Danantara Resmi Kuasai Empat Manajer Investasi BUMN, Kelola Dana Rp170 Triliun
Baca dalam 60 detik
- PT Danantara Asset Management mengakuisisi empat manajer investasi BUMN dengan total dana kelolaan lebih dari Rp170 triliun.
- Langkah ini merupakan bagian dari konsolidasi untuk membentuk perusahaan manajemen aset terbesar di Indonesia.
- Merger ditargetkan rampung dalam sebulan, memperkuat posisi ritel dan institusi di pasar modal nasional.

PT Danantara Asset Management (DAM) resmi mengakuisisi empat perusahaan manajer investasi milik BUMN setelah menandatangani perjanjian pembelian saham pada 22 Juli 2026. Langkah ini langsung mengguncang industri manajemen aset nasional karena total dana kelolaan yang beralih ke tangan Danantara mencapai lebih dari Rp170 triliun per Juni 2026.
Keempat perusahaan yang diakuisisi adalah PT Mandiri Manajemen Investasi (MMI), PT BRI Manajemen Investasi (BRI MI), PT BNI Asset Management (BNI AM), dan PT PNM Investment Management (PNM IM). Dengan pengambilalihan ini, Danantara tidak hanya memperbesar portofolio, tetapi juga mengonsolidasikan kekuatan di sektor jasa keuangan yang selama ini terfragmentasi.
Chief Operating Officer Danantara Indonesia, Dony Oskaria, menegaskan bahwa akuisisi ini bukan sekadar transaksi jual-beli saham. Menurutnya, ini adalah langkah strategis untuk membangun entitas baru yang lebih kompetitif di kancah nasional. "Kami akan memastikan seluruh kekuatan ini diarahkan melalui strategi dan tata kelola yang lebih baik, sehingga mampu tumbuh lebih kuat dan memberikan nilai tambah bagi perekonomian Indonesia," ujarnya dalam siaran pers, Kamis (22/7/2026).
Dony mengungkapkan bahwa dalam satu bulan ke depan, keempat perusahaan akan digabungkan menjadi satu entitas. Perusahaan hasil merger ini diklaim akan menjadi perusahaan manajemen aset terbesar di Indonesia. Proses integrasi ini merupakan bagian dari program streamlining yang tengah dijalankan Danantara. Model bisnis terintegrasi diharapkan mampu memperluas akses investasi bagi investor ritel maupun institusi, serta menghadirkan solusi yang lebih kompetitif.
Direktur Utama Mandiri Manajemen Investasi, Hardiyanto Pilia, menilai konsolidasi ini sebagai fondasi penting untuk membangun institusi dengan skala dan tata kelola yang lebih kuat. Di segmen ritel, perusahaan hasil merger akan mengembangkan produk investasi tematik dan memperluas distribusi melalui jaringan bank Himbara. Langkah ini didukung oleh pertumbuhan jumlah Single Investor Identification (SID) yang telah melampaui 20 juta investor. Sementara di segmen institusi, perusahaan akan memperkuat kapabilitas pengelolaan investasi melalui perluasan basis investor dan penyediaan solusi yang lebih komprehensif.
Direktur Utama BRI Manajemen Investasi, Arief Budiman, menambahkan bahwa penggabungan ini menjadi momentum strategis untuk memperdalam penetrasi pasar ritel. Hingga Juni 2026, BRI MI mengelola AUM sebesar Rp52,61 triliun dengan basis nasabah ritel yang kuat. "Dengan kekuatan jaringan distribusi dan basis investor ritel yang terus berkembang, penggabungan ini akan memperluas akses masyarakat terhadap produk investasi yang terpercaya sekaligus mempercepat pendalaman pasar modal," pungkasnya.
Direktur Utama BNI Asset Management, Ari Adil, menyebut BNI AM memiliki AUM sebesar Rp29,59 triliun dengan komposisi bisnis yang seimbang antara ritel dan institusi. Ia optimistis penggabungan ini akan memperkuat kapasitas pengelolaan investasi nasional melalui sinergi keahlian, inovasi produk, dan penguatan tata kelola. Sementara itu, Direktur Utama PNM Investment Management, Ade Santoso Djajanegara, menekankan pengalaman PNM IM dalam investasi inklusif dengan AUM Rp10,31 triliun akan melengkapi kekuatan entitas hasil konsolidasi. "Kolaborasi ini menjadi langkah penting untuk membangun institusi manajer investasi yang tidak hanya semakin kuat secara bisnis, tetapi juga mampu memperluas manfaat ekonomi dan mendorong pertumbuhan yang lebih berkelanjutan," ujarnya.
DAM menyatakan proses integrasi akan dilakukan secara bertahap dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian, kepatuhan terhadap regulasi, serta menjaga kesinambungan layanan bagi nasabah dan mitra usaha. Pertanyaan besarnya kini: akankah konsolidasi ini benar-benar menciptakan raksasa manajemen aset yang mampu bersaing dengan pemain global, atau justru menghadapi tantangan integrasi budaya dan operasional yang kompleks?



