian ini sebagai bukti keberhasilan kerja sama antara Bank Indonesia (BI) dan Bank of China dalam memfasilitasi perdagangan bilateral tanpa perantara dolar AS. "Dimulai dengan US$ 30 miliar, sekarang menuju US$ 60 miliar. Dan sebulan lalu kami ke BI, transaksi langsung rupiah-yuan sudah naik 300 persen. Ini luar biasa," ujarnya.
Tak hanya LCT, penggunaan sistem pembayaran QRIS di China juga menunjukkan pertumbuhan pesat. Anindya mengaitkan peningkatan ini dengan derasnya arus perdagangan dan investasi antara Indonesia dengan China dan Hong Kong. Menurutnya, kemudahan transaksi dalam mata uang lokal menjadi faktor kunci yang mendorong volume perdagangan.
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menambahkan bahwa pertumbuhan LCT tidak hanya terjadi dengan China, tetapi juga dengan Jepang. BI memfasilitasi pasar spot untuk yuan dan yen terhadap rupiah, sehingga investor dan pedagang tidak perlu lagi bergantung pada kurs di luar negeri. "Mereka butuh kurs yuan dan yen bisa domestik. Apalagi perdagangan dengan China dengan LCT US$ 9 miliar per Mei," kata Destry dalam Investment Forum 2026.
Ke depan, BI berkomitmen untuk memperdalam sosialisasi LCT guna memperluas dampak positifnya terhadap stabilitas keuangan Indonesia. Destry menekankan bahwa pengelolaan transaksi dalam mata uang lokal dapat mengurangi tekanan nilai tukar dan memperkuat ketahanan ekonomi nasional. "Kalau kita bisa manage, ini bisa kasih dampak positif ke ekonomi," paparnya.
Bagi pelaku usaha di Indonesia, perkembangan ini membuka peluang untuk bertransaksi dengan mitra dagang di China tanpa khawatir fluktuasi dolar AS. Namun, tantangan masih ada, terutama dalam hal literasi dan adopsi LCT di kalangan UKM. Pertanyaannya, seberapa cepat BI dan Kadin dapat memperluas penggunaan LCT ke sektor-sektor yang lebih luas?



